Baby Blues

Baby Blues
bab 105 Salah paham berujung penyesalan



Aldho terus menyetir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nafasnya terasa sangat sesak ketika mengingat potret Cindy yang sedang berduaan dengan pria lain.


Sayang sekali jalanan sedikit macet membuat Aldho tak berhenti mengumpat.


"Lain kali kamu harus berani sebagai laki-laki. Masak kasih bunga aja harus nitip ke aku" ujar Cindy sambil menoyor kepala Dimas.


"Ya habis gimana lagi Cin, Windy formal banget anaknya. Mandang wajahnya lama-lama aja gak kuat. Terlalu mempesona" Dimas senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Windy.


"Ya tapi sampai kapan? Bentar lagi gue brojol udah gak bisa kemana-mana." protes Cindy.


Rupanya kedekatan Dimas dan Cindy selama ini tak lain adalah untuk membantu Dimas agar bisa bersama Windy. Pria itu sangat menyukai Windy.


Sementara Aldho kini sudah berada di depan cafe. Langkahnya gemetar saat memasuki bangunan itu. Dia menatap sekeliling dan akhirnya menemukan sosok yang dia cari.


Dan benar saja di salah satu sudut cafe tampak Cindy sedang bercengkrama dengan Dimas. Aldho langsung menghampiri mereka dengan perasaan penuh emosi.


"CINDY.." Aldho berdiri di depan mereka.


Keduanya serempak menoleh. "Sayang, kamu disini juga? Aku kira di kampus" sapa Cindy santai.


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku? Kamu tega Cindy." Aldho tersengal, terlebih saat melihat buket bunga mawar tergeletak di atas meja mereka.


"Kak Aldho ini tidak seperti.." ucapan Dimas langsung terpotong.


"Diam kamu." Aldho menunjuk Dimas dengan tatapan mengerikan.


Aldho langsung berjalan cepat beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Cindy menyusul dibelakangnya dengan setengah berlari.


Untung saja saat itu cafe tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang dan karyawan.


" Kak Aldho tunggu, aku bisa jelaskan..." Cindy meraih tangan Aldho. Namun seketika Aldho menampik Cindy.


"Aku benar-benar kecewa padamu Cindy. Jika bosan denganku setidaknya lahirkan dulu anakku baru kamu cari yang lain." Tatapan Aldho yang penuh amarah membara membuat Cindy tak berdaya. Ucapannya benar-benar membuat hati Cindy serasa remuk.


Bulir-bulir air mata terus berjatuhan membasahi wajahnya. Dia hanya bisa menatap nanar kepergian Aldho yang langsung melesatkan mobilnya dari tempat itu.


"Cindy kamu baik-baik saja? Maafkan aku Cindy" Dimas menghampiri cindy.


"Dia menuduhku selingkuh" tangis Cindy pecah saat itu juga. Dimas yang kebingungan langsung menggiringnya masuk ke mobil dan mengantarnya pulang.


'Bagaimana aku bisa berpaling darimu? Sementara cintaku sudah kuberikan semuanya untukmu' batin Cindy dalam tangisnya.


Ingin sekali Cindy menghampiri Aldho namun dia tidak mungkin membawa masalah ke tempat kerjanya. Aldho sangat profesional dan dia tidak mungkin membeberkan urusan pribadinya menjadi konsumsi publik.


Akhirnya sampai di rumah dia merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari memegangi perutnya memikirkan kemarahan Aldho.


Sore berganti malam dan aldho masih belum pulang. Padahal biasanya dia akan pulang jam tiga sore. Namun ini sudah hampir jam tujuh malam dan Aldho belum juga menampakkan batang hidungnya.


Cindy begitu cemas ketika ponsel Aldho tak bisa dihubungi. Ditambah lagi Selina yang terus merengek karena Aldho sebenarnya menjanjikan nonton bioskop hari ini. Alhasil Kakek dan neneknya akhirnya pergi menemani Selina.


Sementara Aldho kini sedang menenggak minuman di meja bar. Pikirannya benar-benar kacau dan dia enggan pulang ke rumah. Melihat Cindy hanya akan menambah luka di hatinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 malam dan Aldho belum pulang sejak tadi siang membuat Cindy semakin resah.


Tak berselang lama dia mendengar suara mobil Aldho. Dia segera mengecek dari balik jendela kamarnya dan benar saja itu adalah Aldho.


Sayup-sayup Cindy mendengar langkah kaki Aldho. Dia pun sudah bersiap untuk menyambut dan menjelaskan apa yang terjadi.


