
"Rebecca hamil?" Aldho dan Cindy terpekik bersamaan.
"Iya, ini sudah masuk bulan ke delapan. Tapi ya begitu..." Pak Anton tak mampu meneruskan ucapannya.
"Ada apa pak?" Cindy semakin dibuat penasaran.
"Tubuhnya semakin kurus dan dokter bilang kehamilannya beresiko jika berat badannya rendah seperti itu. Sedangkan dia terus bersedih" ujar Pak Anton sendu.
Sejenak semua orang diam. Mereka memikirkan keadaan Rebecca.
"Pak, boleh kami bertemu dengannya?" ucap Aldho tiba-tiba.
"Apa tidak merepotkan kalian? Rumah kami jauh dari sini" ujar Pak Anton.
"Pekan depan saya ada libur pak. Jika diperbolehkan kami ingin bertemu Rebecca. Bagaimanapun Rebecca adalah adikku" ujar Aldho.
"Tentu saja boleh Aldho, Bapak akan sangat senang. Semoga dengan kedatangan kalian dia menjadi lebih semangat." ujar Pak Anton.
...****************...
Seminggu berlalu, Aldho dan Cindy serta Baby Al bersiap untuk pergi ke perkebunan anggur Pak Anton tempat tinggal Rebecca.
Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tiga jam sehingga mereka harus mempersiapkan banyak perlengkapan. Terutama untuk Baby Al.
Setelah perjalanan panjang Aldho menyetir sendiri mobilnya akhirnya mereka sampai di lokasi tujuan.
Sepanjang mata melihat adalah hamparan perkebunan anggur yang luas dan indah. Serta sebuah rumah dengan arsitektur klasik yang merupakan kediaman Pak Anton.
Aldho memarkir mobilnya di halaman tersebut dan saat mereka keluar Pak Anton sudah menyambutnya.
"Selamat datang anak-anakku. Bagaimana perjalanan kalian?" sapa Pak Anton.
"Terimakasih pak, perjalanan kami lancar. Baby Al juga tidak rewel sama sekali" ujar Aldho.
"Ayo silahkan masuk" Pak Anton mempersilahkan Aldho dan Cindy memasuki rumah.
Aldho dan Cindy dibuat kagum oleh interior rumah tersebut. Berbagai jenis wine tertata rapi di rak serta bermacam-macam penghargaan tertata rapi di dinding.
Namun satu hal yang paling dia cari adalah keberadaan Rebecca. Cindy terus mencari-cari sosok sahabatnya itu.
"Rebecca hanya ku beritahu bahwa ada kenalan yang datang. Sepertinya dia masih sibuk di dapur" ujar Pak Anton.
Tak berselang lama tampak wanita yang sedang mereka cari.
"Ayah, cookies nya sudah matang. Apa tamunya sudah datang?" suara itu datang bersamaan dengan sosok yang mereka tunggu.
"Rebecca..." Cindy memanggil dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Rebecca hanya bisa diam terpaku melihat sosok yang ada didepannya.
"Ju_Jully... " lidahnya pun kelu.
Pertemuan yang tidak disangka-sangka ini benar-benar menguras emosinya.
Perlahan Cindy berjalan menghampiri sahabatnya itu. Menatap sosok Rebecca yang memang terlihat kurus dengan perut yang membuncit.
Air mata terus mengalir dari sudut netranya. Tak menyangka bahwa pertemuan ini benar-benar terjadi.
Keduanya pun akhirnya saling berpelukan dan menangis. Melepas segala kerinduan yang telah bertumpuk. Tak ada kata-kata apapun dari keduanya. Tapi bahasa tubuh mereka sudah mewakili semua.
"Rebecca aku sangat merindukanmu" ujar Cindy.
"Aku juga merindukanmu Jully."
Kemudian Cindy melepaskan pelukannya. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat Rebecca.
"Keterlaluan kamu Rebecca" protes Cindy.
"Ke_kenapa?" Rebecca pun hanya bisa keheranan.
"Kamu tidak pernah menghubungiku. Padahal kan sudah janji akan mengabari ku saat sampai. Tapi apa ini? Bahkan kamu hamil tidak beritahu?" cerocos Cindy.
"Maaf," Rebecca hanya menunduk lesu.
"Dia.. Dia Alexander?" Rebecca mengetahui nama anak Cindy dari sosial medianya.
Aldho pun mengangguk dan menghampiri dan mengusap kepala Rebecca.
"Apa kabar adikku?" sapa Aldho.
Rebecca langsung mengangguk dan tersenyum. Dia meminta ijin menggendong Baby Al.
