Baby Blues

Baby Blues
bab 34 kejutan



Cindy akhirnya memutuskan untuk melihat jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Hatinya mulai tergugah setelah sekian lama dia enggan mengetahui segala hal tentang kandungannya. Terlebih gerakan janinnya terasa semakin kuat dan sering membuat hatinya merasakan sesuatu yang berbeda.


"Dia terus menendang perutku" Cindy menunjukkan bagian perut yang berdenyut. Sontak hal itu membuat Mama Grace serta pak Tirta sangat antusias.


"Sayang dulu saat aku hamil kamu juga seperti itu. Apalagi saat mendekati kelahiran. Gerakannya akan semakin sering" Mama Grace mengusap perut Cindy dengan lembut.


"Cindy apa kamu sudah tahu jenis kelaminnya?" Pak Tirta sangat penasaran dengan jenis kelamin bayi yang dikandung Cindy.


"Rencana hari ini aku akan ke rumah sakit untuk melihatnya Ayah, aku juga mulai penasaran"


"Mau ayah antar? Hari ini ayah tidak ada jam praktek jadi bisa santai"


"Boleh, tapi ayah tidak boleh ikut masuk ke ruang periksa karena aku akan membuat kejutan untuk kalian" Mau bagaimana lagi, Pak Tirta dan Mama Grace akhirnya menurut saja dengan putrinya.


Cindy bersiap ke rumah sakit dengan diantar orang tuanya. Saat ini Aldho sedang ada operasi besar jadi dia tidak bisa menjemput Cindy.


Seperti permintaan Cindy sebelumnya Pak Tirta dan Mama Grace tidak diperbolehkan untuk ikut ke dalam. Akhirnya mereka berpisah di depan rumah sakit.


Cindy ingin memeriksakan kandungannya ditemani Aldho. Jadi dia memutuskan untuk menunggu Aldho dulu di cafe rumah sakit. Saat sedang menikmati minuman Cindy bertemu dokter Sarah. Kebetulan dia sedang senggang jadi menemani Cindy mengobrol. Tidak terasa setengah jam berlalu Aldho menghampiri mereka.


"Cindy, sudah menunggu lama?" Aldho menghampiri Cindy tak lupa menyapa Dokter Sarah.


"Kamu sudah siap?" Aldho menanyakan sekali lagi kepada Cindy tentu saja Cindy mengangguk.


"Semoga sukses untuk kalian" Dokter Sarah nampak ikut senang dengan Cindy dan Aldho. Terlebih keadaan Cindy kini sudah mulai stabil.


Cindy mulai memasuki ruang periksa. Di dalam Dokter Helena sudah menunggu. Cindy mulai menjalani serangkaian pemeriksaan USG.


Dia melihat sosok bayi yang sudah terlihat sempurna. Aldho tak henti-hentinya tersenyum bahagia sembari mendengarkan penjelasan dari dokter Helena.


"Lihat Cindy, dia mirip denganmu" Aldho menunjuk ke arah layar monitor.


Cindy hanya melirik sebentar. Dia masih belum memiliki keberanian menatap sosok bayi yang ada di dalam perutnya. Aldho terus meyakinkan Cindy akhirnya dia mau melihat ke arah monitor.


Air matanya tak terbendung lagi. Rasa campur aduk tak bisa digambarkan Cindy yang ada hanya meloloskan air matanya.


Cindy menatap ke arah Aldho dan langsung memeluknya.


"Dia... anakku?" ucap Cindy terbata.


Aldho mengangguk dan menyeka air mata Cindy dengan jemarinya.


"Lalu apa jenis kelaminnya dok?" tanya Aldho penasaran.


"Jenis kelaminnya....."


.


Aldho keluar dari ruangan periksa dengan penuh kebahagiaan. Dia terus mengumbar senyum bahagia.


"Cindy aku tidak sabar memberitahukan hal ini kepada ayah dan Mama" ucap Aldho antusias.


"Aku ingin memberi mereka kejutan. Kita buat acara kecil-kecilan semacam baby shower bagaimana?"


"Baiklah terserah kamu saja aku ikut"


.


Aldho dan Cindy mulai mempersiapkan segala macam keperluan pesta. Mulai dari dekorasi serta makanan. Tak lupa mereka mengundang sahabat-sahabatnya.


Saat ini Cindy dan Aldho sedang sibuk memilih makanan yang akan dipesan untuk acara besok.


