
Liburan Aldho dan Cindy di Bali kini sudah berakhir. Mereka sibuk packing dan hendak kembali. Tiba-tiba ponsel Cindy berdering.
Rupanya Windy yang menelepon. Dia hendak mampir ke rumah namun Cindy memberitahu bahwa dia masih di Bali dan akan pulang. Mungkin sore sudah sampai.
"Jangan lupa bawa oleh-olehnya ya Cindy" ujar Windy dalam telepon.
"Mau oleh-oleh apa? Mau dibawain cowok bule satu? