Baby Blues

Baby Blues
bab 20 hari bersamanya



Aldho menghampiri Cindy yang masih duduk di ranjang.


"Cindy, maaf tadi aku benar-benar tidak sadar"


"hmm... ya tidak apa-apa. Kak Aldho sarapan yuk. Aku sudah sangat lapar" ajak Cindy.


"Ayo, aku juga lapar" Aldho berdiri dan langsung berjalan keluar.


" Ehh.. kak pakai baju dulu. Nggak enak dilihat mama nanti"


"oh iya lupa" Aldho tersenyum sembari mengambil kaos yang ada di lemari dan langsung memakainya.


Aldho dan Cindy turun ke bawah namun mama dan ayahnya sudah tidak ada disana. Hanya ada dua buah piring dan makanan yang sudah dingin.


Benar saja mereka sudah terlalu lama untuk menunggu sarapan jadi kedua orang tuanya pasti sarapan duluan. Akhirnya Aldho dan Cindy hanya makan berdua.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Cindy.


"Terserah kamu ingin kemana. Oh ya katanya teman-temanmu nanti mau kesini jadi tidak usah jauh- jauh ya" pinta Aldho.


"Baiklah, kalau begitu kakak antar aku cari buku saja. Buat bacaan di rumah agar tidak bosan" jawab Cindy.


"Baiklah setelah ini kita berangkat"


Cindy dan Aldho sudah bersiap lalu berangkat menuju ke salah satu pusat perbelanjaan. Pertama-tama mereka mencari buku bacaan. Lalu Aldho menawari Cindy untuk belanja pakaian. Setelah itu mereka pergi ke salon. Hari ini Aldho menuruti semua keinginan Cindy. Hingga saat di salon pun Aldho terpaksa menurut dengan Cindy untuk ikut melakukan treatment creambath.


"Kamu masih ingin kemana lagi Cindy?" tanya Aldho setelah selesai dari salon.


" Aku lapar.." ucap Cindy sembari memegang perutnya.


"Baiklah ayo kita cari makan. Ada restoran steak enak kamu mau kesana?"


"boleh" jawab Cindy.


Hari ini adalah hari paling memanjakan untuk Cindy. Memang Aldho cukup sering mengajak Cindy menghabiskan akhir pekan bersama, namun entah kenapa setelah menikah dengan Aldho terasa lebih intim.


Aldho mengajak Cindy ke restoran tujuan. Mereka memesan steak dengan kesukaan masing-masing. Saat makanan tiba Aldho dengan cekatan mengambil piring Cindy dan memotong steak milik Cindy hingga siap makan.


Aldho lebih senang langsung bertindak dibandingkan banyak bicara.


Cindy sangat menikmati makan siangnya begitupun dengan Aldho sebelum akhirnya ponsel Aldho berdering.


Aldho mengangkat teleponnya ternyata dari IGD rumah sakit. Pembicaraannya terdengar cukup Serius.


"Ada apa kak?" tanya Cindy.


"Ada pasien korban kecelakaan anak-anak mengalami pendarahan di dadanya, sepertinya harus segera dioperasi. Ini darurat"


"Baiklah Kak Aldho segera kesana saja"


"Iya Cindy, aku akan mengantarmu pulang dulu"


"Bukankah rumah sakit lebih dekat dari sini? jika mengantarku pulang nanti malah buang-buang waktu"


"Tapi bagaimana denganmu?"


"sudah jangan pikirkan aku, atau aku ikut kakak ke rumah sakit saja tidak apa"


"Baiklah" Karena terburu-buru akhirnya Aldho langsung ke rumah sakit bersama Cindy. Lima menit kemudian mereka tiba.


"Operasinya mungkin satu sampai dua jam baru selesai. Apa kamu tidak bosan menunggu?"


"Tidak, aku akan membaca buku yang aku beli tadi"


"Baiklah kalau begitu tunggu saja di ruanganku"


Aldho mengantar Cindy ke ruangannya. Sebenarnya ini bukan ruangan pribadi Aldho, namun karena Aldho satu-satunya dokter bedah anak di rumah sakit ini jadi dia harus tinggal sendiri di ruangan itu.


Cindy memasuki ruangan bersama Aldho. Ruangan yang cukup bersih dan rapi khas gaya Aldho. Sementara Aldho sedang bersiap untuk operasinya.