"Aldho" seseorang menyapa Aldho dari belakang.


Aldho berbalik dan mendapati Pak Theo, ayah Roger yang menyapa. Dengan segera Aldho menyambutnya karena hubungan Aldho dan ayah Roger memang terjalin cukup baik.


"Om Theo, kabarku baik, om sendiri apa kabar?" Cindy bertanya balik kepada Pak Theo.


"Baik nak. Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu kalian. Sepertinya kalian sedang sibuk mempersiapkan sesuatu?" tanya Pak Theo.


"Iya, sebenarnya Cindy ingin mengadakan pesta kecil-kecilan merayakan kehamilannya" balas Aldho.


"Bagus sekali, semoga lancar acaranya. Om hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Tapi jika butuh apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Pintu selalu terbuka"


"Jika tidak sibuk, om Theo boleh datang ke acara kami. Dia juga calon cucu anda kan" Cindy mengundang Pak Theo langsung membuat Aldho berdecak kagum. Sikapnya kini sudah mulai berubah lebih dewasa hal itu pula membuat Aldho semakin mencintainya.


"Baiklah aku akan usahakan datang. Terimakasih sudah mengundangku" Begitupun Pak Theo, dia merasa begitu bahagia saat Cindy mau mengundangnya. Setelah kejadian yang menimpa gadis itu Pak Theo tidak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri.


Aldho dan Cindy bersiap untuk pulang namun tiba-tiba ponsel Aldho berdering.


Aldho mendapat kabar bahwa salah satu pasiennya kritis sehingga dia harus kembali ke rumah sakit.


"Cindy aku harus kembali ke rumah sakit. Bagaimana kalau kamu naik taksi dulu? karena ini sangat darurat"


"Tidak aku ikut kamu sayang. Aku akan tunggu disana"


"Baiklah" Aldho bergegas menuju Rumah Sakit. Sementara Cindy menunggu Aldho di ruangannya.


Ternyata Aldho harus melakukan tindakan operasi. Namun Cindy tetap setia menunggunya. Baginya menunggu berapa lama pun jika untuk Aldho akan tetap menyenangkan.


Cindy sedang duduk memperhatikan pergerakan di perutnya. Terasa tendangan kaki mungil di perutnya membuat Cindy semakin penasaran.


"Kamu ingin cepat keluar? sabar ya ini belum waktunya" Cindy mengelus perutnya dengan lembut seperti yang biasa dilakukan Aldho.


"Kamu suka saat papamu melakukan ini?" Cindy terus berbicara sendiri dengan perutnya. Biasanya setiap pulang kerja Aldho selalu mengelus perut sendiri sembari mengajak mengobrol seolah bayi yang ada di dalam kandungannya mengerti.


Saat sedang memikirkan Aldho tiba-tiba terdengar seorang mengetuk pintu.


Terlihat Elisa yang mengetuk pintu. Sepertinya gadis itu tahu jika ada Cindy di dalam ruangan Aldho.


"Hai Cindy, aku melihatmu disini jadi ku bawakan susu kedelai kesukaanmu" sapa Elisa sembari memberikan sebotol susu kedelai.


"Hai Elisa terimakasih banyak" Cindy menerima susu kedelai itu.


"Cindy kamu tidak bosan disini dari tadi? Bagaimana jika kita mencari udara segar di luar"


"Itu bukan ide yang buruk, baiklah" Cindy menuruti Elisa untuk mengobrol di luar.


"Kita mau kemana?" Cindy terus bertanya ketika Elisa berjalan menuju tangga darurat.


"Aku akan menunjukkan tempat yang bagus"


Elisa dan Cindy tiba di atas atap gedung. Nampak pemandangan yang begitu indah dari sini.


"Bagus sekali Elisa" Cindy nampak kagum.


"Ini memang bagus Cindy. Apalagi sebelah sini" Elisa berjalan menuju tepi gedung.


"Tapi bukankah itu berbahaya" protes Cindy.


"Tidak, kemarilah Cindy"


Akhirnya Cindy menuruti Elisa berjalan di sampingnya. Namun tanpa di duga tiba-tiba Elisa mencengkeram tangan Cindy sementara tangan satunya mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku bajunya dan mengarahkan ke leher Cindy.


"Ini bagian terbaiknya" Ucap Elisa picik.


.


.