
Deru angin bercampur air hujan. Serta kilatan cahaya disusul suara petir yang menggelegar di langit dibarengi dengan teriakan seorang ibu yang tengah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan jabang bayinya.
"AARRRGGHHHH... HUUFFTT..HUFFTTT..." Cindy tak kuasa menahan rasa sakitnya saat kontraksi.
Air mata bercampur peluh terus bercucuran di wajahnya. Si kecil Selina dengan sigap terus mengusapnya dengan tisu.
Aldho terus berusaha tenang dalam membantu Istrinya yang tengah berjuang melahirkan jabang bayinya. Meski dia selalu profesional dalam menangani pasien namun saat ini hatinya sangat kalut.
Sekuat tenaga dia harus berkonsentrasi membantu Cindy melahirkan. Ini pertama kali untuknya menolong langsung seseorang melahirkan.
Untung saja saat ini Dokter Helena sedang tidak ada pasien sehingga dia bisa memberi pengarahan Aldho melalui panggilan video.
Meski terbiasa dengan pisau bedah namun melihat perjuangan Cindy yang melawan sakit sungguh membuatnya emosional.
"Sayang kurang sedikit lagi. Kepalanya sudah hampir keluar. Bi Siti tetap pegang perutnya ya" Aldho memberi aba-aba kepada Cindy dan Bi Siti yang membantu.
Sementara Pak Fahri di luar menyiapkan air hangat yang diminta Aldho sambil berdoa.
Cindy kembali merasakan perutnya yang kontraksi lebih kuat. Sekuat tenaga dia berusaha mengejan.
Tangan mungil Selina dia pegang erat hingga putrinya itu seolah bisa merasakan kesakitan yang dialami sang Mama.
"AAAARRGGHHHHH...." Cindy mengerahkan seluruh tenaganya.
"OOEEEEEKKKK...." suara tangisan bayi memecah ketegangan tersebut.
Semua orang merasa lega melihat Cindy yang berhasil melahirkan dengan selamat.
Aldho segera memotong tali pusarnya dan mendekap bayi mungilnya. Suasana haru pun tak terhindarkan.
"Sayang... Kamu berhasil. Terimakasih sayang" Aldho tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Sementara Cindy mengulas senyumnya meski saat ini tenaganya seolah habis. Dia tergeletak lemas.
Sang bayi di serahkan kepada Bi Siti untuk dibersihkan. Sementara Aldho membersihkan milik Cindy.
Aldho tidak menyangka bahwa dirinya sendiri yang menolong persalinan Cindy.
Dokter Helena yang menyaksikan proses persalinan Cindy ikut bahagia.
"Selamat Pak Aldho. Anda berhasil" ujar Dokter Helena dalam panggilan videonya.
Setelah selesai Aldho langsung menghampiri Cindy dan mengecupnya.
"Terimakasih sayang. That's A Boy"
Bi Siti selesai membersihkan bayinya dan kini diberikan kepada Cindy. Dia memeluk bayi mungil tersebut ke dadanya.
"Sayang, dimana Selina?" Cindy menyadari Selina yang tidak bersama mereka.
Aldho pun mencari keberadaan putrinya tersebut. Berkali-kali Aldho memanggil dan mencarinya ke sudut tempat namun tidak menemukan.
"Pak Fahri, Bi Siti tahu Selina? Tadi dia di kamar tapi sekarang tidak ada" Aldho mulai panik.
"Tidak mas, bukannya tadi di kamar menemani Mamanya?" jawab Pak Fahri.
Setelah mencari ke beberapa tempat Aldho akhirnya menemukan putri kecilnya tersebut sedang duduk meringkuk di balkon lantai atas. Bajunya tampak basah karena cipratan air hujan yang memantul dari lantai balkon.
"Sayang, kenapa disini sendirian? Papa mencarimu kemana-mana. Bajumu basah sayang" ujar Aldho menghampiri Selina.
Selina tak menjawab apapun namun Aldho mendengar gadis kecil itu terisak. Dia sedang menangis.
"Sayang kenapa menangis?" Aldho membelai rambut Selina.
"Papa, aku kasian sama mama.. Mama pasti juga kesakitan saat melahirkanku dulu. Mama tidak boleh melahirkan lagi. Mama tidak boleh sakit.. Hiks.. Hiks.."
Aldho langsung memeluk dan menggendong Selina.
