Baby Blues

Baby Blues
bab 18 pengagum rahasia



Aldho telah menyelesaikan jadwal prakteknya kini dia bersiap untuk piket jaga malam. Sebelum itu dia ingin membeli kopi di kantin rumah sakit untuk menghilangkan kantuknya.


Saat berjalan di koridor dia tidak sengaja bertemu dokter Helena.


"Pak Dokter Aldho" sapa dokter Helena.


"Bu dokter, selamat sore" balas Aldho.


"Pak Aldho mau kemana?" tanya Dokter Helena.


"Saya mau ke kantin membeli kopi. Setelah ini jaga malam supaya tidak mengantuk. Bu dokter sendiri akan kemana?"


"saya juga mau ke kantin mencari beberapa cemilan. Hari ini saya juga jaga malam"


"Baiklah mari kita ke kantin bersama"


Aldho dan dokter Helena sedang memesan kopi di kantin. Beberapa kali mereka menceritakan masalah-masalah di rumah sakit.


"Pak Aldho, maaf sebelumnya. Saya benar-benar tidak tahu bahwa nona Cindy sedang memiliki masalah dengan suaminya. Jika tahu saat itu saya akan berusaha menahan pak Roger"


Aldho menghela nafas. Sepertinya dokter Helena harus tahu semua kebenarannya.


"Sebenarnya Roger bukan suami Cindy. Namun benar dia ayah biologis dari bayi yang dikandung Cindy. Roger telah melecehkan Cindy hingga hamil. Dia berjanji untuk tanggung jawab. Hari itu seharusnya mereka menikah namun Roger malah kabur." Akhirnya Aldho mulai menceritakan kejadian yang dialami Cindy.


"Ya Tuhan, saya sungguh tidak tahu. Kasian sekali Nona Cindy menanggung beban seberat itu"


"Dan kini saya yang menikahi Cindy. Saya tidak ingin dia melahirkan bayinya tanpa ayah. Saya ingin memastikan kebahagiaan Cindy. Hanya itu yang bisa saya lakukan"


"Tapi, bukankah anda kakak kandung Cindy?" dokter Grace terkejut dengan pengakuan Aldho.


"Saya anak angkat dari pak Tirta. Jadi saya dan Cindy tidak memiliki hubungan darah sama sekali" mendengar hal itu membuat Dokter Helena kagum dengan keputusan Aldho.


"Wow, anda luar biasa pak Aldho. Ini keputusan besar dan anda berani melakukannya demi kebahagiaan keluarga. Semoga hal ini menjadi yang terbaik"


Obrolan Keduanya terlihat cukup serius. Wanita paruh baya itu memang cukup akrab dengan Aldho semenjak dia bekerja di rumah sakit ini. Sosok Aldho yang rendah hati membuat banyak orang banyak menyukainya serta cepat akrab.


Ketampanan Aldho juga membuat beberapa orang jatuh hati terhadapnya. Termasuk salah satu perawat yang bernama Elisa. Dia selalu membuntuti Aldho secara diam-diam. Termasuk saat di kantin sekarang ini.


Aldho mengirim pesan ke ponsel Cindy menanyakan keadaannya.


"Cindy, sudah makan dan minum vitaminnya? Hari ini aku jaga malam jadi maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini"


"Sudah kak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja hanya sedikit sedih karena Mama"


Membaca pesan dari Cindy membuat Aldho terkejut dan segera meneleponnya.


"Bu dokter maaf saya harus menelepon Cindy sebentar" Aldho meminta ijin dokter Helena.


"Silahkan pak Aldho" jawab dokter Helena santai.


Aldho berjalan menghindari dokter Helena untuk menelepon. Hal itu membuat Elisa tambah penasaran.


"Cindy ada apa? Kenapa dengan mama?" tanya Aldho penasaran.


"Tidak kak, aku hanya tidak sengaja tadi mendengar obrolan mama dengan Ayah tentang omongan tetangga karena aku"


Aldho menghela nafas. Dia sedikit lega karena keluarganya tidak terjadi sesuatu serius.


"Oh, aku kira mama kenapa-napa. Cindy kamu tidak usah menghiraukan omongan orang lain. Kamu harus fokus dengan dirimu dan keluarga kita. Tidak usah khawatir."


"Baik kak, maaf aku sudah membuatmu khawatir"


"Tidak apa-apa. Sekarang istirahatlah jangan buat dirimu lelah. Selamat malam gadis cantikku semoga malammu menyenangkan"


Mendengar suara Aldho membuatnya begitu lega. Kini dia mulai nyaman dengan perhatian yang diberikan Aldho.


