
Cindy terus menangis dengan histeris membuat semua orang di dalam ruangan itu ikut panik.
Aldho terus mendekap Cindy dengan erat sampai berangsur mulai tenang. Traumanya kembali kambuh dan kondisi Cindy sekarang benar-benar tidak stabil.
Keluarganya sekarang bisa melihat bayi Cindy namun belum diperkenankan untuk bertemu Cindy. Hal itu menjadi pertanyaan besar bagi Viona.
Bagaimana mungkin Cindy tidak mau menerima bayinya sementara dia adalah anak yang dilahirkan sendiri.
Karena penasaran diam-diam Viona memaksa menemui Cindy yang sedang beristirahat di ruang inap. Sementara Aldho masih ke toilet.
"Cindy, apa yang terjadi sayang kenapa kamu tidak mau melihat bayimu sendiri?" tanya Viona.
Cindy yang masih terguncang hanya bisa menangis dan bicara terbata.
"Aku.. Aku... Aku takut. Dia mengingatkanku dengan pria itu..." jawab Cindy dengan suara gemetar.
"Dia? Siapa dia?" Viona semakin penasaran.
Belum sampai Cindy menjawab Aldho sudah keluar dari toilet membuat Viona celingukan.
"Bu Vio, apa yang anda lakukan disini?" tanya Aldho ketika melihat kehadiran Viona.
"Em.. Aldho, aku hanya penasaran dengan keadaan Cindy. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja"
Aldho mendekati Viona dan berbisik.
"Keadaan Cindy masih belum stabil. tolong jangan buat masalah" tatapan Aldho begitu tajam membuat Viona sedikit takut dan langsung meninggalkan ruangan.
Aldho mendengus kesal ketika ibunya mengganggu Cindy. Kemudian dia menghampiri Cindy yang nampak masih terguncang.
"Sayang, makan ya aku suapi biar cepat pulih tenaganya" Aldho mencoba membujuk Cindy kembali agar mau makan. Namun tetap saja Cindy menolak.
Aldho memeluk dan mencium Cindy dengan penuh kasih. Dia tahu saat ini yang paling Cindy butuhkan adalah ketenangan. Aldho berusaha semaksimal mungkin membuat Cindy tenang tak peduli betapa lelahnya dia setelah perjalanan jauh dan langsung mengurus Cindy.
Cindy yang menangis di pelukan Aldho membuat hatinya begitu sesak. Orang yang sangat dia cintai harus kembali menderita. Aldho hanya manusia biasa yang kadang juga bingung harus bagaimana dia bertindak. Rasa takut dan cemas sering meliputi dirinya namun berusaha dia tutupi agar Cindy tidak semakin bersedih.
Setelah beberapa saat Cindy mulai tertidur. Tak lama kemudian Pak Tirta memasuki ruangan dan hendak menggantikan Aldho menjaga Cindy.
"Aldho, keluarlah cari udara segar. Biar ayah yang menjaga Cindy"
"Baik ayah, terimakasih" Aldho hendak berjalan keluar tiba-tiba Pak Tirta merogoh sakunya dan memberikan sebungkus rokok serta korek api kepada Aldho. Seolah mengerti apa yang sedang Aldho rasakan.
Aldho pergi ke area merokok di sudut taman rumah sakit. Dia menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya. Sebenarnya Aldho bukanlah perokok aktif. Hanya dia lakukan saat pikirannya benar-benar suntuk seperti saat ini.
Saat sedang melamun tiba-tiba Mama Grace menghampiri Aldho. Aldho yang melihat Mamanya berdiri disampingnya langsung terkejut dan segera membuang rokok yang dia pegang.
"Emm.. Mama. Maaf ma, Aldho tidak bermaksud..."
Belum sempat Aldho meneruskan ucapannya Mama Grace duduk di samping Aldho lalu mengambil sebatang rokok di dalam bungkusan milik Aldho.
Mama Grace menyalakannya dan mulai menghisapnya perlahan. Tentu saja hal itu membuat Aldho terkejut sekaligus heran. Mamanya yang selama ini dia kenal begitu disiplin dan kritis terhadap kesehatan tiba-tiba merokok di depannya.
"Ma... Mama bagaimana bisa lakukan itu?" Aldho membelalak tak percaya ketika mendapati mamanya begitu berbeda dari biasanya.
