
Sejak awal Cindy dikenal sebagai istri Aldho. Dan kabar kehamilannya memang menjadi perhatian khusus bagi para karyawan karena pesona Aldho sebagai dokter muda yang rupawan begitu memikat hati terutama para staf wanita.
Saat Cindy melahirkan bayinya, para karyawan silih berganti ingin melihat wajah anak Aldho dan Cindy. Mereka penasaran secantik apa putri Aldho. Semua orang memuji kecantikan bayi itu namun ada sesuatu yang janggal yaitu warna mata bayi yang tampak berbeda dari kedua orang tuanya. Hal itu pula yang menjadi perdebatan banyak orang.
"Bayi Pak Aldho sangat cantik seperti ibunya. Namun ada yang berbeda dari warna matanya, sepertinya tidak seperti ayah ibunya" ucap salah satu staf rumah sakit.
"Apakah mungkin terjadi kelainan genetik?" jawab yang lainnya.
Elisa sedang berjalan dan tak sengaja menangkap pembicaraan para staf tersebut.
"Sebenarnya bukan kelainan genetik, tapi keturunan dari ayah biologisnya." ucap Elisa.
"Apa maksudmu? Mata Pak Aldho berwarna coklat"
Kemudian Elisa mendekat ke staf tersebut seraya berbisik.
"Begini, aku mendapat kabar bahwa Cindy tidak hamil bersama Pak Aldho, melainkan pria lain. Dan parahnya pria tersebut adalah adik kandung Pak Aldho sendiri" Ucap Elisa tanpa menceritakan secara detail kejadiannya saat Cindy mengalami pelecehan oleh Roger. Hal itu pula memancing kegeraman para staf.
"Jadi maksudmu Pak Aldho hanya dijadikan tumbal oleh adik-adiknya?"
"Hmmm.. Bisa jadi begitu" ucap Elisa dengan entengnya.
.
Sudah dua hari sejak Cindy melahirkan dia masih tidak mau melihat bayinya. Namun Aldho dan kedua orang tuanya dengan telaten bergantian merawat Cindy dan bayinya.
Cindy tidak mau berbicara dengan siapapun bahkan dengan Aldho, namun perhatian dan kasih sayang Aldho tak pernah berkurang sedikitpun. Setiap kali selesai praktek ataupun mengecek pasien Aldho selalu menyempatkan menemani Cindy atau menggendong bayinya.
Jika sudah membaik besok Cindy sudah diperbolehkan untuk pulang begitu juga bayinya. Hal itu membuat Mama Grace semakin bahagia.
Di luar semua orang mulai membicarakan tentang Aldho dan Cindy. Rupanya rumor begitu cepat tersebar. Beberapa dari mereka menyebut bahwa Cindy adalah wanita yang licik. Namun Ada juga yang menyebut bahwa hal itu adalah skenario orang tuanya mengingat Aldho hanyalah anak angkat.
Viona dan Pak Theo sudah janjian datang ke rumah sakit berniat menjenguk Cindy dan cucunya. Dia datang lebih dulu namun saat berjalan melewati beberapa staf dia tak sengaja mendengar obrolan tersebut.
Karena penasaran Viona akhirnya berhenti sebentar dan mencoba menangkap pembicaraan mereka. Betapa terkejutnya ketika dia mendengar perihal Cindy yang hamil dengan pria lain.
Tanpa berlama-lama Viona langsung berniat mencari kebenarannya. Dia segera datang menemui Cindy namun saat hendak masuk buru-buru Mama Grace menghentikannya.
"Selamat pagi Viona,mau menemui Cindy?" sapa Mama Grace.
"Iya, aku ada urusan dengannya"
"Emm.. Sebaiknya jangan masuk dulu. Perawat sedang membersihkan dan mengganti pakaian Cindy." ucap Mama Grace.
Akhirnya Viona mengurungkan niatnya dan menunggu di depan ruangan. Tak lama kemudian Pak Theo menghampiri mereka.
"Selamat pagi Bu Grace, bagaimana keadaan Cindy?"
"Sudah lebih baik Pak Theo. Namun Dokter yang menanganinya terapi bilang dia mengalami sindrom baby blues jadi kita harus bersabar untuk sementara waktu"
"Terapi? Terapi apa Cindy? Apa yang dia alami?" sahut Viona.
"Viona, nanti akan ku jelaskan?" ucap Pak Theo.