Pertemuan ini benar-benar haru. Dia tidak menyangka akan bertemu Cindy dalam keadaan ini.
Mereka benar-benar bahagia dengan pertemuan ini. Aldho sedang sibuk berkeliling melihat pabrik wine sedangkan Cindy dan Rebecca kini sedang berbincang di balkon kamarnya sembari menemani Baby Al yang tertidur.
"Rebecca, apa kamu tidak ingin memberitahu Roger perihal kehamilanmu?" tanya Cindy.
Rebecca hanya tertunduk. Dia masih memikirkan hal itu.
"Aku takut Roger membohongiku lagi" tampak air mata sudah menumpuk tapi sekuat tenaga dia tahan.
"Setahuku Roger sudah tidak seperti itu. Dia telah berubah Rebecca. Dia juga sangat merindukanmu Becca."
Sejenak Rebecca terdiam. Dia mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Aku tahu yang kamu rasakan. Hamil tanpa ada sosok suami didekatmu sangatlah sulit. Apa kamu akan membiarkan anakmu lahir tanpa adanya sosok ayah?" terang Cindy.
"Tapi aku bingung Jully, aku sudah mengambil keputusan. Aku sudah menceraikan Roger, apa dia masih mau menerimaku lagi?" air mata itu akhirnya tak terbendung lagi.
"Semua belum terlambat. Ku mohon kembalilah kepada Roger. Jika bukan karenamu setidaknya ini demi anak di kandunganmu" Cindy meyakinkan.
"Roger pun juga sudah mengalami banyak perubahan. Bahkan Selina sekarang merasa nyaman ikut Roger. Mereka tak terpisahkan." ujar Cindy kembali.
Rebecca pun memikirkan Selina. Dulu mereka selalu bersama. Dan kini rasanya juga sangat merindukannya.
.
Aldho dan Cindy sebenarnya hendak kembali pulang namun Rebecca dan Pak Anton menahannya. Alhasil hanya Aldho yang kembali karena harus kembali kerja dan kuliah.
Cindy dan Baby Al tinggal sementara di sana. Tiga hari kemudian barulah Aldho akan menjemputnya.
Selama itu Cindy juga terus meyakinkan Rebecca untuk kembali dengan Roger. Meski awalnya Rebecca masih bimbang namun akhirnya perlahan dia mulai luluh.
"Rebecca. Aku percaya setelah ini Roger hanya akan mencintaimu. Dia sudah menyesali semua kesalahannya sejak kamu sakit. Dan dia berjanji akan memperbaiki hubungannya denganmu lagi. Apa kamu akan memberi kesempatan untuknya?" ujar Cindy.
"Ba_baiklah... Jika menurutmu itu yang terbaik" ujar Rebecca sedikit terbata.
Cindy sangat bahagia bukan kepalang. Akhirnya dia merasa sangat lega mendengar persetujuan Rebecca.
Dia langsung menghubungi Aldho dan menceritakan semuanya. Sehingga Aldho bisa memberitahu Roger.
Tak ingin berlama-lama Aldho pun akhirnya mencoba untuk memberitahu Roger. Dia menelepon Roger dan mencoba untuk memberitahunya pelan-pelan.
"Roger, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" ujar Aldho.
"Iya ada apa Al? Ini tentang Selina?" ucap Roger.
"Bukan, ini tentang Rebecca"
"Rebecca? Ada apa dengan dia?" seketika jantung Roger berdebar mendengar nama itu.
"Begini, beberapa waktu lalu saat aku mengunjungi Expo, tidak sengaja bertemu dengan Pak Anton ayah Rebecca. Ternyata Rebecca dan ayahnya tinggal disini. Di sebuah perkebunan anggur" ujar Aldho menjelaskan.
Dugaan Roger benar. Rebecca tinggal di perkebunan anggur. Hanya saja sebelumnya dia tidak tahu tempatnya dimana kini rasanya sangat lega mengetahui alamatnya pasti.
"Lalu, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" entah kenapa hatinya berdebar kencang.
"Rebecca..." tiba-tiba lidah Aldho menjadi kelu. Rasanya untuk berucap saja terasa susah.
"Katakan Aldho, ada apa dengan Rebecca.. Apa dia sudah menikah lagi?" Roger menjadi berpikiran buruk sebelum mendengar penjelasan Aldho. Hatinya terasa sangat panas saat ini.
"Tidak Roger. Justru dia hamil. Dia hamil anakmu" tegas Aldho.
"Apa? Rebecca Hamil?"