
Cindy melihat Aldho sedang membakar daging bersama Windy. Terlihat mereka berbincang-bincang begitu akrab. Hal itu membuat hati Cindy seperti dicubit. Namun Cindy berusaha menahannya. Dia tahu Windy adalah sahabatnya namun dia sebelumnya pernah memergoki jalan bersama Aldho. Mungkin saja jika Cindy tidak menikah dengan Aldho pasti mereka berdua sudah berkencan, pikir Cindy.
"Cindy kemarilah, dagingnya sudah matang" Windy memanggil Cindy yang berada di teras. Bukannya datang Cindy malah pergi dan menghampiri ayahnya yang sedang membantu Mamanya menyiapkan minuman.
"Ayah, sini aku bantu" ucap Cindy seraya menuang sirup yang ada di meja.
"Windy memanggilmu sayang kenapa tidak hampiri dia" ucap Pak Tirta.
"Biar saja" jawab Cindy cuek.
Zara dan Tika sedang berdebat soal mengupas buah. Hal itu mengundang gelak tawa yang lain.
Begitupun Aldho yang tertawa disamping Windy.
"Lihatlah Windy, temanmu itu seperti tom and jerry" ucap Aldho seraya meletakkan daging di piring yang dipegang Windy.
Karena tidak fokus Aldho malah mengenai tangan Windy dengan garpu panas yang dipakai untuk memanggang daging.
"Aww.." pekik Windy.
"aduh, maaf.. maaf Windy aku tidak sengaja," Dengan segera Aldho meletakkan garpu dan langsung memeriksa tangan Windy.
Mengetahui hal itu sontak membuat Cindy terkejut. Dia meremas botol sirup yang dipegangnya dan langsung membuang muka dari pandangan mereka.
Semua sudah siap kini saatnya mereka menyantap hasil masakan yang sudah dibuat.ama Grace membagikan minuman ke semua orang. Aldho mengambil irisan daging untuk Cindy.
"Cindy, ini daging kesukaanmu sudah aku siapkan spesial untukmu"
Biasanya Cindy langsung bereaksi bahagia saat Aldho melakukan hal manis untuknya, namun kali ini dia hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Ayah seperti memiliki keluarga besar dengan banyak anak perempuan" gurau Pak Tirta di tengah acara.
"Tapi jangan sampai punya anak Zara ayah, nanti Mama akan kewalahan memberi makan. Dia sangat rakus" Ledek Tika yang langsung dibalas cubitan oleh Zara.
Pak Tirta dan Mama Grace memang sudah menganggap teman-teman Cindy dan Aldho seperti anak sendiri. Tak jarang mereka mengadakan acara di rumah seperti ini.
Kehangatan keluarga Pak Tirta juga yang membuat mereka disegani setiap orang. Bahkan baik pak Tirta maupun Aldho tidak ragu untuk membantu orang sekitarnya yang sedang dalam kesulitan terutama masalah berobat.
"Cindy bibirmu belepotan" Aldho mengambil tisu dan mengelap bibir Cindy dengan lembut. Sontak membuat jantung Cindy berdebar. Rasanya dia ingin meloncat kegirangan.
Namun tidak berlangsung lama saat Windy mendekati mereka.
"Windy bagaimana tanganmu apa masih sakit?" tanya Aldho sembari melihat tangan Windy yang sudah diberi salep.
"Tidak kak, sudah sembuh kok, oh iya Cindy kamu belum mencicipi ayam bakar buatanku kan? Ini tinggal satu ambilah sebelum dihabiskan oleh Zara" Windy menyodorkan piring berisi sepotong ayam bakar.
"Tidak, aku tidak mau" Jawab Cindy ketus.
"Ayolah... cicipi dulu buatanku. Nanti kalau enak aku buatkan lagi" Windy terus mendesak Cindy untuk mencicipi ayam goreng buatannya.
Karena tidak tahan akhirnya Cindy meluapkan semua emosi yang dia tahan sedari tadi.
"Sudah ku bilang aku tidak mau.. tidak mau.. kenapa terus memaksaku" bentak Cindy dengan nada cukup keras hingga membuat semua orang terkejut.
Windy diam mematung tak berani berkutik. Tubuhnya gemetar tatkala mendapat amukan dari Cindy, karena pertama kalinya Cindy marah kepadanya.
Cindy menyadari saat ini semua orang memperhatikannya. Aldho yang berdiri di sebelah Cindy sampai tidak bisa berkata-kata.
Cindy berlari ke dalam rumah dan mengunci dirinya di dalam kamar. Dia luapkan emosinya dengan menangis.
Aldho langsung mengikutinya dari belakang.
"Cindy... Cindy tolong buka pintunya. Biarkan aku masuk" Aldho mengetuk pintu dan berusaha membujuk Cindy.
