
"Roger..."
Bak tersambar petir di siang bolong Cindy kembali mendengar suara itu.
"Cindy, kamu masih mengenal suaraku. Apa kabarmu Cindy?" suara keluar dari ponsel tersebut.
Cindy langsung buru-buru memutus panggilan di ponselnya. Wajahnya berubah menjadi begitu panik. Tangannya mulai bergetar.
"Cindy ada apa? siapa yang menelepon?" tanya Windy penasaran.
Cindy menatap wajah Windy dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia nampak ketakutan.
"Roger... Roger meneleponku" ucap Cindy gemetar.
"Cindy, sudah jangan dipikirkan. Kamu tenang ya" Windy berusaha menenangkan Cindy.
"Windy, kenapa dia menghubungiku lagi setelah menghancurkan hatiku. Aku benar-benar tidak ingin berurusan dengannya lagi" dengan berlinang air mata Cindy masih mengingat trauma yang diberikan oleh Roger.
Tak berselang lama ponselnya berdering kembali. Nomor yang sama menghubunginya kembali. Cindy memberikan ponselnya kepada Windy. Meminta dia yang menjawab telepon dari Roger.
Akhirnya Cindy yang mengangkat teleponnya. Dia berjalan ke teras cafe untuk berbicara dengan Roger. Cukup lama mereka mengobrol.
Cindy hanya melihat dari kejauhan sembari mengelus perutnya yang mulai nampak berisi. Dia begitu membenci Roger saat ini walaupun dia adalah ayah dari bayi yang berada dalam kandungannya. Susah payah dia berusaha melupakan pria itu walaupun masih terngiang perbuatan bejat Roger yang membuatnya harus menanggung beban berat sendiri.
"Halo Cindy, kenapa kamu mematikan panggilannya?" ucap Roger dalam telepon.
"Maaf, aku Windy teman Cindy. Dia tidak bisa berbicara denganmu. Jadi jika ada perlu sampaikan saja kepadaku" ucap Windy berusaha tenang.
"Kenapa? aku hanya ingin tahu kabar Cindy, aku begitu merindukannya" protes Roger.
"Kabarnya baik, dia sangat baik dan bahagia sekarang. Jika sudah tidak ada yang disampaikan aku tutup sekarang"
"Tunggu, ku mohon aku ingin mendengarkan suara Cindy ku" Roger tetap bersikeras, akhirnya Windy pun mulai geram.
"Untuk apa memaksa ingin berbicara dengannya? tidak cukupkah kamu menghancurkan perasaannya saat itu? Kamu sudah merusak masa depan Cindy, lalu kamu memberi harapan dan kau hancurkan pula. Sejahat-jahatnya laki-laki hanya kamu Roger. Pria yang tak bertanggung jawab dan tak tahu diri" Windy puas memaki Roger dan langsung memutus panggilannya lalu memblokir nomor Roger dari ponsel Cindy.
Windy berjalan kembali ke tempat Cindy. Dia melihat sahabatnya yang malang itu sedang menunggunya.
"Bagaimana Windy? apa terjadi sesuatu?" tanya Cindy penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Aku sudah membereskannya, kamu tenang saja dia tidak akan menghubungimu lagi"
"Windy aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kamu saat ini"
"Sudah jangan pikirkan dia lagi. Yang penting sekarang pikirkan saja suamimu, Kak Aldho."
.
Cindy berpamitan dengan Windy untuk pulang. Namun Windy tidak tega melihat keadaan Cindy yang masih terguncang. Akhirnya Windy yang menemani pulang ke rumah.
Di rumah Mama Grace menyambut dengan bahagia. Akhirnya anaknya sudah berbaikan dengan sahabatnya.
"Ma, aku sangat lelah ingin istirahat tolong jangan bangunkan aku ya" Ucap Cindy agar Mamanya tidak menghampiri ke kamarnya.
Cindy masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Dia kembali mengingat tentang Roger. Setelah pergi begitu saja akhirnya dia muncul kembali walau hanya melalui panggilan telepon. Mendengar suaranya saja sudah sangat menyesakkan untuk Cindy. Trauma yang mendalam membuatnya sulit untuk melupakan kejadian yang menimpanya.
