
Aldho tercengang mendengar ucapan wanita itu. Dia sama sekali tidak mengenalnya tapi kenapa dia menyebut Aldho sebagai putranya.
"Grace, aku sudah lelah menunggu. Akui saja kebenarannya bahwa aku adalah ibunya Aldho." Wanita itu terus mendesak Mama Grace.
"Ma, apa maksudnya ini?" Aldho semakin tidak mengerti.
Mama Grace tidak mampu berkata-kata. Dia bingung bagaimana menyampaikannya kepada Aldho.
"Ayolah ma, jangan buat Aldho semakin bingung. Mama bilang orang tuaku sudah meninggal. Tapi kenapa dia bilang begitu. Lalu siapa ayah jake dan mama Rosa?"
"Aldho, ayah bisa jelaskan. Kamu tenang dulu" Akhirnya Pak Tirta yang menjelaskan kepada Aldho.
"Jake dan Rosa bukanlah orang tua kandungmu. Sebenarnya kami mengadopsi mu dari panti asuhan. Maaf ayah tidak jujur, ayah hanya tidak ingin kamu merasa terasingkan Aldho. Tapi ayah dan mama sangat menyayangimu. Dan dia benar ibumu"
Aldho sangat terkejut dan terpukul ketika mendengar pernyataan ayahnya. Selama ini dia hidup dalam bayang-bayang kematian orang tuanya. Ternyata orang tua aslinya masih ada.
"Sejak kapan ayah, kenapa tidak memberitahuku?"
"Hampir setahun lalu kami baru mendapat kabar tentang ibumu. Sebenarnya kami ingin memberitahumu tapi saat itu keluarga kita sedang ada masalah. maafkan ayah Aldho"
Cindy yang tidak mengerti apa-apa hanya diam terpaku. Suasana pesta yang semula meriah kini berubah menjadi tegang sehingga para tamu berangsur mulai berpamitan pulang.
Pak Theo selesai dari toilet dan menelepon kembali ke taman namun dia terkejut ketika mendapati taman yang sudah sepi. Kemudian dia melihat Aldho dan ayahnya sedang berargumen. Akhirnya Pak Theo mendatanginya namun dia terkejut ketika melihat seorang wanita yang dikenalnya.
"Viona" ucap Pak Theo.
"Theo" wanita itu sama terkejutnya.
"Om Theo kenal dia? dia mengaku sebagai ibuku apa itu benar?" Aldho langsung menyahut Pak Theo.
"A-apa katamu? dia bilang ibumu?" Pak Theo terkejut.
Wanita itu nampak gusar ketika Pak Theo bertanya.
"Viona apa benar yang dikatakan Aldho?"
"Iya, dan dia putramu juga" jawab wanita itu.
Aldho dan semua orang dibuat semakin bingung. Pertama seorang wanita mengaku ibunya sekarang Pak Theo sebagai ayahnya.
"Apa lagi ini? drama macam apa lagi ini?" Aldho nampak marah kepada wanita itu.
Cindy langsung menghampiri Aldho yang terlihat emosi. Dengan cepat dia menggenggam tangan Aldho berharap pria itu bisa sedikit menahan amarahnya.
"Sayang tenanglah dulu?" bisik Cindy lirih.
"Tidak bisa Cindy, semua orang sedang mempermainkan aku. Mereka pikir aku apa? anak terbuang." Aldho merasa sangat sesak di dadanya.
"Aldho, sayang bukan seperti itu maksud kami" Mama Grace mencoba meredam amarah Aldho.
"Kalian semua tidak bisa dipercaya" Aldho melepaskan genggaman Cindy dan berjalan meninggalkan semua orang. Cindy langsung berjalan menyusul Aldho yang berlari ke dalam kamar.
Aldho duduk termenung di atas ranjang. Cindy tidak tega melihat suaminya yang sedang kacau. Dia memeluk Aldho berusaha membuatnya tenang.
"Sayang, aku bersamamu. Aku mencintaimu" Cindy membelai punggung Aldho.
"Maaf Cindy aku mengacaukan pestamu"
Di luar Pak Theo berpamitan dan mengajak Viona untuk pergi dari rumah Pak Tirta.
"Apa maksudmu Aldho anakku Viona?"
Viona terdiam namun Pak Theo terus mendesak akhirnya dia menceritakan semua.