"Aku ingin sendirian kak... Pergilah" teriak Cindy dari balik pintu.
"Baiklah Cindy... jangan lakukan sesuatu yang merugikan dirimu" Aldho mendengus kesal lalu berjalan keluar untuk kembali ke taman.
Sementara di taman Windy juga menangis terisak. Dia begitu terkejut dengan perubahan sikap Cindy terhadapnya.
"Windy, kamu tidak apa-apa? Maafkan Cindy mungkin dia kelelahan karena hari ini banyak kegiatan" Aldho mencoba untuk menenangkan Windy.
"Maaf, aku ingin pulang" ucap Windy sembari terisak.
"Ayah akan mengantar kalian" ucap Pak Tirta namun langsung ditolak oleh Windy.
"Ayah biar kami naik taksi saja" ucap Zara.
"Tak apa yah, kami sudah terbiasa" tolak Tika.
Akhirnya mereka pulang naik taksi karena mau dibujuk bagaimanapun tetap tidak mau.
Di dalam taksi Windy masih menangis. Zara dan Tika mencoba menenangkannya.
"Windy, sudahlah jangan menangis terus. mungkin saja perkataan Kak Aldho ada benarnya. Cindy hanya kelelahan. Tau sendiri kan orang yang hamil emosinya pasti berubah-ubah." bujuk Zara.
"Tapi sepertinya Cindy marah karena kamu tadi mengobrol cukup dekat dengan Kak Aldho" cerocos Tika.
Windy malah menangis lebih kencang setelah mendengar ucapan Tika. Langsung saja Zara memelototi Tika.
"Jangan bicara macam-macam kamu" bisik Zara.
Tika hanya menggerutu tidak jelas.
.
Aldho membantu orang tuanya mengemasi barang-barang di taman.
"Al, bagaimana Cindy?" tanya Mama Grace.
"Dia masih ingin sendiri ma, aku akan bicara dengannya nanti" Jawab Aldho.
Namun Mama Grace sepertinya masih merasa cemas akan Cindy.
"Ma, serahkan pada Aldho. Pasti dia bisa mengatasinya. Cindy selalu menurut kepada Aldho" ucap Pak Tirta menenangkan.
Aldho berjalan menuju kamar Cindy. Berharap dia mau berbicara dengannya.
"Cindy, boleh aku masuk?" Aldho mengetuk pintu. Tidak ada balasan namun saat dia memegang gagang pintu sepertinya tidak dikunci.
Aldho memasuki kamar Cindy dan ingin berbicara dengannya. Namun Cindy sudah berbaring di ranjang sembari menutup wajahnya dengan guling.
Aldho duduk di tepi ranjang dan mengelus surai kecoklatan Cindy.
"Kamu pasti kelelahan. Hari ini begitu banyak kegiatan" ucap Aldho sembari tersenyum.
Cindy tidak bergeming. Tetap pada posisinya namun bisa mendengar perkataan Aldho.
"Aku tahu kamu belum tidur. Aku akan menunggumu sampai kamu mau bicara" ucap Aldho lagi.
Akhirnya Cindy bangkit dari tidurnya dan menampakkan wajah sembabnya.
"Aku tahu, aku memang jahat. Tapi kalian lebih jahat" ucap Cindy terisak.
"Ada apa Cindy? katakan dengan jelas"
"Kak Aldho masih menyukai Windy kan? Jika memang iya kenapa harus menikahi aku?. Kamu mempermainkan perasaanku kak,"
"Sebentar-sebentar, apa maksudnya aku menyukai Windy?" Aldho nampak bingung.
"Aku lihat tadi Kak Aldho tak bisa jauh-jauh dari Windy. aku tahu dulu sebelum menikah Kakak pernah jalan bersama Windy kan,?"
Aldho bukannya marah, malah terkekeh. Dia begitu gemas melihat Cindy cemburu.
"Oh Cindy, ayolah.. Aku dan Windy tidak ada hubungan apapun. Kami hanya berteman. Bahkan Windy lah yang menyarankanku untuk menikahimu. Dia begitu sayang padamu. Dan lagipula aku tidak menyukai Windy. Aku menyukai orang lain" jelas Aldho.
"Siapa yang kakak sukai?" tanya Cindy penasaran.
Aldho meraih tangan Cindy dan mengutarakan perasaannya.
"Aku menyukaimu Cindy"
"Bohong, kakak pasti hanya ingin membuatku tenang saja"
"Kamu ingin bukti?"
Cindy menganguk. Tak lama kemudian Aldho menarik tubuh Cindy dan mengecup bibir manis Cindy.
.
.
jangan lupa kembang kopinya bestiee tersayang.