Baby Blues

Baby Blues
Bab 44 kunang-kunang



Aldho keluar untuk mencari udara segar. Dia berjalan di sekitar pondok melihat pemandangan gemerlap lampu-lampu dari kejauhan. Hamparan kebun teh yang nampak gelap membuat kunang-kunang terlihat begitu banyak berterbangan.


Biasanya Cindy selalu suka dan menyuruh Aldho untuk menangkap kunang-kunang. Akhirnya Aldho mengambil video dari ponselnya dan mengirimkan kepada Cindy berharap Cindy masih melihatnya.


Namun lama tak ada balasan akhirnya Aldho melanjutkan jalan-jalannya dan tak sengaja bertemu Pak Fahri.


"Selamat malam Pak Fahri. Mau kemana pak?" sapa Aldho.


"Saya mau mencari Mas Aldho, tapi kebetulan kita bertemu disini. Saya bawakan toples untuk tempat kunang-kunang biasanya Non Cindy suka minta. Tutupnya sudah saya lubangi untuk jalan udaranya"


"Terimakasih pak, tapi Cindy sudah tidur. Dia lelah katanya" Aldho menerima toples itu lalu lanjut mengobrol dengan Pak Fahri di salah satu gazebo dekat kebun teh.


Banyak yang mereka obrolkan mulai dari kabar keluarganya hingga pertanyaan tentang kehamilan Cindy. Memang selama ini Pak Fahri tidak tahu soal kehamilan Cindy serta pernikahannya dengan Aldho yang mendadak. Akhirnya Aldho menceritakan semuanya kepada Pak Fahri karena memang beliau sudah seperti keluarga sendiri.


"Saya benar-benar kasihan kepada Non Cindy, dia gadis yang baik dan pintar. Kenapa bisa bernasib malang seperti itu"ucap Pak Fahri ketika mendengar cerita dari Aldho.


.


Cindy masih termenung memikirkan Aldho tiba-tiba ponselnya berbunyi. Cindy membuka ponselnya ternyata Aldho mengirim video. Namun sinyal yang kurang bagus membuat video tersebut sedikit lama dibuka.


Setelah beberapa saat Cindy membuka video tersebut ternyata Aldho mengirim video kunang-kunang yang banyak di kebun teh.


"Sayang, kunang-kunang nya banyak ini. Mau dicarikan?" ucap Aldho di sela-sela videonya.


Mendengar suara Aldho membuat hati Cindy merasa bersalah. Biar bagaimanapun Aldho tetaplah Aldho. Mungkin kebetulan dia bersaudara dengan Roger tapi bukan berarti Aldho sama dengan Roger.


Cindy tersadar akan tujuannya kesini adalah untuk menghibur Aldho bukannya mengabaikannya. Akhirnya dia bergegas keluar mencari Aldho hingga lupa tidak memakai alas kaki.


Sampai di luar Cindy tidak menemukan keberadaan Aldho. Suasana begitu sepi akhirnya Cindy tetap memutuskan mencari Aldho.


Hampir setengah jam Cindy mencari Aldho namun tidak juga menemukannya. Dia mencoba untuk menghubunginya namun lagi-lagi sinyalnya buruk sehingga tidak dapat tersambung.


"Kak Aldho.. Kamu dimana?" rengek Cindy kebingungan.


Cindy berjalan putus asa karena tidak menemukan Aldho namun samar-samar dia mendengar suara orang sedang mengobrol. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari sumber suara itu.


Ternyata Aldho sedang berbincang dengan Pak Fahri di sebuah gazebo. Cindy merasa begitu lega dan langsung berlari menghampiri Aldho.


"Kak Aldho..." teriak Cindy.


Aldho menoleh melihat Cindy. Tak lama kemudian Cindy langsung memeluk Aldho seperti anak kecil yang ditinggal lama.


"kamu tidak jadi tidur?" tanya Aldho.


"Aku mencarimu, dari tadi berputar-putar tidak ketemu" rengek Cindy.


"Iya sayang maaf, kan sekarang sudah ketemu"


Pak Fahri hanya tersenyum melihat tingkah dua sejoli tersebut. Kakak adik yang kini jadi suami istri.


Beberapa saat kemudian Cindy meminta Aldho untuk mencarikan kunang-kunang. Kebiasaannya yang selalu dia lakukan sejak kecil. Selalu Aldho yang disuruh walaupun orang lain yang mencarikan tetap saja Cindy meminta Aldho kembali.