"Sejak kamu memutuskan pergi ke Australia aku baru menyadari bahwa aku hamil. Aku ingin memberitahumu tapi kamu sudah menikah dengan wanita itu. Aku begitu malu saat itu akhirnya aku memutuskan pergi dari rumah orang tuaku dan pergi ke Irlandia melahirkan Aldho sendiri. Aku tidak mampu merawatnya jadi aku membawa bayiku ke panti asuhan. Tahu sendiri kan jika ayahku tahu pasti dia akan membunuhku" sambil menangis Viona menceritakan masa lalunya.
"Maafkan aku Viona. Aku benar-benar tidak tahu. Aku sangat menyesal"
Pak Theo dan Viona dulu adalah sepasang kekasih. Mereka menjalin hubungan cukup lama namun kedua orang tua yang tidak setuju membuat hubungan mereka berakhir. Ditambah Pak Theo saat itu dijodohkan dengan ibu Roger.
"Sekarang aku ingin mengambil kembali Aldho. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya"
"Tapi tidak semudah itu Viona. Aldho sudah dewasa. Dia juga sudah memiliki keluarga. Dia pasti memiliki keputusan sendiri"
.
Aldho masih tidak mau beranjak dari kamar. Dia hanya bersandar di bahu Cindy tanpa mengucap sepatah kata. Cindy pun hanya bisa menemani Aldho. Dia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Jujur saja dia sangat terkejut ketika wanita itu mengatakan bahwa Aldho adalah putra Pak Theo. Jika benar itu berarti Aldho adalah kakak Roger.
Tiba-tiba Aldho beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa.
"Kak Aldho mau kemana?" Cindy mencoba mengikuti Aldho namun langsung dicegah.
"Cindy, aku butuh waktu sendiri. Maaf" Aldho berlalu meninggalkan Cindy,begitu juga saat berpapasan dengan Mama Grace dan Pak Tirta. Aldho langsung berjalan keluar tidak mengatakan sepatah katapun.
Aldho langsung menancap gas mobilnya membuat kedua orang tuanya ikut khawatir.
"Cindy, mau kemana Aldho sore-sore begini?" tanya Mama Grace penasaran.
"Aku tidak tahu ma, Dia tidak mengatakan apa-apa" Cindy sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan Aldho yang pergi sendiri. Namun dia hanya bisa pasrah.
Aldho termenung di pinggir danau. Dia masih memikirkan kejadian siang tadi. Masa lalunya begitu rumit. Mama Dan Ayahnya ternyata selama ini telah berbohong tentang orang tuanya, hal itu membuat hatinya semakin sakit.
Ditambah pernyataan bahwa Pak Theo adalah ayahnya semakin membuatnya jadi pusing.
Hingga larut malam Aldho belum juga kembali membuat Cindy semakin khawatir. Dia terus menatap keluar jendela berharap Aldho segera datang.
Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipinya. Ini benar-benar membuat Cindy kalut. Memikirkan Aldho yang tidak-tidak. Sedangkan bayi dalam perutnya terus menendang-nendang membuat Cindy semakin tidak nyaman.
"Papamu belum pulang, tolong jangan seperti ini" Cindy mengelus perutnya kesal. Biasanya Aldho yang selalu mengelus perutnya dengan lembut.
Rasa kantuk melanda Cindy, akhirnya dia merebahkan dirinya di ranjang. Lama kelamaan dia mulai tertidur pulas.
Aldho baru sampai rumah sekitar jam 2 dini hari. Dia langsung menuju kamar mendapati Cindy telah terlelap. Aldho berbaring dengan perlahan disamping Cindy agar tidak membangunkannya. Dia amati wajah cantik istrinya dengan seksama. Bulu mata lentiknya masih terlihat basah menyisakan air mata yang sejak tadi tak bisa ditahannya.
Aldho mengusap lembut bekas air mata Cindy lalu mengecup lembut keningnya.
"Maafkan aku sayang, pasti kamu khawatir sejak tadi" Aldho mengelus perut Cindy, kemudian terasa gerakan bayi dalam kandungannya. Sepertinya dia sudah menunggu usapan Aldho sejak tadi.
"Kamu juga harus tidur Cindy kecil" Aldho memeluk Cindy hingga terlelap.
.
.
.
lanjutt...