
Cindy begitu terkejut dan hanya bisa menangis saat Viona menamparnya. Aldho yang sudah termakan emosi langsung mencengkeram tangan Viona dan menyeretnya keluar dari kamar. Tak peduli bahwa dia ibu yang melahirkannya. Hatinya benar-benar terluka saat melihat Cindy yang disakiti.
"Aldho, begini kamu memperlakukan ibumu?" bentak Viona.
Aldho menghempaskan tangan Viona lalu menatapnya dengan tajam.
"Kau bukan ibuku. Aku bahkan tidak mengenalmu. Dan kau kesini beraninya melukai istriku. Jadi cukup jangan pernah menyebutku sebagai anakmu" ucap Aldho dengan begitu marah.
"Aldho.. Apa yang kamu katakan, itu tidak pantas nak"
"Lalu apa pantas membuang darah dagingnya sendiri demi ambisi?"
Viona hanya bisa diam tak berkutik. Aldho langsung menutup pintu rumahnya dan segera menghampiri Cindy.
Di dalam kamar Cindy menangis sambil dipeluk Tika. Teman-temannya sama terkejutnya dengan kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba menyerang Cindy.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Aldho langsung memeluk Cindy.
"Aku takut..." ucap Cindy gemetar.
Teman-teman Cindy berangsur keluar kamar untuk memberi privasi untuk Aldho.
Di bawah Mama Grace menyaksikan kegaduhan tersebut. Dia hanya bisa menangis sembari memeluk cucunya.
"Mama, mama baik-baik saja kan?" Windy menghampiri Mama Grace.
Akhirnya Mama Grace menceritakan siapa Viona dan kenapa dia membenci Cindy.
Di dalam kamar Aldho masih memeluk Cindy dan terus meminta maaf.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf..." Aldho nampak begitu kalut. Rasa bersalahnya begitu besar kepada Cindy atas kejadian ini.
Cindy hanya diam tidak mengucapkan sepatah katapun. Hingga sore tiba sikap Cindy kembali dingin terhadap Aldho.
"Sayang, kita belum menamai putri kita. Menurutmu nama siapa yang cocok untuknya?" tanya Aldho sembari menyisir rambut Cindy.
"Terserah..." balas Cindy cuek.
Walaupun sikap Cindy begitu acuh terhadap bayinya namun Aldho tetap sabar dan berusaha membuat Cindy mau menerima anaknya. Aldho mengingat sebuah nama yang pernah Cindy bicarakan saat menginap di pondok beberapa waktu lalu. Dia sangat suka memandang bulan. Jika dia memiliki anak perempuan maka akan dia namai Selina, yang artinya bulan.
Setelah berunding dengan kedua orang tuanya juga Aldho sepakat memberi nama putrinya.
"Baiklah, aku sudah memikirkan nama yang cocok untuk putriku" ucap Aldho sembari menggendong bayi itu.
"Siapa Aldho?" tanya Pak Tirta.
"namanya Selina Dimitri Gunawan"
Mama Grace tersenyum mendengar nama itu.
"Nama yang indah sayang, nama yang cantik secantik cucu kita".
Cindy yang tidak ikut berkumpul di ruang keluarga hanya menyaksikan mereka dari depan pintu kamarnya. Dia mendengar semua percakapan suami dan kedua orang tuanya.
Cindy melihat Aldho yang begitu menyayangi bayi itu padahal dia bukan darah dagingnya membuat hati Cindy sedikit tersentuh.
Hatinya terasa pedih namun ingatan tentang pengkhianatan Roger tidak bisa dia tepis saat memandang wajah bayi itu.
Tiba-tiba Cindy merasa nyeri di dadanya, terasa penuh dan tidak nyaman. Wajar saja hal itu terjadi karena dia habis melahirkan dan tubuhnya mulai memproduksi ASI.
Cindy berjalan ke toilet dan hendak mengeluarkan ASInya namun dia masih berpikir. Bagaimanapun bayi itu membutuhkannya namun dia masih belum bisa menyusuinya, dia bingung harus berbuat apa.
"Kak Aldho.... Kak Aldho..." Cindy berteriak memanggil Aldho.
Aldho yang sedang asyik menemani bayinya mendengar teriakan Cindy dan langsung berlari ke kamar. Dia takut terjadi sesuatu dengan Cindy.
