
Viona bak kebakaran jenggot setelah mendengar kabar kedatangan Cindy. Dia benar-benar khawatir jika Aldho akan kembali ke pelukan Cindy.
Dia terus memikirkan cara agar mereka tetap terpisah. Akhirnya Viona kembali menggunakan Selina sebagai alat.
Pagi-pagi setelah berangkat kerja Viona segera pergi ke rumahnya kebetulan Selina sedang libur sekolah.
"Selina sayang mau ikut nenek jalan-jalan?" awalnya Selina enggan namun mama Grace yang memintanya untuk ikut sehingga Selina mau ikut.
Mereka pergi ke taman sembari membeli es krim.
"Selina, sebenarnya ada yang ingin nenek tanyakan kepadamu" ungkap Viona mencoba merangkai kata-kata agar Selina tidak terganggu.
"Kenapa nek? Pasti tentang mamaku?" Selina langsung mengatakan ke poinnya membuat Viona lega. Akhirnya dia tak perlu susah-susah menjelaskan.
"iya sayang, kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Viona.
"Kemarin bertemu di pemakaman tante Tika" jawab Selina santai.
"Bagaimana respon dia kepadamu?"
"Kami belum mengobrol. Dia masih mengobrol dengan papa dan belum sempat bertemu lagi denganku" ungkap Selina sembari memakan es krimnya.
"Dia tidak menyapamu? Tidak memelukmu? Berarti dugaanku benar" pancing Viona.
"Kenapa nek?" Selina mulai penasaran.
"Mamamu tidak pernah peduli denganmu. Dia tidak pernah menginginkamu" ungkap Viona.
"Tapi papa bilang mama sayang aku, cuman mama masih sibuk." elak Selina.
"Bukan sibuk tapi mama kamu memang tidak menginginkanmu. Mana ada mama yang meninggalkan anaknya seperti itu?"
Viona tak sadar bahwa sebenarnya dia juga melakukan hal yang sama. Lebih parah bahkan dia tega meninggalkan Aldho di panti asuhan dan baru mencarinya setelah dewasa.
.
Cindy selesai mandi dan kini sedang duduk termenung di atas ranjang. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai berantakan.
Windy yang melihat keadaan Cindy merasa iba. Diambilnya sisir di atas meja kemudian dia mulai duduk dibelakang Cindy dan perlahan menyisir rambutnya.
"Win, aku baru ketemu Roger" ungkap Cindy datar.
Windy terkejut dan menghentikan kegiatannya. "Sungguh? Kapan? Dimana?"
"Kemarin lusa, di Milan. Kamu ingat Rebecca temanku kan? Dia adalah tunangan Roger. Dan aku baru tahu itu" ungkap Cindy.
"Yaampun Cindy, kamu yang sabar ya" Windy memeluk sahabatnya untuk menguatkan.
"Aku sangat menyayangi Selina, aku merindukannya tapi aku takut dia tidak mau menerimaku" sambil terisak Cindy meluapkan semua isi hatinya.
"Tapi kamu harus mencobanya Cindy, temuilah Selina dan juga orang tuamu. Mereka pasti sudah menunggumu"
Sejenak Cindy mulai memikirkan ucapan Windy. Dan akhirnya dia bertekad untuk pergi ke rumah orang tuanya sore nanti.
.
Aldho baru pulang dar kerja dan dia seperti mencari seseorang di rumahnya.
"Mencari siapa Aldho?" tanya Mama Grace.
"Tidak Ma, apa ada yang kesini tadi?"
Mama Grace menggeleng. "Tidak ada Aldho"
Aldho merasa seperti ada kekecewaan dalam hatinya. Mungkin karena dia terlalu berharap terhadap Cindy.
"Papa, aku mau beli es krim.." lamunan Aldho tiba-tiba sirna saat Selina memanggilnya.
"Iya sayang ayo beli sama papa" Aldho bergegas mengantar Selina membeli es krim.
Di rumah tinggal Mama Grace dan Pak Tirta sedang bersantai menonton tv. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Mama Grace segera membuka pintu dan betapa terkejutnya saat melihat seseorang yang datang.
"Ci-Cindy...." Mama Grace terbata. Dia benar-benar tidak menyangka akan kedatangan Cindy.
"Mama..." Cindy mulai berkaca-kaca.
Tak berselang lama Mama Grace langsung memeluk Cindy. Mereka saling melepas kerinduan yang bertumpuk selama bertahun-tahun ini.