"Kenapa harus nanti? Aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi? Tadi aku mendengar para staf membicarakan tentang Cindy. Bahwa dia melahirkan anak dengan pria lain apa itu juga benar?" Viona sudah mulai emosi. Sepertinya selama ini dia tidak tahu banyak tentang keluarga ini. Begitu banyak rahasia.
"Baiklah, ayo ikut aku sekarang. Akan ku jelaskan" Pak Theo mengajak Viona pergi dari tempat itu.
Saat berjalan di koridor mereka berpapasan dengan Aldho yang kebetulan selesai shift malam.
"Nah, Aldho. Kebetulan ada kamu. Sibuk tidak? kalau tidak ayo ikut papa" ucap Pak Theo.
"Tidak pa, Aldho baru selesai shift malam. Memangnya ada apa?"
"Ada ke salah pahaman yang perlu diluruskan. Bisa carikan tempat yang tepat untuk mengobrol?"
"Baik, kita ke ruanganku saja" Akhirnya Aldho mengajak kedua orang tuanya ke ruangannya.
Sampai di ruangan Aldho Viona langsung menagih jawaban Theo.
"Jelaskan sekarang apa yang terjadi? Apa benar bayi itu bukan darah daging Aldho"
Aldho sedikit terkejut. Ternyata ibunya sudah tahu tentang kebenarannya.
"Iya, benar bu. Aku bukan ayah biologis dari bayi itu. Tapi aku siap menjadi ayahnya" ucap Aldho.
"Apa? Apa yang kamu katakan Aldho? dimana pikiranmu? Cindy menjalin hubungan dengan pria lain dan kamu yang bertanggung jawab? Tidak bisa seenaknya begitu. Lalu pria mana yang sudah tidur dengan istrimu?" balas Viona dengan penuh emosi.
" Viona. Dengarkan aku. Cindy adalah gadis yang baik. Tapi nasibnya saja yang tidak beruntung." ucap Pak Theo.
"Gadis baik apanya yang suka tidur dengan sembarang pria" ucap Viona bersungut-sungut.
"Bu Vio tong jaga ucapan anda" gertak Aldho.
"Cindy diperkosa oleh Roger putraku. Dan dia tidak bertanggung jawab lalu lari ke luar negeri. Jadi jangan salahkan Cindy, salahkan aku yang tidak bisa mendidik putraku dengan baik. Aku ayah yang gagal" ucap Pak Theo penuh penyesalan.
"Papa..." Aldho menepuk bahu mencoba menenangkan Pak Theo.
Viona terdiam sejenak. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Susah payah dia mencoba untuk menerima Cindy dan kini justru keadaan membuatnya kembali membencinya.
"Aldho jangan bilang kamu menikahi Cindy hanya karena ingin menutupi aib gadis itu. Apa Grace dan Tirta yang memaksamu?" hardik Viona.
"Tidak, sama sekali tidak ada yang memaksaku. Aku menikahi Cindy karena aku mencintainya. Aku sangat mencintai Cindy" ujar Aldho.
"Omong kosong. Kamu dibutakan oleh Cinta Aldho. Aku tidak bisa menerima itu. Kamu tidak bisa menjadikan bayi itu anakmu. Karena dia bukan darah dagingmu"
"Lebih baik aku merawat dan membesarkan bayi itu walaupun dia bukan darah dagingku. Daripada harus membuang dan menelantarkan darah dagingnya sendiri ke panti asuhan." jawab Aldho sinis.
Dengan marah Viona pergi meninggalkan mereka. Dia tidak terima jika Aldho harus menerima beban ini.
.
Cindy sudah mulai bisa beraktifitas dengan pelan-pelan sehingga dokter sudah mengijinkan untuk pulang.
Aldho sedang mengemasi barang-barang Cindy yang ada di ruangan itu sementara Mama Grace dan Pak Tirta mengurus cucunya.
"Sayang, sebentar lagi kita pulang. Pasti kamu sudah merindukan rumah kan?" ucap Aldho sambil mencium kening Cindy.
Cindy hanya diam tak bergeming. Semenjak dia mengetahui wajah bayinya dia enggan berbicara. Dia terus murung dan sedih. Namun Aldho tak habis kesabaran. Dia dengan telaten terus merawat Cindy.
"sayang aku rindu jamu yang centil dan ceria. Aku tidak akan menyerah untuk mencintaimu"
.
^^^.^^^