Baby Blues

Baby Blues
bab 39 orang baru



"Siapa Aldho? sepertinya penting?" tanya Mama Grace ketika Aldho selesai menelpon. Terlihat di wajah Aldho sedikit cemas.


"Teman lama ma, dia ingin bertemu"


"Baiklah, temui saja. Siapa tahu penting"


"Iya ma"


Saat berada di kamar Cindy memandangi Aldho yang sedikit gelisah. Dia penasaran dengan seorang yang menelpon suaminya.


"Teman lama siapa yang ingin bertemu? apa perempuan?" tanya Cindy sedikit menelisik.


"iya, dia perempuan" jawab Aldho singkat.


"Apa? perempuan? apa jangan-jangan..." belum sempat Cindy meneruskan ucapannya dia sudah cemberut lebih dahulu. Hal itu membuat Aldho semakin gemas.


"jangan-jangan apa?kamu cemburu?" goda Aldho.


"Ti-tidak.... emmm.. boleh aku ikut?"


Aldho menggenggam kedua tangan Cindy lalu menciumnya dengan lembut.


"Sayang, dia bukan teman lamaku. Dia adalah ibu Viona. Dia ingin bertemu denganku. Jika aku bilang itu kepada Mama dia pasti akan kepikiran. Aku hanya ingin menjaga perasaannya"


Cindy mengangguk pelan seolah dia tahu apa yang dirasakan suaminya. Tentunya hal ini cukup sulit.


"Baiklah, ikutlah denganku karena aku juga akan canggung jika harus menemuinya seorang diri" Cindy pun menyetujui Aldho dan pergi menemani Aldho bertemu bu Viona.


Setelah bersiap dan menentukan tempat nya Aldho dan Cindy berangkat untuk bertemu wanita itu. Di sepanjang jalan Aldho nampak cemas dan gelisah. Cindy berkali-kali mencoba untuk menenangkannya.


Tiba di salah satu restoran tempat mereka membuat janji. Aldho dan Cindy mulai memasuki restoran tersebut dan mendapati seorang wanita yang kemarin mendatanginya.


Wanita itu nampak cantik dan elegan. Dari penampilannya sudah terlihat bahwa dia seorang dari kalangan kelas atas.


"Selamat pagi. Maaf sedikit telat, jalanan macet" ucap Aldho menyapa wanita tersebut.


"Tidak apa-apa Aldho, aku sudah biasa menunggu. Bahkan aku siap menunggu sampai lama. Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu" ucap Viona.


Viona nampak memandangi Cindy yang datang bersama Aldho kemudian Aldho juga memperkenalkan Cindy kepada Viona.


"Perkenalkan ini Cindy, istriku. Aku mengajaknya karena aku merasa canggung jika bertemu sendiri denganmu" Aldho memang selalu jujur dan tidak pandai basa-basi.


"Selamat pagi. Perkenalkan saya Cindy" Cindy mengenalkan dirinya dan menjabat tangan Viona.


"Istrimu cantik Aldho. Bagaimana kalian kenal?" tanya Viona.


"Sebenarnya dia adik angkatku. Putri ayah Tirta" ucap Aldho langsung. Sontak hal itu membuat Viona terkejut.


Setelah berbincang Aldho langsung membahas ke inti pembicaraannya.


"Maaf, sebenarnya aku masih sulit menerimamu sebagai ibuku. Jadi aku perlu bukti yang lebih nyata" ucap Aldho.


"Apa yang harus aku buktikan Aldho?"


"Kita lakukan tes DNA" ucap Aldho dengan hati yang sedikit sesak.


Viona akhirnya menyetujui daripada Aldho tidak mau mengakuinya sebagai ibu.


"Jika sudah tidak ada yang dibahas aku ingin berpamitan. Ada sesuatu yang harus ku urus" Aldho berpamitan kepada Viona. Wanita itu menatap Cindy dengan pandangan yang sedikit menelisik. Viona merasa bahwa Cindy kurang cocok menjadi istri ideal untuk Aldho.


Aldho keluar restoran dengan menggandeng tangan Cindy. Nampak wajahnya yang sedikit tegang setelah pertemuannya dengan Viona.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Cindy setelah masuk mobilnya.


"Aku tidak suka caranya memandangmu" ucap Aldho kesal.


Aldho menatap Cindy dan memeluknya. "Biar bagaimanapun kamu adalah istriku. Aku tidak suka orang lain memperlakukan istriku kurang baik. Terutama dia orang yang baru datang dari hidupku" Aldho mendengus kesal. Sebenarnya bukan hal itu yang membuatnya kesal melainkan alasan Viona yang meninggalkannya di panti asuhan.


