
^^^"Cindy, maafkan aku. Mungkin ini sangat berat untukmu tapi aku yakin kamu bisa menjalaninya.^^^
^^^Maafkan aku harus pergi untuk saat ini karena hal yang sangat penting. Aku sangat mencintaimu semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi.^^^
^^^Roger"^^^
Cindy benar-benar hancur membaca surat dari Roger. Dia benar-benar merasa dikhianati oleh pria yang telah menghancurkan masa depannya.
Aldho yang membaca surat tersebut ikut mendidih.
"Dia pikir aku ini apa? Dia benar-benar menghancurkan aku" sambil terisak Cindy mengadu kepada Aldho.
Aldho melihat sekitar. Terlihat Dokter Helena dan satu perawatnya ikut termenung. Akhirnya Aldho segera berpamitan dan meminta maaf mengajak Cindy keluar dari ruangan tersebut.
Aldho menuntun Cindy yang terlihat lemah memasuki mobil. Memasangkan sabuk pengaman serta mengelus rambutnya untuk menenangkan.
Cindy yang masih terisak sambil meremas kertas dari Roger. Berkali-kali Aldho menyeka air mata Cindy.
"Kita pulang ke rumah saja ya" Ucap Aldho yang tidak dijawab oleh Cindy.
Di sepanjang perjalanan Aldho hanya diam sesekali menggenggam tangan Cindy untuk menguatkan.
Dia begitu tidak tega melihat nasib Cindy yang begitu malang. Gadis yang begitu pandai dan ceria kini menjadi seorang yang begitu murung dan menyedihkan.
"Aku benci dia. Aku benci dia" Cindy memukul-mukul perutnya dengan keras membuat Aldho langsung menepikan mobilnya.
"Cindy apa yang kamu lakukan? jangan menyakiti dirimu seperti ini" Aldho meraih tangan Cindy dan langsung memeluknya.
"Kak Aldho kenapa nasibku jadi seperti ini?" Cindy terus menangis di pelukan Aldho.
"Sabar sayang, Kelak kamu akan bahagia. Kuatkan dirimu, aku ada bersamamu" Aldho berusaha menenangkan Cindy.
"aku malu kepada Mama dan Ayah, dia sangat terbebani dengan masalahku dan juga Kak Aldho harus merelakan kesempatan besar karena aku. Maafkan aku kak"
"Tidak Cindy. Kami tidak pernah merasa terbebani. Kami sangat menyayangimu. Tapi ingat kamu harus menjaga dirimu. Jangan menyakitinya seperti tadi"
Setelah beberapa saat Cindy mulai tenang lalu Aldho melanjutkan perjalanan pulang.
.
Cindy dan Aldho sudah sampai di rumah. Setelah turun dari mobil Cindy langsung menuju kamarnya tanpa menghiraukan Mama Grace yang bertanya. Dadanya begitu sesak saat ini. Bertemu orang lain hanya akan menambah sesak.
"Aldho, ada apa?" Mama Grace penasaran.
"Tidak ada apa-apa ma, semua baik saja. Mungkin Cindy hanya lelah" Aldho tidak ingin mamanya ikut bersedih. Sudah cukup selama ini dibebani oleh banyak masalah.
Aldho menyusul Cindy ke kamar. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk ke dalam kamar membuat Cindy yang sedang berganti pakaian sangat terkejut.
"Oh, maaf" Sama terkejutnya Aldho langsung menutup kembali pintu kamar Cindy yang sekilas dia sempat melihat tubuh polos Cindy yang hanya mengenakan pakaian dalam.
"ahh.. bodoh" Aldho menepuk kepalanya sendiri. Dia masih berdiri mematung di depan pintu kamar Cindy lalu tak lama kemudian terdengar suara Cindy dari dalam yang memanggilnya.
Dengan hati-hati Aldho membuka pintu tersebut dan mendapati Cindy yang sedang duduk di sudut ranjang.
" Emm.. Maaf aku lupa mengetuk pintu kamarmu" ucap Aldho kikuk.
" Kak Aldho tolong jangan cerita ke mama perihal surat tadi ya, aku tidak ingin mama sedih lagi"
Aldho menghampiri Cindy dan duduk di sebelahnya.
"iya Cindy, aku tidak akan beritahu Mama. Mulai sekarang jika kamu ada sesuatu langsung beritahu aku" Aldho memandang wajah cantik Cindy. Begitupun dengan Cindy, dia melihat ketulusan Aldho.