"Aku tidak sanggup lagi. Aku membencimu.. benar benar membencimu" Cindy meremas perut ya sendiri.
Untung saja Mama Grace sedang di dalam kamarnya sehingga tidak mengetahui Aldho yang datang dengan terburu-buru hingga dia masih memakai seragam medis.
Aldho membuka pintu kamar mendapati Cindy yang sedang menangis bersimpuh di lantai sambil memukuli perutnya.
Aldho langsung berlari meraih tangan Cindy dan menghentikannya.
"Cindy hentikan. Apa yang kamu lakukan"
"Cindy terkejut dengan kedatangan Aldho. Dia langsung menangis sejadi-jadinya meluapkan semuanya kepada Aldho.
"Aku benci dia.. aku benci anak ini..." Cindy terus mengulang-ulang ucapannya. Sepertinya traumanya kali ini cukup berat hingga dia ingin menyakiti dirinya sendiri.
Aldho langsung meraih tubuh Cindy dan mendekapnya dengan erat.
"Sayang tenanglah, ada aku disini jangan takut" Aldho menciumi keningnya berharap Cindy bisa mereda.
"Kak Aldho kenapa aku seperti ini, setiap kali aku marah aku selalu ingin menyakiti diriku sendiri."
Aldho begitu prihatin dengan keadaan Cindy yang kembali memburuk. Susah payah dia berusaha membuat Cindy melupakan traumanya kini malah kembali lagi.
Jika saja Roger berada di hadapannya saat ini dia ingin sekali menghancurkannya hingga dia tidak muncul sama sekali di hidup Cindy.
"Cindy, apapun yang terjadi jangan pernah mencoba menyakiti dirimu. Itu sama saja menyakitiku. Aku sangat mencintaimu Cindy aku tidak bisa melihatmu terluka" Aldho terus memeluk Cindy dan menenangkannya hingga dia berhasil tertidur.
Aldho mengecup lembut kening Cindy kemudian berjalan keluar kamar. Dia duduk termenung di taman memikirkan keadaan Cindy yang begitu memprihatinkan. Aldho tak henti-hentinya mengutuki dirinya sendiri akan kejadian yang telah menimpa Cindy. Tak terasa air matanya meleleh begitu saja. Hatinya begitu perih hingga akhirnya tak sanggup menahan kesedihan di dalam hatinya. Aldho menangis terisak hingga Mama Grace mendengar suara Aldho dengan segera menghampiri putranya itu.
"Aldho, kenapa sayang"
Aldho hanya menatap sendu wajah Mamanya. Dengan segera Mama Grace memeluk Aldho yang langsung berhambur dalam dekapannya.
"Ma, maafkan Aldho ma. Aldho gagal menjaga Cindy" ucap Aldho sambil terisak.
"Aldho, tenangkan dirimu. Tidak ada yang perlu di sesali semua telah terjadi. Jangan menyalahkan dirimu nak" Mama Grace mencoba menenangkan Aldho.
Pria yang terlihat begitu tegar dalam menghadapi segala situasi kini menampakkan sisi lemahnya. Aldho hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.
Mama Grace menyaksikan apa yang Cindy alami saat ini. Serta Aldho yang nampak terpukul. Hatinya begitu sakit melihat keadaan putrinya yang sangat trauma serta Aldho yang menanggung beban berat karena ulah temannya.
Akhirnya Mama Grace bergegas mendatangi kediaman Pak Theo ayah Roger.
Setibanya disana Mama Grace dipersilahkan untuk memasuki rumah dan tak berselang lama Pak Theo menemui Mama Grace.
"Selamat sore Bu Grace, apa kabar?" sapa Pak Theo.
"Selamat sore, Kabar saya kurang baik sehingga saya kesini" Mama Grace langsung mengutarakan perasaannya tanpa basa-basi.
"Maaf, apa yang terjadi? Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya pak Theo.
Mama Grace mulai berkaca-kaca. Dia menatap nanar mengingat keadaan anak-anaknya di rumah. Tak terasa tangisnya mulai pecah hingga membuat Pak Theo semakin bingung.
"Cindy,Aldho....." Mama Grace tak mampu meneruskan ucapannya.
.
.