"Sayang, kamu tidak pernah menyakiti Mama. Justru kehadiranmu adalah semangat untuk mama dan Papa. Lihatlah tadi Mama jadi semangat saat ada kamu" Akhirnya Selina sedikit tenang setelah mendapatkan penjelasan dari Aldho.
"Mau lihat adik?" Selina mengangguk, kemudian Aldho menggendongnya menemui Cindy.
Selina langsung berhambur memeluk Cindy. Dia tampak sangat bahagia saat melihat adik bayinya yang sedang dipeluk Cindy.
"Aku punya adik ma" Mata hazel itu tampak berkaca-kaca.
Impian yang selama ini Selina dambakan akhirnya terwujud.
Tak lupa Aldho memberitahu orang tuanya. Mama Grace dan Pak Tirta sangat terkejut sekaligus bahagia. Akhirnya dia mendapatkan cucu kedua.
Keesokan paginya Kedua orang tua Cindy bergegas menyusul ke penginapan.
Suasana haru dan bahagia pun tak terhindarkan. Mama Grace begitu bahagia saat menimang cucunya.
Namun tak luput dia memarahi Cindy karena kecerobohannya.
"Mama sudah ingatkan kemarin, hamil besar jangan keluyuran. Malah bepergian begini. Untung suamimu dokter, coba kalau dia tidak bisa menolongmu dan terjadi sesuatu." panjang lebar Mama Grace mengomeli Cindy.
"Iya Ma, maaf..." Cindy tertunduk merasa bersalah.
"Kamu juga Aldho, jangan terlalu memanjakan istrimu." Aldho pun tak luput kena omelan Mama Grace.
Tapi semua itu terbayarkan oleh kehadiran malaikat kecil yang sehat dan tampan.
Sementara keluarga Cindy berbahagia, di belahan dunia lain tampak seorang ibu hamil yang murung dan menyendiri. Bergelut dengan pergumulan hati dan pikirannya.
Rebecca melihat perutnya yang mulai membuncit. Diusap-usap perut itu sembari memikirkan banyak hal.
Sekeras apapun dia melupakan Roger namun nyatanya tidak bisa. Terlebih saat ini dia sedang mengandung benihnya.
"Apakah kelak anakku terlahir tanpa ayah? Tapi aku juga tidak siap bertemu Roger. Aku takut kembali jatuh cinta kepadanya" gumam Rebecca sembari menatap hamparan kebun anggur di belakang rumahnya.
Tak dipungkiri bahwa dirinya masih sangat mencintai Roger. Namun dia takut cintanya hanya sepihak.
Dia mencoba untuk menstabilkan pikirannya yang seperti roller coaster. Seorang ibu hamil tidak boleh stress.
Rebecca mencoba untuk menghibur hatinya dengan membuka sosial media miliknya yang sudah lama tidak dia gunakan.
Dirinya memotret pemandangan kebun anggur di depannya kemudian mempostingnya.
Setelah itu dia tak sengaja melihat sosial media Cindy yang tengah mengunggah foto tangan bayi.
"love of my life, terimakasih telah melengkapi keluarga kami. Terimakasih papa sudah berjuang membantu kelahiran malaikat kecil kita."
Hati Rebecca terenyuh seketika. Dia membayangkan betapa bahagianya Cindy saat ini.
Tak dipungkiri dia sangat merindukan sahabatnya itu. Sejak pindah dia sama sekali tak pernah menghubungi Cindy.
Bahkan dia tak kuasa menitikkan air matanya mengingat si kecil Selina yang selama ini dekat dengannya.
TINGG..
Bunyi di ponsel genggamnya membuyarkan lamunannya. Dia melihat ada sebuah pesan masuk di sosial medianya.
From @Roger_07
"Pemandangan yang indah Rebecca, Kamu dimana? Apa kabar?"
"Aku sangat senang akhirnya kamu mengaktifkan media sosialmu. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia"
"Aku harap kamu membaca pesanku Rebecca."
"Tidak dibalas pun tak apa, aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku sangat merindukanmu"
"Aku berharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti"
Rentetan pesan masuk berasal dari Roger. Dengan tangan gemetar Rebecca membuka pesan itu dan perlahan membacanya.
Seketika air mata jatuh dari netranya.
"A-aku juga sangat merindukanmu Roger"
.
.
Bersambung...