Akhirnya Pak Tirta menyusul ke depan dan mendapati istrinya sedang memeluk seseorang.
"Ayah..." sapa Cindy saat melihat kedatangan Pak Tirta.
"Anakku..." Pak Tirta menatap Cindy dengan tatapan tak percaya. Dia melihat dari atas sampai bawah untuk memastikan apakah itu benar putrinya yang sangat dia rindukan selama ini.
Pak Tirta akhirnya ikut memeluk Cindy dengan erat.
Mama Grace mengajak Cindy untuk memasuki rumah. Dia menatap rumah yang dia tinggalkan selama beberapa tahun ini. Tak banyak perubahan hanya terdapat beberapa mainan di sudut ruangan.
Cindy menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia namun juga terharu.
"Ma.. Ayah.. Maafkan Cindy. Cindy telah menjadi anak yang durhaka" seketika Cindy bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Tentu saja Mama Grace segera menangkap tubuh Cindy untuk kembali bangkit.
"Sayang, kamu kembali itu saja sudah membuat kami bahagia. Kami sangat merindukanmu" ujar Pak Tirta.
Air mata Cindy tak terbendung lagi. Dia benar-benar bahagia melihat kedua orang tuanya. Tak banyak perbedaan hanya rambut Pak Tirta yang lebih banyak uban.
Mereka mengobrol satu sama lain sembari melepas kerinduan.
Tak berselang lama terdengar suara deru mobil. Rupanya Aldho dan Selina sudah pulang.
Saat memasuki rumah Selina langsung menghampiri kakeknya tanpa melihat keberadaan Cindy.
"Sayang, lihat siapa yang datang" Pak Tirta menunjuk Cindy.
Selina melihat Cindy yang sedang duduk di samping Mama Grace. Cindy nampak tersenyum kepada Selina.
"Hai sayang" Cindy mendekati Selina.
Namun Selina justru menjauh dan berlari ke kamarnya.
Aldho yang baru masuk ke dalam rumah melihat Selina dan langsung mengikutinya.
Cindy terlihat begitu cemas. Dia benar-benar sedih.
Sementara Selina langsung meringkuk di atas ranjang. Dia menangis sembari menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Sayang, kamu kenapa?" Aldho mengusap punggung Selina.
Selina langsung beringsut memeluk Aldho.
"Papa, aku tidak mau mama. Mama tidak menyayangiku" sambil terisak Selina terus meringkuk di pelukan Aldho.
"Sayang, siapa bilang Mama tidak menyayangimu. Kamu hanya belum mengenalnya. Semua akan baik-baik saja" Aldho mencoba memberi pengertian kepada putrinya. Apapun yang dikatakan Aldho pasti Selina akan menurut. Namun kali ini dia sedikit sulit karena hatinya yang terlanjur bersedih.
Aldho menemui Cindy dan mereka berbicara empat mata. Sesekali Aldho melirik Cindy karena dia begitu merindukan istrinya.
"Kak Aldho maafkan aku. Aku memang ibu yang buruk untuk Selina." Cindy mulai meneteskan air matanya.
"Semua butuh waktu Cindy, Selina masih belum terbiasa denganmu" Aldho mencoba untuk berbicara santai kepada Cindy meski hatinya sedang berdebar.
Ingin sekali Aldho memeluk Cindy dan meluapkan semua kerinduannya namun dia tidak bisa melakukannya karena jarak di antara mereka membuatnya canggung. Bahkan sekedar bertanya alasan Cindy pergi dari rumah tidak mampu Aldho ungkapkan.
Mereka hanya berbicara beberapa tentang Selina.
Ketika Cindy berpamitan pulang Aldho hanya bisa menatapnya dengan perasaan sedih. Ingin sekali dia mengatakan agar Cindy menginap di rumah namun lidahnya kelu.
.
Rebecca pulang ke apartemen dengan wajah ditekuk sementara Roger sedang melamun di balkon sembari melihat keramaian kota Milan.
Semenjak bertemu Cindy membuat Roger sering melamun.
"Sayang kamu dari mana pergi pagi-pagi sekali?" tanya Roger saat Rebecca kembali.
"Aku pergi menemui Julieta namun dia sudah kembali ke Indonesia" ungkap Rebecca sedih.
"Apa? Cindy kembali ke Indonesia?" Roger seolah merasakan kehilangan sekali. Terlihat dari sorot matanya yang membuat Rebecca mulai cemburu.
.
.
...****************...