"Cindy, ada apa sayang?" sambil mengatur nafas Aldho mencoba secepat mungkin menemui Cindy.
"Ini sakit, aku harus apa?" rengek Cindy.
Aldho menghela nafas lega. Ternyata tidak terjadi hal serius.
"oh.. Ku kira terjadi sesuatu,"
"Tapi ini benar-benar sakit kak, rasanya semakin bengkak. Aku belum siap untuk menyusuinya. Bagaimana ini?"
"Tapi harus dikeluarkan sayang. Jika tidak akan bahaya"
"Lalu bagaimana? Dibuang?"
Aldho berpikir sebentar. Kemudian dia pergi keluar kamar dan beberapa saat kemudian membawa sebuah kotak berukuran sedang.
"Daripada di buang lebih baik pakai ini ya, pumping ASI" Aldho mengeluarkan alat itu dari bungkusnya.
Di bawah Pak Tirta dan Mama Grace sedang menemani cucunya.
"Ma, tadi Aldho kenapa lari-lari?" tanya Pak Tirta.
"Oh, tadi Cindy memanggilnya"
"Memangnya ada apa ma? tidak terjadi sesuatu kan dengan Cindy?" Pak Tirta sedikit cemas.
"Entahlah, tapi sampai sekarang Aldho belum terlihat keluar"
"Ma, coba cari tahu takutnya Cindy kenapa-napa"
"Baiklah" Akhirnya Mama Grace naik ke atas untuk melihat keadaan Cindy.
Sampai di depan kamar Cindy pintunya tertutup. Saat hendak mengetuk pintu samar-samar Mama Grace mendengar teriakan kecil dari Cindy.
"Akhh... Geli kak.."
"Tahan sayang, lama-lama nanti terbiasa."
"Keluarnya makin banyak sayang"
"Iya,tapi enak kan?"
"Iya enak, sudah tidak sakit"
Mama Grace dibuat meremang dengan suara-suara itu. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana Mama Grace langsung bergegas kembali ke bawah.
"Ada apa ma? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Pak Tirta saat melihat istrinya.
"Entahlah, mereka membuatku bergidik. Habis lahiran sudah begituan" dengus Mama grace kesal.
"Memangnya mama tahu apa yang mereka lakukan?"
Belum sempat Mama Grace menjawab terlihat Aldho sedang berjalan menuju mereka dengan wajah begitu gembira.
"Ada apa Aldho?" tanya Pak Tirta.
"Ini.. Ini ASI untuk Selina ayah, akhirnya aku berhasil mendapatkannya" Aldho menyodorkan sebotol susu kepada Mamanya.
"Jadi kalian tadi...." ucap mama Grace.
"Aku bantu Cindy keluarkan ASI dengan pumping. Awalnya dia menolak tapi aku terus merayunya. Biar bagaimanapun Selina harus menerima ASI"
"Oh... Jadi ternyata kalian tadi pumping ASI? Mama kira kalian itu..."
"Mama kira aku kenapa ma?" tanya Aldho penasaran saat Mama Grace tidak melanjutkan ucapannya.
Pak Tirta langsung tertawa membuat Mama Grace tersipu malu.
"Ayah jangan keras-keras tertawanya. Nanti cucunya bangun loh" ucap Mama Grace mengalihkan perhatian.
.
Pak Theo mengirim foto anak Cindy kepada Roger. Dia berharap dengan melihat bayinya membuat Roger tergugah dan mau pulang kembali.
"Roger ini adalah putrimu, walaupun masih bayi dia terlihat sangat cantik, dia memiliki warna mata yang mirip denganmu. Apa kamu tidak ingin menemuinya nak?" tulis pesan Pak Theo kepada Roger.
Roger membaca pesan yang dikirim ayahnya di ponselnya. Dia memandangi sosok bayi yang ada di foto itu. Tak terasa air mengalir dari sudut matanya.
Dia tak menyangka akhirnya memiliki seorang buah hati. Ingin sekali Roger datang dan memeluknya namun hal itu jelas tidak mungkin.
Cindy dan keluarganya pasti tidak akan sudi mengijinkan dirinya untuk menemui bayi itu. Dia sadar akan perbuatannya yang begitu buruk terhadap Cindy.
Meski dalam hatinya masih ada perasaan yang tertinggal untuk Cindy.
"Maafkan aku Cindy... Maafkan aku..."
.
.
.
...----------------...