Baby Blues

Baby Blues
bab 104 Cindy selingkuh?



Satu bulan berlalu sejak operasi kini kondisi Rebecca sudah mulai membaik. Sejak saat itu pula hubungannya dengan sang ayah pun kembali membaik. Diketahui ayah Rebecca kini telah bercerai dengan istrinya. Serta saudara tiri Rebecca ternyata bukan anak dari ayahnya. Melainkan hasil hubungan dengan pria lain.


Rebecca juga telah menceritakan semua masalahnya kepada ayahnya.


"Ayah, setelah aku resmi bercerai aku ingin pergi jauh melupakan masa laluku" ujar Rebecca.


"Baiklah sayang, kita bisa memulainya dari awal. Kita akan tinggal bersama dan melupakan semua masa lalu" Ayah Rebecca bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan putrinya.


"Tapi aku tidak mau kembali ke Milan ayah, disana adalah tempatku bertemu dengan Roger. Aku tidak akan sanggup" ujar Rebecca memelas.


"Tidak sayang, kita akan tinggal di tempat yang jauh dimana kamu belum pernah menginjakkan kaki kesana"


.


Meski masih tinggal di rumah Pak Theo namun Rebecca dan Roger telah pisah kamar. Pak Theo yang meminta untuk tetap tinggal sampai kondisi Rebecca benar-benar pulih.


Hari ini pengadilan telah mengesahkan perceraian Roger dan Rebecca. Kondisi Rebecca juga telah pulih sepenuhnya.


Dia mengemasi semua barang-barangnya dan hendak angkat kaki dari rumah itu. Selama itu pula Roger terus memohon agar Rebecca tetap bersamanya.


"Kumohon Rebecca. Apa kamu tega meninggalkan aku disini sendiri? Jangan pergi.. Aku tidak bisa jauh darimu" Roger bersimpuh di hadapan Rebecca.


Dia rela melupakan harga dirinya sebagai seorang laki-laki hanya untuk menahan Rebecca agar tetap bersamanya.


"Maafkan aku Roger. Keputusanku sudah bulat, diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Kamu bebas sekarang lakukan apapun yang kamu mau" Rebecca mengusap bahu Roger.


Roger tak kuasa menahan kesedihannya. Dia langsung memeluk Rebecca. "Tidak, itu akan sangat sulit Rebecca"


Meski dalam hati Rebecca masih sangat mencintai Roger namun dia tidak mau terus menjadi korban perasaan Roger.


Rebecca melepas pelukan Roger dan mengecup bibirnya singkat sebagai perpisahan. Kecupan terakhir sebelum dia pergi jauh meninggalkan Roger.


"Selamat tinggal Roger..." Rebecca melangkahkan kakinya keluar rumah itu. Dia berpamitan kepada Pak Theo dan Bi Lila yang sudah menjaganya selama ini.


Ayah Rebecca sudah menunggu di depan. Setelah memasuki mobil mereka langsung melesat menuju bandara.


Roger hanya menatap nanar kepergian Rebecca. Dia tidak menyangka hari ini benar-benar terjadi.


Sementara semua keluarga Cindy sudah berkumpul di bandara untuk mengantarkan sekaligus perpisahan dengan Rebecca.


Ayah Rebecca akhirnya dapat kesempatan berbicara dengan pak Tirta karena dia penasaran dengan sosoknya selama ini.


"Pantas saja Rebecca selalu menyebut anda Ayah keduanya. Anda sangat baik" ujar ayah Rebecca.


Perpisahan mereka diwarnai suasana haru. Terlebih Selina yang terus menangis tak ingin berpisah dengan Rebecca.


"Mommy jahat, mommy katanya mau disini selamanya. Tapi Mommy tega meninggalkanku" Selina mengungkapkan kekecewaannya.


"Maafkan Mommy sayang harus pergi" Rebecca tak kuasa menahan kesedihannya. Selama ini memang Selina sangat dekat dengan Rebecca.


"Kabari aku setelah sampai" Cindy memeluk Rebecca dan melepaskan kepergiannya.


Akhirnya mereka benar-benar berpisah. Meski berat namun itu semua harus terjadi. Tidak akan ada yang tahu bagaimana takdir selanjutnya.


Aldho berniat langsung ke rumah sakit karena bertepatan dengan jadwal kerjanya.


"Sayang kamu dan selina barengan sama mama dan ayah ya. Aku buru-buru" ujar Aldho.


Sementara mereka hendak pergi Cindy meminta Selina pergi dengan kedua orang tuanya.


"Ma, Ayah nitip Selina dulu ya, aku ada perlu dengan teman" ujar Cindy.


Aldho yang mendengar hendak bertanya kepada Cindy siapa tahu dia masih bisa mengantarnya namun panggilan darurat dari rumah sakit membuatnya urung. Tanpa bertanya Aldho langsung bergegas pergi.


Cindy sampai di sebuah cafe. "Maaf menunggu lama ya, aku masih ada urusan tadi"


"Oke Cindy tidak apa-apa aku banyak waktu luang"


Rupanya Cindy menemui Dimas, sejak bertemu di rumah sakit beberapa waktu lalu memang keduanya sering bertemu.