Begitu Aldho membuka pintu kamarnya dia langsung menghampiri Cindy.


"Sayang, aku menunggumu" ujar Cindy lirih.


"Kau menungguku?" suara serak Aldho terasa berat. Dan dia tampak sangat berbeda. Matanya terlihat sipit dan memerah.


Cindy menghirup aroma Alkohol dari nafas Aldho.


"K-kamu mabuk Kak Aldho?"


Aldho sama sekali tak menggubris Cindy dan semakin liar. Dia merobek piyama Cindy dan memperlakukannya dengan kasar.


"Akh.. Sakit kak" pekik Cindy saat merasakan darah segar menetes dari ujung bibirnya.


"sakit? Sakit kamu bilang? Ini juga sakit? Lebih sakit mana dibanding penghianatan mu Cindy?" Aldho terus menghentak tubuhnya di atas Cindy seolah lupa bahwa istrinya sedang mengandung.


Cindy hanya bisa merintih pasrah sambil terisak merasakan keganasan Aldho malam ini. Sekilas dia teringat akan kejadian masa lalu saat Roger menodainya. Hampir mirip dengan perlakuan Aldho malam ini.


Setengah mabuk Aldho terus memacu dirinya dengan kasar. Cindy benar-benar takut sekaligus terkejut dengan sosok Aldho malam ini yang sangat berbeda dari biasanya. Siapakah suaminya saat ini? Apakah dia seorang monster?


.


Keesokan paginya Cindy merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Bahkan sekedar berjalan dia pun tertatih. Rasanya semua tulangnya telah lolos semalam.


Saat menatap tubuhnya di toilet dia mendapati beberapa bekas merah dan cakaran di kulitnya. Rasanya semakin perih saat Cindy mengguyurnya dengan air.


Wajah Cindy tampak pucat tapi dia harus merawat Selina dan mengantarnya sekolah sehingga dia harus memakai baju dengan leher tertutup untuk menyembunyikan bekas kemerahan di lehernya.


Hingga pulang dari mengantar Selina Aldho belum juga bangun. Cindy pun tak berani membangunkannya.


Beberapa jam kemudian tampak Aldho turun dari tangga. Dia sudah memakai pakaian kaos olah raga dan menenteng tas ranselnya. Sudah pasti dia bersiap pergi ke gym.


Tak ada tegur sapa bahkan Aldho sama sekali tak menoleh ke arahnya.


Cindy hanya bisa menghela nafasnya. Entah sampai kapan Aldho berhenti salah paham kepadanya.


Sampai juga Aldho di gym langganannya. Dia memulai pemanasan sebelum mulai workout. Saat hendak mengangkat beban dia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.


"Kak Aldho" seketika Aldho menoleh dan sialnya pria yang menyapanya adalah Dimas.


Aldho yang terlanjur kesal tak membalas sapaan Dimas. Dia langsung melangkah pergi meninggalkannya.


"Kak Aldho tunggu. Ada yang ingin aku sampaikan ku mohon" Dimas menghentikan langkah Aldho.


"Ada apa lagi? Hah?" ujar Aldho sarkas.


Dimas terus memohon kepada Aldho agar mendengarkan penjelasannya. Akhirnya dia pun menuruti.


"Kak, diantara aku dan Cindy tidak ada hubungan apapun. Kami murni sekedar teman" ujar Dimas sedikit gemetar karena melihat wajah Aldho yang tampak mengerikan jika sedang marah.


"Lalu kenapa kamu beri Cindy bunga. Apa itu wajar seorang yang hanya berteman sampai seperti itu?" decak Aldho kesal.


"Bunga itu bukan untuk Cindy, namun untuk Windy. Selama ini aku meminta bantuan kepada Cindy agar bisa dekat dengan Windy. Windy itu sangat sulit didekati tapi aku sangat menyukainya" Dimas coba menjelaskan.


"Cindy tidak mungkin berpaling darimu kak. Dia sangat mencintaimu bahkan setiap kali bertemu dia selalu menceritakan tentangmu kak" imbuhnya lagi.


Seketika Aldho terhenyak setelah mengetahui kebenarannya. Dia sudah mencurigai bahkan menuduh istrinya berselingkuh. Dia juga sudah berbuat kasar terhadap Cindy.


"Arrgghh..." Aldho frustasi dan menjambak rambutnya sendiri.


"Ya Tuhan apa yang sudah ku perbuat?" batinnya penuh sesal.


.


.


Bersambung...