
Selina terus mengurung diri di kamarnya. Semua orang mencoba untuk berbicara kepadanya namun sama sekali tak dihiraukan tak terkecuali Aldho.
"Selina sayang, ini kakek. Kamu belum tidur kan? Boleh kakek mengobrol sebentar?" Namun saat mendengar Pak Tirta entah kenapa Selina menjadi luluh. Dia perlahan membuka pintu kamarnya yang sejak tadi di kunci.
"Boleh kakek masuk?" Selina mengangguk dan dia kembali duduk di atas ranjangnya.
"Sayang bagaimana jalan-jalanmu hari ini? Sepertinya seru" Pak Tirta mencoba memulai pembicaraan.
Selina mengangguk pelan. "Kakek, kenapa semua orang membohongiku? Kenapa Papa tidak bilang jika dia bukan Papa kandungku?" sambil berkaca-kaca Selina mencoba untuk mencari tahu.
Pak Tirta membelai rambut cucu semata wayangnya itu. "Papamu sangat ingin mengatakannya tapi dia tidak tega. Dia tidak ingin menyakiti perasaan bidadari kecilnya."
"Tapi kalau aku anak Daddy Roger apa Papa tidak menyayangiku lagi? Apa aku tidak boleh panggil papa lagi?" air mata meleleh membasahi wajah cantik gadis itu.
"Tidak sayang, selamanya Papa ya tetap Papa kamu. Seperti kakek dan nenek menyayangi Papa kamu meskipun dia bukan anak kandung kakek"
"Jadi papa bukan anak kakek?" Selina terkejut.
Pak Tirta mengangguk dan akhirnya mereka menceritakan bagaimana Aldho menjadi putranya.
Meskipun masih kecil namun Selina mampu memahaminya. Hanya saja Pak Tirta belum bisa menceritakan perbuatan Roger terhadap Cindy hingga adanya dirinya. Dia tidak ingin membuat cucunya membenci Roger ayah kandungnya sendiri.
Semalaman Aldho merasa sulit tidur. Penyesalannya terhadap Selina membuatnya terus terjaga. Setelah mendengar ucapan Roger Selina tidak mau menemui Aldho.
Hanya Pak Tirta yang menemani cucunya selebihnya Selina tidak mau bertemu yang lain.
"Sayang, kok belum tidur sih" gumam Cindy saat Aldho terus bergerak tak bisa tidur.
"Aku terus memikirkan Selina. Aku takut dia terus marah kepadaku Cindy" kegelisahan Aldho tak dapat dibendung.
"Iya sayang tapi ini sudah malam, Selina pasti juga sudah tidur. Besok pagi saja ya kita bicara padanya" Cindy kini menyelimuti tubuh Aldho dan memeluknya. Tak lupa ciuman-ciuman kecil di pipinya untuk menenangkan laki-laki itu.
.
Keesokan paginya Aldho bergegas menuju kamar Selina. Dia benar-benar ingin bertemu dengan putrinya.
"Selina, boleh Papa masuk?" Aldho mengetuk pintu kamar Selina.
Tak lama kemudian Selina membuka pintu kamarnya. Selina mengulas senyum kepada Aldho dan kemudian meraih tangan Papanya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Mereka berdua duduk di sofa kamar Selina. Tangan kecil itu masih memegang tangan Aldho.
"Papa, maafkan Selina ya, kemarin Selina sudah marah kepada Papa"
"Papa yang minta maaf sayang, Papa belum bisa menjadi Papa yang baik untukmu." Aldho tak kuasa menahan air matanya.
"Tidak, Papa adalah Papa terbaik untukku. Aku sayang Papa" Selina mengusap air mata Aldho dan memeluknya.
Cindy yang melihat kedua insan tersebut begitu terharu. Kasih sayang Aldho yang luar biasa terhadap Selina membuat dirinya merasa bahagia sekaligus sedih.
Bahagia karena Selina memiliki ayah sambung yang sangat baik dan menyayanginya. Sedih karena merasa dirinya dan Roger gagal menjadi orang tua untuk Selina.
orang tua macam apa aku ini? Aku meninggalkan anakku sendiri demi egoku, permintaan maaf dan penyesalan benar-benar tidak ada artinya namun mereka masih mau menerima dan mencintaiku.
Dalam batin Cindy ada rasa berkecamuk. Perbuatannya di masa lalu memang tak bisa diubah kembali. Dia kehilangan masa-masa indah mengasuh putrinya hingga kini beranjak menjadi seorang gadis kecil. Air mata pun meleleh membasahi pipi Cindy.