"Terkadang mama lakukan saat sedang banyak pikiran." Balas Mama Grace santai.
"Sejak Mama menikah. Ayahmu yang mengajarkannya"
Aldho masih tidak percaya. Tiga puluh tahun menjadi anaknya baru kali ini melihat sisi lain dari mamanya.
"Apa Cindy juga tahu?"
"Tidak, dia tidak tahu dan jangan sampai tahu" Mama Grace kembali menghisap rokoknya.
"Terkadang kita bisa lakukan hal bodoh untuk menenangkan diri. Tapi untuk kali ini jangan coba meniru ayahmu. Jangan sampai Cindy seperti mama, terkontaminasi dengan asap tidak sehat" Mama Grace mengibas-ngibaskan tangannya agar asap rokoknya segera pergi.
Aldho hanya tersenyum melihat tingkah Mamanya yang selalu tak terduga.
"Aldho, mama tahu menikah dengan Cindy memang banyak konsekuensi yang harus kamu terima. Dari kecil mama tidak pernah memaksamu mengambil keputusan. Asal semua itu kamu jalani sepenuh hati mama hanya bisa mendukung dan mendoakanmu yang terbaik"
Aldho merenungi ucapan mamanya. Memang selama ini keluarganya tak pernah memaksanya dalam mengambil segala keputusan. Mulai dari sekolah, pekerjaan hingga menikah semua adalah keputusan Aldho.
"Ma, jika mama berpikir Aldho menikahi Cindy hanya karena kasian itu tidak benar. Aldho sangat mencintainya. Mungkin aneh karena dia tumbuh besar bersamaku sebagai saudara. Tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Bahkan apapun keadaannya" Aldho kini tampak begitu serius.
Mama Grace mematikan rokoknya dan menghirup nafas perlahan. Sambil tersenyum dia mengusap pipi Aldho.
"Mama tahu itu, mama sudah mengetahui sejak kamu masih kuliah dulu. Awalnya mama takut tapi akhirnya mama memahaminya. Putra mama mampu mengambil keputusan dan berani menanggung segala resikonya. Jika kamu mencintai Cindy mama dukung kamu. Apapun keputusanmu mama selalu bersamamu"
Aldho begitu senang mendengar penjelasan mamanya. Baginya tidak ada orang tua sebaik Mama Grace dan Pak Tirta. Mereka yang selalu mendukung dan menyayangi Aldho tanpa membedakan statusnya.
"Mulai sekarang aku akan lebih bersemangat mendukung Cindy dan tak gentar menghadapi Bu Vio" gumam Aldho dalam hati.
.
Aldho menyempatkan waktunya untuk mampir ke ruang bayi. Dia ingin melihat buah hatinya dan kebetulan saat itu sedang menangis. Sementara perawat menyiapkan susu, Aldho dengan sigap menggendong dan menimang bayinya.
Aldho melihat bayi itu yang mulai tenang dan menggeliat di pelukan Aldho. Dipandanginya wajah cantik mungil itu yang sekilas mirip dengan Cindy. Perlahan dia membuka matanya. Mata yang indah berwarna hazel seperti mata Roger. Hal itu pula yang membuat Cindy enggan melihat bayinya.
"Sepertinya dia begitu nyaman digendong papanya. Pak Dokter Aldho saya ucapkan selamat atas kelahiran putri anda." ucap salah satu perawat yang mengurus bayi.
Aldho tersenyum sembari menatap putri kecilnya. Kemudian meraih botol susu yang dibawa oleh perawat tersebut. Dengan telaten Aldho menyusui bayinya.
"Terimakasih banyak, dia adalah malaikat kecil kesayanganku"
"Apa anda sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya perawat itu lagi.
"Belum, tapi aku akan berunding dengan istriku memberi nama siapa"
Para perawat dan dokter yang menangani Cindy sudah mengerti keadaan Cindy dan Dokter Helena sebelumnya sudah menceritakan bagaimana masa lalu Cindy. Mereka semua mengerti dan bahkan ikut prihatin terhadap kejadian yang menimpanya dan sepakat untuk menjaga rahasia ini.
Namun sayang sekali Elisa si perawat yang pernah mengejar Aldho tidak bisa menjaga rahasianya. Sehingga perlahan rumor menyebar di rumah sakit dan mereka mulai membicarakan keduanya.
.
.
...----------------...