Aldho berjalan kembali ke ruangannya. Saat memasuki lift tiba-tiba seorang perawat menyeruak masuk mengikuti Aldho. Perawat itu tak lain adalah Elisa. Dia menyapa Aldho begitu manis. Lalu dibalas oleh Aldho seperti biasa.


"Pak dokter Aldho kan? dokter Spesialis bedah anak yang baru?"


"Saya di bagian neonatus. Saya mendengar banyak hal tentang anda. Walaupun masih baru namun keahlian anda tidak diragukan" Puji perawat Elisa.


"Terimakasih. Saya masih perlu banyak belajar"


Tiba-tiba lift terasa mengguncang lalu berhenti padahal belum waktunya sampai ke lantai atas. Hal itu membuat Elisa panik seketika.


"Bagaimana ini? Saya benar-benar takut terjebak disini" Elisa langsung merangkul lengan Aldho dan membenamkan wajahnya. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari simpati dari Aldho.


"tenang ini hanya gangguan. Saya akan mencari bantuan" Aldho segera menghubungi pihak keamanan mencari bantuan.


Elisa senang atas kesempatan ini. Walaupun dia harus terjebak didalam lift namun jika dengan pria pujaannya dia begitu rela. Namun rupanya hal itu tak berlangsung lama. Beberapa saat bantuan tiba dan mereka sudah terbebas dari lift tersebut.


"Pak dokter, terimakasih sudah menenangkan saya. Tidak tahu bagaimana jadinya jika saya terjebak sendirian" ucap Elisa.


"Sama-sama" Aldho menjawab seadanya dan berlalu meninggalkan Elisa. Sikapnya yang sedikit cuek membuat Elisa dongkol. Tapi dia tetap optimis mendekati Aldho.


.


Pagi ini Setelah Aldho selesai bekerja dia berniat membelikan Cindy susu kedelai kesukaannya. Saat sedang berjalan menuju mobil dia bertemu Windy dan Zara.


"Kak Aldho," sapa Zara.


"Hai, Zara.. Windy" balas Aldho.


"Kak Aldho sedang apa?" tanya Zara.


"Oh, ini beli susu kedelai kesukaan Cindy. Kalian dari mana?"


"Kami sedang berolah raga di sekitar sini. Tapi ini mau pulang." jawab Zara. "Bagaimana kabar Cindy kak?" tanya Windy.


"Dia baik, kalian kenapa tidak main ke rumah?"


"Sebenarnya nanti sore kami berencana ke rumah Cindy namun masih menunggu kabar dari Tika"


"Baiklah kalau begitu. Jadi kalian mau pulang sekarang? ayo aku antar"


"Bukankah Kak Aldho baru selesai kerja pasti lelah. Kami naik taksi saja" tolak Windy. Namun Aldho bersikeras mengantar mereka. Akhirnya Windy dan Zara menyetujuinya.


Akhirnya mereka memasuki mobil Aldho dan ternyata Elisa masih membuntuti Aldho. Dia menyaksikan kedua remaja yang sebelumnya mengobrol begitu akrab itu masuk ke mobil Aldho.


"Siapa dia? jangan-jangan Pak Aldho..." pikiran Elisa mulai kemana-mana namun hal itu segera ditepisnya.


"Ah tidak mungkin. Tapi aku jadi semakin penasaran dengan pria itu" gumamnya.


Aldho tiba di rumah langsung mencari Cindy dan memberikan susu kedelai kesukaannya. Cindy sedang duduk di taman menikmati udara pagi.


"Selamat pagi Cindy, bagaimana keadaanmu?" sapa Aldho duduk di sebelah Cindy sembari memberikan susu kedelainya.


"Kak Aldho, apa ini? terimakasih ini kesukaanku" jawab Cindy berbinar.


Melihat senyum Cindy di pagi ini membuat Aldho semakin bersemangat.


"Kamu cantik saat tersenyum seperti ini" puji Aldho membuat Cindy semakin mengembangkan senyumnya.


Cindy memperhatikan Aldho yang terlihat sedikit mengantuk karena harus terjaga semalaman.


Cindy tak sengaja melihat sebuah noda di jas putih yang dipegang Aldho. Dia meraih jas tersebut dan memperhatikan noda itu ternyata adalah noda lipstik.


"Kenapa ada bekas lipstik disini?" tanya Cindy yang langsung menatap Aldho dengan tajam.


.


.


jangan lupa vote, like dan komen karya saya. Terimakasih 🌹🌹