"Mama, kesini" Selina menyadari keberadaan Mamanya dan memintanya untuk bergabung.
Cindy berjalan menghampiri mereka dan Aldho langsung memeluk Cindy begitupun Selina yang begitu bahagia bersembunyi diantara tubuh Mama dan Papanya. Pemandangan pagi yang begitu indah.
"Papa, apa ini sakit?" Selina menunjuk luka lebam di pipi Aldho.
Selina hendak pergi mengambil salep namun segera dicegah oleh Aldho.
"Obatnya dicium saja sayang" Mendengar ucapan Aldho segera Selina mencium pipi Papanya dengan begitu lembut.
"Masih sakit?" tanya Selina lagi.
"Sedikit lagi, tapi kali ini obatnya harus dari Mama" goda Aldho.
Wajah Cindy langsung memerah ketika Aldho sengaja menggodanya di depan Selina. Namun Selina yang antusias langsung meminta Cindy untuk menuruti permintaan Papanya.
Saat Cindy hendak mencium pipi Aldho dengan refleks Aldho langsung menoleh dan akhirnya mencium bibirnya.
"Aaa... Papa... Malu tau." teriak Selina langsung kabur dari Papanya.
"Akhh..." Cindy langsung mencubit perut Aldho dan dia menjerit kecil.
"Dasar, ada anak kok kelakuan tetap aja" gerutu Cindy. Bukannya menurut justru Aldho malah ******* bibir Cindy dengan gemas mumpung Selina pergi.
.
Hari ini Aldho ke rumah sakit dan sorenya ada jadwal mengajar di salah satu kampus kedokteran di kota itu karena sejak setahun lalu Aldho resmi diangkat menjadi dosen.
Setelah mengantar Selina ke sekolah Cindy mampir ke rumah Pak Theo untuk menemui Roger. Dia ingin menyelesaikan semua yang terjadi. Dia tidak tahan melihat Roger dan Aldho yang terus berseteru.
Dia sampai di rumah Pak Theo langsung disambut oleh Bi Lila.
"Bi, Papa ada?" tanya Cindy kepada Bi Lila.
"Ada Non Cindy. Sebentar Bibi panggilkan."
Tak berselang lama Pak Theo datang dan langsung menyambut Cindy.
Cindy menceritakan maksud kedatangannya dan meminta bantuan kepada mertuanya untuk meyakinkan Roger jika Cindy tidak bisa meyakinkan sendiri.
Pak Theo memberitahu Roger bahwa Cindy datang ingin bertemu dengannya. Dengan senang hati Roger ingin menyambut Cindy. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol di kamar Roger.
"Aku sangat senang akhirnya kita bisa memiliki kesempatan untuk bicara berdua" ucap Roger saat Cindy memasuki kamarnya.
"Jangan salah paham Roger. Kedatanganku kesini untuk meluruskan semua masalah yang terjadi. Terutama antara kamu dan Kak Aldho" ujar Cindy.
"Cindy, aku tahu perbuatanku salah saat itu meninggalkanmu. Tapi sejak saat itu aku terus memikirkan mu bahkan aku selalu mencintaimu dan berharap kita bisa memulai semuanya dari awal lagi dan membesarkan Selina bersama" Roger masih berharap kepada Cindy.
"Kita bisa membesarkan Selina bersama-sama tapi bukan berarti aku harus menjalin hubungan denganmu. Ingatlah bahwa aku ini adalah istri dari kakakmu sendiri"
"Tapi kalian menikah karena terpaksa. Aku bisa memberi cinta lebih besar dibanding Aldho. Aku benar-benar mencintaimu Cindy" Roger terus memohon.
"Tidak Roger. Aku mencintai Kak Aldho suamiku. Tanpa dirinya entah mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Dia yang menguatkan aku selama ini. Dia juga yang menerima dan mencintai Selina. Bahkan dia rela menghabiskan waktunya untuk merawat anak kita disaat aku dan kamu pergi meninggalkannya. Kita mungkin bukan orang tua yang sempurna untuk Selina. Namun Kak Aldho adalah Papa yang sempurna untuk dia"
Mendengar penjelasan Cindy membuat Roger merenung dan merasa bersalah karena selama ini telah berpikir buruk tentang Aldho.
"Ada Rebecca, dia sangat mencintaimu. Dia lebih mengerti dirimu dibanding yang lain" ucap Cindy sekali lagi.
"Rebecca? Oh, Rebecca ku" Roger langsung teringat dengan gadis yang selama ini menerima dan mencintai dia apa adanya.
.
...****************...