Dia merasa beruntung karena memiliki kakak seperti Aldho. Yang selalu ada untuknya baik saat senang maupun susah. Dia rela melepas kesempatan besar demi menjaga Cindy.
.
Aldho sedang asyik mengobrol dengan Cindy. Beberapa saat Cindy masih merespon namun kini dia telah terlelap.
"Hmmm... aku sudah banyak bicara ternyata kamu malah ketiduran" Aldho membelai rambut Cindy dengan lembut.
Perlahan Aldho mulai membaringkan tubuhnya menghadap Cindy. Memperhatikan dengan seksama gadis itu saat terlelap. Ini pertama kalinya Aldho begitu dekat dengan Cindy. Sebagai laki-laki normal ingatan nakalnya tentang tubuh Cindy kembali membuat Aldho memerah.
Sejenak Aldho terhanyut oleh suasana. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Cindy. Menyatukan keningnya dan menghirup aroma tubuh Cindy. Kali ini dia benar-benar menginginkan Cindy. Perasaan yang telah dipendamnya sejak lama.
Ya, diam-diam Aldho begitu mengagumi sosok Cindy. Lama-lama berubah menjadi perasaan suka antara laki-laki dan perempuan. Namun dia tidak berani mengutarakannya karena dia tahu diri bahwa di keluarga ini Aldho sudah seperti anak kandung. Memiliki Cindy sebagai kekasih adalah hal yang sangat mustahil.
Aldho hampir mencium bibir Cindy namun ponselnya berbunyi membuat dirinya tersadar dan langsung menjauhkan dirinya.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" Aldho melihat Cindy sekilas kemudian dia bergegas menjauhinya.
.
Mama Grace sedang lewat depan kamar Cindy dan pintunya yang setengah terbuka membuatnya tak sengaja melihat ke dalam. Terlihat Cindy yang sedang tertidur di ranjang bersama Aldho begitu dekat.
Dia tidak menyangka bahwa anak yang dia besarkan dari kecil kini telah menjadi menantunya.
Mama Grace sejenak melamun teringat sebuah angan-angan yang pernah ada di benaknya. Jika dia menikahkan Cindy suatu saat nanti harus dengan laki-laki yang seperti Aldho.
Namun kini yang terjadi malah Cindy menjadi istri Aldho. Namun setidaknya Mama Grace merasa lega karena Cindy berada di tangan laki-laki yang tepat.
"Mama, sedang apa disini?" lamunan Mama Grace buyar tatkala Aldho datang menanyainya.
"oh, Aldho kamu sudah bangun? Tadi Mama mau membangunkanmu karena ini sudah waktunya kamu bersiap kerja"
"Oh, iya ma. Tadi Aldho ketiduran sebentar" Aldho berjalan menuju kamarnya untuk bersiap kerja.
.
Sore ini setelah makan malam Cindy kembali ke kamarnya. Pak Tirta dan Mama Grace sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Ayah, sepertinya Aldho dan Cindy sudah mulai menerima satu sama lain" ucap Mama Grace membuka percakapan.
"Baguslah ma, memang itu yang kita harapkan. Aldho sudah mengambil keputusan berarti dia benar-benar serius"
"Tidak kusangka anak-anak kita jadi begini. Aku masih sulit menerima keadaan Cindy saat ini. Kenapa gadis malang itu harus mengalaminya?" terlihat Mama Grace menitikkan air matanya.
"Mama, sudahlah ini semua sudah terjadi. Kita harus bisa ikhlas menerimanya"
"Kemarin, saat ada acara di bu RT aku tidak sengaja mendengarkan orang-orang yang membicarakan tentang keluarga kita dibelakang. Terutama tentang Cindy, aku sangat sedih"
Pak Tirta mengusap rambut istrinya yang sudah mulai beruban namun tidak mengurangi kecantikannya. Dia mengecup kening Mama Grace dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, anggap saja ini adalah ujian untuk menguatkan kita. Aku juga sedih tapi harus bagaimana lagi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk saat ini ayah hanya ingin memastikan Cindy dalam keadaan yang baik" Pak Tirta mencoba menguatkan istrinya.
Tak disangka Cindy mendengar percakapan kedua orang tuanya membuatnya semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku ma, aku hanya menjadi beban untukmu"
.
.
.