Begitupun Aldho selalu dengan senang hati mencarikan kunang-kunang untuk Cindy. Melihat senyum cerianya membuat hati Aldho terasa damai.


Selesai mencari kunang-kunang mereka berniat untuk kembali ke pondok. Namun Cindy nampak berjalan tertatih. Saat Aldho memeriksanya ternyata Cindy tidak memakai alas kaki.


"Cindy, kenapa kamu tidak pakai alas kaki?" tanya Aldho sembari memeriksa kaki Cindy.


"Emm.. Sebenarnya tadi aku buru-buru keluar mencarimu jadi aku lupa tidak pakai alas kaki"


Aldho mengusap rambut Cindy dengan raut wajah cemas.


"Yaampun, maaf sayang aku membuatmu khawatir. Sini aku gendong saja. Kakimu sepertinya terluka"


Akhirnya Aldho menggendong Cindy di punggungnya persis seperti waktu kecilnya.


"Eh, Kak Aldho mau apa?" Cindy terkejut ketika Aldho mulai memegang kaki Cindy untuk dibersihkan.


"Mau membersihkan kakimu"


"jangan, aku bisa bersihkan sendiri" Cindy menolaknya namun Aldho tidak mempedulikan. Dia terus menyeka kaki Cindy dengan pelan.


Dengan sedikit meringis kesakitan Cindy merasakan setiap usapan tangan Aldho. Terdapat beberapa luka lecet di kakinya akibat terkena batu dan ranting. Aldho dengan telaten mengobati lukanya. Air mata Cindy kini mulai mengalir. Bukan karena kesakitan namun karena perasaan bersalahnya kepada Aldho yang telah berpikir negatif tentang suaminya.


"Cindy, kamu menangis? Apa begitu sakit?" Aldho mulai khawatir dengan Cindy.


"Tidak, tidak sakit.. Hanya saja..." Cindy belum sempat meneruskan ucapannya namun dia semakin terisak.


"Maaf.. Maafkan aku Kak Aldho. Aku sudah berfikir buruk tentangmu" Cindy meneruskan ucapannya.


Aldho menyelesaikan mengobati kaki Cindy kemudian dia bangkit dan memeluk Cindy.


"Tidak apa-apa aku mengerti. Ini mungkin terasa sulit untukmu tapi percayalah aku tidak seperti dia"


Cindy merasa bahagia dan lega memiliki Aldho yang selalu menjaganya dan menerima segala kekurangannya.


Aldho membopong tubuh Cindy ke kamar dan membaringkannya. Cindy selalu menyukai sikap romantis Aldho. Hal itu pula yang selalu membuat Cindy tak ingin jauh-jauh dari Aldho.


Aldho dan Cindy berbaring di ranjang saling memandang. Tak ada obrolan hanya senyum indah terpancar menghiasi wajah mereka seolah mewakilkan segala perasaan kedua insan ini.


Cindy menautkan jemari tangannya dengan jemari Aldho sebagai tanda saling memiliki.


"I love you" ucap Aldho sebelum mengecup kening Cindy.


Kemudian mereka tertidur dengan saling memeluk.


.


Pak Theo sedang mengamati kamar Roger yang kosong. Dia teramat merindukan putranya yang sudah beberapa bulan ini sama sekali tidak ada kabar. Padahal dia ingin sekali memberitahukan bahwa Aldho adalah kakaknya.


Deretan foto berbingkai tertata rapi di atas meja salah satunya foto Aldho dan Roger sewaktu SMA. Keduanya mengenakan pakaian putih abu-abu dengan pose saling merangkul.


Pak Theo mengambil foto itu dan tersenyum betapa dia sangat menginginkan momen ini kembali. Andai saja saat itu fia sudah tahu bahwa Aldho adalah putranya pasti sangat bahagia.


Dulu Roger selalu mendambakan sosok kakak dan menganggap Aldho seperti kakaknya. Kini hal itu jadi kenyataan namun keadaan yang merubah segalanya.


"Kamu dimana Roger, papa sangat merindukanmu" Pak Theo mendekap Foto tersebut.


Saat sedang tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba Bi Lila berlari mencari Pak Theo sembari membawa telepon.


"Tuan... Tuan..." Panggil Bi Lila sambil ngos-ngosan.


"Ada apa Lila?"


"I-ini.. Tuan. Ada telepon" ucap Bi Lila Terbata.


"Dari siapa?"Pak Theo penasaran.


"anu.. Dari Tuan Roger"


.


.


.


...----------------...