"Baiklah aku tinggal dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Jika ingin makan kamu bisa ke kantin" ucap Aldho.


"Semoga berhasil" ucap Cindy.


Aldho terlihat berbinar. Dia begitu senang dengan perlakuan manis Cindy.


.


Aldho sedang berkutat dengan operasinya. Sementara Cindy masih menunggu di ruangan Aldho. Satu jam berlalu namun Aldho belum juga selesai. Untuk mengurangi kebosanan Cindy mulai melihat-lihat buku yang ada di rak. Dia mengambil beberapa dan membacanya.


Tiba-tiba Cindy mendengar pintu yang terbuka. Dengan segera dia menoleh dan mengira itu Aldho namun ternyata bukan. Dia adalah seorang perawat.


Cindy terkejut ketika melihat seorang perawat masuk tanpa mengetuk pintu.


"Maaf, ada perlu apa? kak Aldho masih ada operasi darurat" ucap Cindy.


Ternyata perawat itu adalah Elisa. Dia sedikit kelabakan ketika melihat seseorang gadis di ruangan Aldho. Namun Saat Cindy menyebut Panggilan Kak kepada Aldho membuat Elisa menyadari bahwa Cindy adalah adik dari Aldho.


"emm.. begitu ya, maaf apa anda adik dari dokter Aldho?" tanya Elisa ingin tahu.


Cindy hanya mengangguk. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Memang benar dia adik Aldho namun statusnya kini juga istrinya.


Tiba-tiba Elisa langsung duduk di sofa dekat Cindy. Dia menyodorkan dua botol susu kedelai kepada Cindy.


"Sebenarnya aku tadi sedang lewat di depan ruangan Pak Dokter lalu melihat lampu yang menyala. Jadi ku pikir Pak Dokter di ruangannya. Aku hanya sedikit berbagi tapi jika kamu mau boleh ambil"


"Baiklah terima kasih"


Elisa mencoba mendekati Cindy dengan dalih agar lebih akrab. Sebenarnya dia ingin menggali informasi lebih dalam tentang Aldho.


"perkenalkan aku Elisa, aku perawat disini" Elisa memperkenalkan dirinya.


"Aku Cindy," balas Cindy.


Awalnya Cindy sedikit cuek namun Elisa terus mengajaknya berbicara membuat dirinya cepat akrab. Elisa juga menanyakan banyak hal terutama soal Aldho. Cindy tidak menaruh curiga sama sekali bahwa Elisa menyukai Aldho. Baginya dia hanyalah perawat yang baik kepada semua orang.


"Oh ya Cindy, apa kakakmu itu sudah memiliki kekasih?"


Cindy belum sempat membalas namun ponsel Elisa berdering dan dia berpamitan pergi. Dia harus melanjutkan pekerjaannya.


Sendirian membuat Cindy mulai mengantuk. Akhirnya dia mulai tertidur di atas sofa. Tak lama kemudian Aldho datang ke ruangannya karena Operasi sudah selesai.


Aldho melihat ruangannya yang berantakan karena buku-buku berserakan di rak dan di meja. Biasanya dia langsung mengomeli Cindy namun kali ini dia melihat Cindy yang tengah tertidur lelap. Aldho mendekati Cindy dan memperhatikan gadis itu.


Tidur saja tetap cantik, batin Aldho. Dia membelai lembut pipi Cindy membuat gadis itu jadi terbangun.


Cindy mengerjapkan matanya sejenak lalu menyadari ada Aldho di depannya.


"Kak Aldho, sudah selesai?" tanya Cindy.


"Iya Cindy. Maaf sudah membuatmu menunggu lama"


"Tidak apa-apa. hmm.. Kak Aldho terlihat keren pakai baju itu" Cindy menunjuk baju ok yang dipakai Aldho selepas operasi.


"Benarkah? ini pertama kalinya kamu melihatku bekerja kan?"


"Bagaimana operasinya tadi?" tanya Cindy


"Operasinya lancar, walaupun tadi di tengah-tengah pasien sempat kehilangan banyak darah"


"iya kak. Oh tadi ada yang mencari kak Aldho. Lalu dia memberikan ini" Cindy memberikan susu kedelai yang biasa dibeli Aldho untuk Cindy.


"Memangnya siapa yang mencariku?"


"Seorang perawat namanya Elisa"


.


.