
Aldho membalas ciuman Cindy dengan penuh cinta. Ciuman di pagi hari dengan istri cantik yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya nyatanya membuat Aldho menginginkan sesuatu yang lebih.
"Sayang bolehkah aku melakukannya? kau membangunkan gairahku sekarang" bisik Aldho yang membuat wajah Cindy memerah.
"Tapi ini masih pagi sayang," tolak Cindy.
"Tidak apa-apa kan, ayolah sayang... tolong aku" rengek Aldho.
Jika sudah begitu Cindy tak bisa berbuat hal lain selain menuruti Aldho. Dengan sekali sentakan Aldho berhasil melepas handuk Cindy lalu melemparnya dan akhirnya terjadilah pertandingan hebat antara keduanya.
.
Mama Grace dan Pak Tirta sedang menunggu Cindy dan Aldho untuk sarapan.
"Ma, kenapa mereka lama sekali? Bukannya Aldho sudah kamu suruh panggil Cindy?" tanya Pak Tirta.
"Iya, tadi katanya Cindy masih mandi mungkin sekarang sudah selesai. Coba mama cek dulu ke atas" Mama Grace akhirnya mencoba mencari Cindy dan Aldho di kamarnya untuk segera bergabung sarapan.
Saat Mama Grace hendak mengetuk pintu kamar dia samar-samar mendengar suara aneh di dalam. Akhirnya daripada penasaran Mama Grace menempelkan telinganya di pintu.
"Oh Astaga... " Mama Grace mendengar suara turnamen dari dalam lalu menepuk jidatnya dan langsung berjalan kembali ke meja makan.
"Mana anak-anak ma?" tanya Pak Tirta.
"Olah raga pagi Yah" ucap Mama Grace sambil geleng-geleng kepala.
Pak Tirta langsung terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Mana menguping mereka ya" goda Pak Tirta yang langsung dibalas cubitan oleh Mama Grace.
.
Aldho tergeletak lemas tak berdaya. Sedangkan Cindy kini sudah membersihkan diri dan bersiap untuk turun sarapan.
"Sayang tadi katanya mau sarapan? Kok malah tiduran lagi"
Aldho hanya menggeliat sebentar lalu kembali memejamkan matanya. Akhirnya Cindy meninggalkan Aldho untuk sarapan duluan.
Saat sedang menyantap makanannya Mama Grace menghampirinya dan bertanya.
"Dimana suamimu? kok makan sendirian?" tanya Mama Grace.
"Ketiduran ma, dibangunin juga percuma" jawab Cindy sedikit jengkel.
"Padahal tadi mama suruh dia ajak kamu sarapan katanya kamu masih mandi, karena lama ya Mama sarapan duluan"
Cindy agak gelagapan menjawab mamanya. Gara-gara kelakuan Aldho yang minta jatah pagi-pagi begini jadi tidak enak dengan mamanya.
"Em.. iya, tadi agak lama mandinya,"
Mama Grace hanya tersenyum melihat tingkah Cindy. "Putriku sudah dewasa" gumamnya dalam hati.
.
Hari ini adalah jadwal Aldho melakukan tes DNA di rumah sakit tempat dia bekerja. Cindy dan kedua orang tuanya sudah berada di sana untuk menemani Aldho. Begitupun Pak Theo dan Bu Viona juga sudah bersiap.
Aldho nampak gelisah. Berulang kali dia mengusap wajahnya dan menggoyang-goyangkan kakinya.
Cindy menyadari sikap Aldho, dia lantas menggenggam tangan suaminya mencoba untuk membuatnya tenang.
"Semua akan baik-baik saja sayang" ucap Mama Grace sembari mengusap rambut Aldho.
Bu Viona yang melihat kedekatan antara Mama Grace dan Aldho merasa sangat cemburu. Dia ingin sekali Aldho juga memperlakukannya seperti itu suatu saat nanti.
Tiba waktunya dokter memanggil Aldho, Bu Viona serta Pak Theo untuk memasuki ruangan guna melakukan serangkaian tes.
Cindy dan kedua orang tuanya menunggu di luar. Mama Grace terlihat paling khawatir. Pak Tirta dan Cindy berusaha terus menguatkan.
"Mama tenang ya, Aldho pasti baik-baik saja" Ucap Pak Tirta sembari memeluk istrinya.