Sementara Viona masih belum beranjak dari restoran tempat mereka bertemu. Dia terus mengaduk teh yang dipesan hingga dingin sambil memikirkan ungkapan Aldho bahwa istrinya adalah saudara angkatnya sendiri.


Itu berarti Aldho ada kemungkinan dimanfaatkan oleh keluarga Tirta untuk menikahi anaknya sendiri.


"Aku tak bisa biarkan ini. Aku harus bebaskan putraku dari keluarga licik itu" gumam Viona geram. Dia bertekad jika hasil tes DNA nya keluar dan positif maka Aldho harus bisa ikut bersamanya.


.


Sore ini Aldho bersiap untuk berangkat ke rumah sakit bersama Pak Tirta. Walaupun tempatnya berbeda namun Aldho tetap mengantar Ayahnya.


"Ayah jika nanti aku tidak ada urusan mendadak akan ku jemput lagi" Aldho berhenti di depan loby Rumah Sakit tempat Pak Tirta bekerja.


"Baik Al, ayah kerja dulu. Semoga lancar pekerjaanmu" Pak Tirta dan Aldho berpisah. Kini Aldho bersiap melanjutkan perjalanannya.


Saat hampir menancap gasnya Aldho melihat Dokter Sarah terapis Cindy sedang menunggu taksi.


"Bu Dokter, mau kemana? mau saya antar?" tawar Aldho.


"Baiklah. Kebetulan mau ke rumah sakit. Pak Dokter Aldho mau ke rumah sakit juga?"


"Iya saya ada jadwal sore, Silahkan Bu" Aldho membukakan pintu mobil untuk Dokter Sarah.


Di sepanjang perjalanan Aldho mengobrol banyak tentang perkembangan psikologis Cindy.


"Bagaimana konseling Cindy lancar kan bu dokter?" tanya Aldho.


"Sejauh ini lancar, traumanya juga hampir sembuh tapi kita tetap antisipasi ketika melahirkan karena hal itu bisa saja kambuh. Ibu pasca persalinan rawan stres dan jika dibiarkan bisa terjadi sindrom baby blues. Pak Aldho harus siap untuk terus mendampingi nona Cindy."


"Baik bu Dokter terimakasih sarannya. Saya pasti menjaga Cindy dengan baik"


Mengatasi masalah Cindy sudah menjadi hal biasa untuk Aldho.


.


Cindy sedang berada di kamar Aldho. Sudah lama Aldho tidak menggunakan kamarnya. Jadi Cindy berinisiatif untuk menggunakan kamar Aldho sebagai ruang kerja agar Aldho bisa lebih leluasa saat mempelajari diagnosa pasien.


Saat Cindy sedang membereskan barang-barang Aldho dia melihat sebuah pigura yang tergeletak di dalam laci. Cindy mengambil dan melihatnya. Dia terkejut ketika ternyata di foto itu adalah foto Aldho bersama Roger saat masih SMA.


Cindy mengamati dengan seksama wajah Aldho dan Roger yang memang memiliki kemiripan. Jika benar mereka bersaudara lantas hal itu bisa menjadi rumit untuk Cindy.


Hidupnya kini bak sinetron. Adiknya yang menghamili sedangkan kakaknya yang bertanggung jawab.


Cindy menatap nanar wajah Roger dalam foto tersebut. Andai saja dia tidak melakukan sesuatu kepada Cindy saat itu semua akan berjalan normal. Bahkan Cindy bisa melanjutkan sekolahnya dan mengejar cita-citanya. Dan mungkin Aldho saat ini sudah melakukan studi di Amerika seperti keinginannya.


Tak terasa air mata lolos mengalir di pipi Cindy. Dia menangis terisak kembali meratapi masa depannya yang hancur.


Ia mengingat saat-saat Roger menodai Cindy dengan keji lalu lari bagai pengecut. Hal itu membuat hatinya begitu sakit. Sekeras apapun dia berusaha melupakan kejadian itu namun tetap saja karena itu adalah trauma besar yang telah tertancap di dalam ingatannya.


Cindy hanya bisa mengelus perutnya sambil membayangkan bagaimana dia menjadi ibu dalam usia yang begitu muda tanpa pengalaman apapun.


"Bagaimana aku bisa menerimamu sedangkan hatiku terus ketakutan karenamu" ungkapnya dalam tangis.


.


.


.


......................