Mereka membicarakan banyak hal, Dimas juga baru menyelesaikan kuliahnya di London sehingga tak memiliki banyak teman saat ini.


Sementara di rumah sakit Aldho masih penasaran dengan siapa yang ditemui Cindy. Tapi dia urungkan niatnya untuk bertanya. Dia tidak ingin membuat Cindy merasa dirinya terlalu posesif.


Sementara di cafe tersebut pemiliknya adalah salah satu teman SMA Aldho. Dia mengetahui Cindy, namun Cindy tidak begitu kenal dengannya.


.


Sore hari Aldho baru pulang. Pekerjaannya hari ini cukup melelahkan karena dia harus menangani operasi yang cukup serius.


Sampai di rumah dia disambut oleh kedua bidadari cantiknya. Seketika rasa lelah Aldho pun sirna.


"Papa... Aku dan mama buat kue. Ini spesial untuk Papa" Selina menghampiri Aldho.


"Wow.. Kuenya enak dan cantik sekali. Seperti yang membuat." Aldho langsung mencicipi kue buatan anak dan istrinya.


Aldho pergi ke ke kamarnya. Cindy sudah menyiapkan air hangat di bathub.


"Sayang bagaimana kerjanya hari ini?" Cindy membantu Aldho melepas pakaiannya.


"Hmmm.. Sedikit melelahkan. Ada operasi cukup sulit namun kami berhasil"


Aldho pergi mandi. Dia sedikit menenangkan diri dengan berendam di bathtub. Perhatian Cindy sukses membuatnya merasa lebih baik.


Selesai mandi Aldho bergabung dengan keluarganya di bawah. Suasana rumah saat ini sangat harmonis. Aldho yang awalnya ingin bertanya kepada Cindy pun mengurungkan niatnya.


Lagi pula istrinya tidak mungkin berbuat macam-macam dibelakangnya.


Malam pun tiba, semua orang beranjak untuk istirahat masing-masing. Aldho pergi menidurkan Selina terlebih dahulu kemudian baru ke kamarnya.


Saat Aldho kembali ke kamarnya dia melihat Cindy tampak berbicara dengan seseorang di telepon. Melihat kedatangan Aldho buru-buru Cindy mematikan teleponnya.


"Hai sayang," Cindy menghampiri Aldho di ranjangnya.


Seperti biasa sebelum tidur mereka selalu bermanja-manja terlebih dahulu. Aldho meraih tubuh Cindy dan memeluk perutnya yang kian membuncit. Tiba-tiba Cindy mendorong tubuh Aldho. Aldho pun bingung dengan sikap istrinya.


"Sayang, kamu tidak pakai parfum ya?" tanya Cindy tiba-tiba.


"Kan mau tidur, kenapa harus pakai parfum?" protes Aldho.


"Ya kan biar harum, ayolah sayang. Sekalian rambutnya pakai pomade ya" ujar Cindy.


Meski merasa heran dengan sikap istrinya namun dia tetap tidak bisa menolak permintaan Cindy.


.


Hari-hari berjalan seperti biasa. Hari ini Aldho sedang ada mata kuliah sehingga dia berangkat pagi-pagi.


Cindy mengantar Selina ke sekolahnya seorang diri. Setelah itu dia tidak langsung pulang melainkan bertemu Dimas di cafe tempat mereka bertemu sebelumnya.


Kali ini Cindy yang datang lebih dahulu sementara Dimas baru datang setelahnya.


"Maaf Cindy aku telat" ujar Dimas.


"Tidak apa aku juga baru sampai"


Dimas membawa sebuah buket bunga. Tentu saja teman Aldho yang pemilik cafe tersebut terkejut melihat Cindy dan Dimas.


"Wah, ini benar-benar Aldho harus tahu. Sepertinya mereka bukan sekedar berteman" Akhirnya teman Aldho mengirim foto Cindy yang sedang berduaan.


Aldho saat ini masih mempersiapkan materi untuk mengajar karena kelas masih dimulai setengah jam lagi.


Tiba-tiba ponsel Aldho berbunyi. Dia melihat sebuah pesan dari temannya.


"Aldho, maaf sebelumnya. Tapi aku melihat istrimu sedang berduaan dengan seorang pria. Bahkan ini kedua kali mereka bertemu di cafe ku. Apa kamu tahu hal ini?" Teman Aldho mengirim dua foto yang dia ambil beberapa waktu lalu dan sekarang.


Aldho sangat terkejut melihatnya. Dia amati foto tersebut.


"Bukankah ini Dimas? Pria yang waktu itu?" Jantung Aldho langsung berdebar keras saat melihat Dimas yang memberikan sebuah buket bunga kepada Cindy.


Tak dipungkiri sosok Dimas yang masih muda dan tampan serta penampilannya selalu menawan membuat Aldho langsung pesimis.


"Apa mungkin Cindy selingkuh?"


.


.


Bersambung.