
Pagi ini Rebecca pergi ke apartemen Cindy. Dia ingin meminta maaf sekaligus memastikan keadaan sahabatnya tersebut.
Berkali-kali dia memencet bel pintu namun Cindy tidak ada jawaban dari Cindy. Setengah jam berlalu sepertinya Cindy tidak di rumah. Ponselnya juga tidak aktif.
Akhirnya Rebecca mencari tahu keberadaan Cindy kepada Angel. Angel mengatakan bahwa Cindy pulang ke Indonesia. Hal itu membuat Rebecca semakin merasa bersalah.
"Jully, apa kamu pergi karena Roger?" sesal Rebecca.
.
Cindy masih tak percaya bahwa dirinya sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia.
Cindy ragu apakah harus menemui keluarganya namun dia tidak memiliki keberanian untuk itu.
Sekitar tujuh belas jam mengudara akhirnya Cindy sampai di bandara. Nampak Windy melambaikan tangan menjemputnya. Keduanya segera berpelukan untuk melepas rindu.
"Bagaimana perjalananmu Cindy?" tanya Windy.
"Aku sedikit pusing, mungkin karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh" balas Cindy.
Mereka langsung menuju kediaman Windy karena Cindy akan menginap disana sebelum pemakaman Tika.
Disepanjang perjalanan Cindy tak henti-hentinya menanyakan tentang Tika.
"Tika mengidap kanker paru stadium akhir. Sebenarnya dia tinggal di Singapura adalah untuk berobat. Selama ini dia menyembunyikan dari semua orang" jelas Windy.
Cindy tak kuasa menahan kesedihannya mengingat Tika adalah sahabat dekatnya.
Sampai di rumah Windy mereka langsung menuju kamar. Cindy membongkar koper bawaannya dan memberikan beberapa oleh-oleh yang dibawanya sebelum berangkat ke bandara.
Saat mengeluarkan barangnya tiba-tiba sesuatu terjatuh ke lantai. Sebuah foto Cindy saat bersama Aldho dan Selina. Windy hendak mengambilnya tiba-tiba Cindy langsung menyambar foto tersebut.
"Cindy kamu masih menyimpan foto itu?" tanya Windy.
Cindy hanya diam. Dia bingung bagaimana menjelaskan kepada Windy.
"Windy, tolong jangan bahas mereka untuk sekarang ini" ucap Cindy.
Windy akhirnya diam dan tak membahas tentang Aldho. Hanya saja dalam hatinya dia bertekad untuk mempertemukan mereka. Karena Windy yakin keduanya masih saling mencintai.
"Kalian harus kembali bersatu apapun yang terjadi" gumam Windy dalam hati.
.
Tiba di hari pemakaman Tika. Semua orang sudah berkumpul mulai dari keluarga dan para kerabat serta teman-temannya termasuk Zara. Cindy tak kuasa menahan air mata kesedihannya saat menyaksikan penghormatan terakhir sahabatnya itu. Dia hanya fokus terhadap pemakaman Tika tanpa menyadari bahwa di kejauhan Aldho sedang memperhatikannya.
Selesai upacara pemakaman para pelayat mulai meninggalkan tempat. Cindy yang masih bersedih berjalan dengan merapatkan dirinya ke lengan Windy.
"Tante Windy..." tiba-tiba terdengar teriakan dari seorang anak kecil.
Windy menoleh begitupun dengan Cindy.
"Selina" Windy langsung menghampiri gadis kecil itu.
Cindy hanya bisa tertegun melihat sosok anak perempuan berparas cantik itu. Tampak Aldho berdiri di belakangnya.
Jantung Cindy berdebar kencang melihat pria yang setiap hari dia rindukan itu.
"Selina ayo ikut tante, tante punya sesuatu untukmu" tanpa menunggu lama Windy langsung mengajak Selina pergi.
Kini tinggal Cindy dan Aldho berdua. Mereka masih berdiri di tempat yang sama. Saling berhadapan namun tak berani menatap.
Lidah Cindy terasa kelu bahkan untuk menelan salifanya sendiri terasa begitu berat. Dia hanya bisa menunduk tak berani menatap Aldho. Cindy terlalu malu untuk melakukannya.
Namun berbeda dengan Aldho. Dia terus menatap dan memperhatikan wanita yang telah dia nanti selama ini.
"Kak Aldho apa kabar?" ucap Cindy dengan gemetar.
"Kabarku baik Cindy. Bagaimana kabarmu?"balas Aldho.