"Kenapa dengan Bu Viona? Ada apa ma?" Cindy penasaran dengan ucapan Mamanya.
"Tidak sayang, tidak ada apa-apa. Mama mu hanya khawatir berlebihan" ucap Pak Tirta.
Selang beberapa saat mereka keluar dari ruangan. Aldho mengobrol sebentar dengan Pak Theo. Kemudian bu Viona mendatangi Cindy dan kedua orang tuanya.
"Aku berharap kalian bisa terima apapun hasilnya yang keluar nanti" ucap Bu Viona kepada Mama Grace.
Mama Grace tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya diam sembari berusaha menahan air matanya. Bertatap muka langsung dengan Bu Viona membuat Mama Grace jengah.
Cindy penasaran sebenarnya ada apa dengan Bu Viona hingga membuat Mama Grace nampak takut.
Akhirnya saat Bu Viona dan Pak Theo berpamitan untuk pulang diam-diam Cindy membuntuti keduanya.
Bu Viona tampak bicara serius dengan Pak Theo di ujung koridor.
"Pokoknya jika hasilnya positif aku adalah orang tua biologis Aldho, dia harus ikut denganku tak peduli harus memisahkan mereka dari keluarga dan istrinya" ucap Bu Viona bersungut-sungut.
"Kamu tidak boleh begitu Viona, Aldho punya kehidupan sendiri, dia dibesarkan dengan baik oleh mereka dan mendapat kasih sayang yang selama ini tidak didapatkan darimu. Dia juga punya istri."
balas Pak Theo.
"Justru itu, aku merasa keluarga Tirta hanya memanfaatkannya. Lihat saja Aldho sengaja dinikahkan dengan anaknya sendiri. Mereka hanya mengambil keuntungan dari Aldho"
Cindy mendengar perkataan Bu Viona membuat hatinya begitu perih.
"Maaf Bu Viona, sepertinya ungkapan anda tentang keluargaku yang memanfaatkan Kak Aldho tidaklah tepat. Ayahku tidak pernah memaksa Kak Aldho untuk menikahiku. Dan satu hal yang penting bahwa aku sangat mencintai suamiku" Cindy langsung mendatangi Bu Viona dan mengatakan secara langsung apa yang sedang terjadi.
Bu Viona hanya diam tidak berkutik. Dia begitu terkejut ternyata Cindy mendengar semua yang dia ucapkan.
Cindy pergi meninggalkan mereka sambil menangis. Sekarang dia tahu apa yang membuat Mamanya terus dilanda cemas.
"Cindy, sayang ada apa?" Aldho terkejut melihat Cindy yang menangis.
"Emm.. tidak, tidak apa-apa nanti saja kita cerita di rumah"
"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang" Aldho langsung mengajak semua untuk pulang. Dia benar-benar penasaran dengan alasan Cindy menangis.
Setelah sampai di rumah Aldho langsung menanyai Cindy yang berada di kamar.
"Cindy, ada apa denganmu? kenapa tadi menangis?"
Cindy masih terdiam. Dia menundukkan kepalanya lalu bulir-bulir air menetes dari matanya.
"Tadi aku mendengar percakapan bu Viona. Dia ingin membawamu dan memisahkanmu dari kami. Sayang aku takut" Cindy menumpahkan semua air matanya.
Aldho langsung memeluk Cindy "Yaampun sayang, kenapa kamu pikirkan ucapan wanita itu? jangan kamu ambil hati ya aku tidak mungkin meninggalkanmu"
Cindy merapatkan pelukannya di tubuh Aldho. Dia benar-benar tidak ingin jauh dari Aldho. Satu-satunya pria yang sangat penting dalam hidupnya selain ayahnya.
"Itu sebabnya mama selalu cemas saat Bu Viona mendekatimu. Dia sangat takut kamu dipisahkan dari keluarga ini sayang" balas Cindy lirih.
"Baiklah aku akan bicara kepada Mama nanti".
Mama Grace yang sedang melintasi kamar Cindy tak sengaja melihat Aldho dan Cindy di dalam kamar karena pintu terbuka cukup lebar.
"Aku tidak akan membiarkan Viona mengganggumu sayang" gumam Mama Grace dalam hati.
.
.
.
......................