Cindy masih menunduk dan tak langsung menjawab pertanyaan Aldho. Tangannya mulai gemetar serta keringat dingin mulai menjalari tubuhnya.
Cukup lama Cindy diam dan tak bicara sepatah katapun. Aldho mulai bangkit dari tempat duduknya.
"maaf Cindy aku harus pergi. Selina menungguku. Temuilah Mama dan Ayah, mereka sangat merindukanmu" ungkap Aldho sebelum meninggalkan Cindy.
Langkah Aldho terasa begitu berat namun dia tak bisa berbuat banyak melihat Cindy yang tak merespon dirinya. Sepertinya Cindy belum siap bertemu dengannya.
Melihat Aldho yang pergi semakin jauh membuat Cindy tak kuasa menahan air matanya. Ingin sekali dia memeluk Aldho dan mencurahkan semua kerinduannya namun nampaknya tidak mungkin terjadi. Ini adalah keputusan Cindy sendiri yang telah meninggalkannya.
Sementara Aldho kini telah menghampiri Selina.
"Sayang, sudah kita pulang sekarang" tampak Aldho menyimpan kesedihan di wajahnya.
Aldho berpamitan dengan Windy. Sebelum itu dia berpesan untuk tetap menjaga Cindy.
Di perjalanan Selina menyadari ada yang berbeda dengan Aldho. "Pa, siapa perempuan yang bersama tante Windy? Dia teman papa juga?" tanya bocah kecil itu.
Aldho hanya tersenyum dan mengusap lembut kepala Selina.
"Sayangku, nanti papa akan ceritakan kepadamu. Tapi tidak sekarang karena papa masih menyetir"
Selina hanya mengangguk menuruti Aldho. Sementara Aldho masih bingung bagaimana menjelaskannya kepada Selina bahwa dia adalah ibunya.
Windy segera menghampiri Cindy yang menangis di bangku."Cindy kamu baik-baik saja?" Windy merasa kasihan terhadap Cindy.
Cindy langsung memeluk sahabatnya dan menumpahkan semua kesedihannya.
"Aku bodoh Win, benar-benar bodoh." sambil terisak Cindy mengatakan kepada Windy.
"Cindy, kamu masih bisa memperbaiki semuanya. Ini belum terlambat." ujar Windy.
Sejenak Cindy berpikir apakah dirinya masih layak untuk Aldho dan Selina. Bagaimana pula dia menghadapi putrinya sendiri yang telah dia tinggalkan selama ini.
Windy juga menjelaskan bahwa Aldho hingga saat ini tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan orang lain.
"Apa benar dia masih mencintaiku atau sebenarnya dia hanya tidak ingin berkomitmen terhadap orang lain agar dirinya tidak disusahkan oleh pasangannya?" gumam Cindy dalam hati.
.
Sampai di rumah Selina terus mendesak Aldho untuk menceritakan siapa wanita yang bersamanya tadi. Namun sebelum itu Aldho mencoba untuk minta saran kepada mama dan ayahnya. Bagaimanapun dia utuh nasehat kedua orang tua tuanya.
Awalnya mama Grace dan Pak Tirta terkejut mendengar Cindy yang telah pulang. Namun Aldho tak bisa memastikan apakah Cindy mau bertemu dengan kedua orang tuanya atau tidak.
Yang jelas saat ini Aldho butuh pencerahan dari kedua orang tuanya bagaimana menjelaskan kepada Selina tanpa melukai perasaannya.
Aldho melihat Selina yang sedang sibuk menggambar di kamarnya. Kemudian dia menghampiri putrinya tersebut sambil membawa sebuah album foto.
"Sayang, sedang menggambar apa?" tanya Aldho.
"Aku sedang menggambar bunga milik kakek Pa" balas Selina dengan sibuknya.
"Kamu masih penasaran dengan perempuan yang bersama papa tadi?" tanya Aldho.
Selina langsung meletakkan pensilnya dan duduk disamping Aldho.
"Iya pa, aku penasaran. Karena aku lihat papa jadi sedih setelah bertemu dengannya" balas Selina.
Kemudian Aldho menyodorkan sebuah Album foto kenangan saat Cindy melakukan baby shower sampai ulang tahun pertama Selina.
"Ini kan foto mamaku" ucap Selina.
Aldho meminta untuk memperhatikan wajah sosok mamanya yang ada di foto itu. Sejenak Selina mengingat wajah perempuan yang bersama papanya tadi.
"Jadi.. Perempuan tadi itu mama?" ungkap Selina.
.
.
Bersambung......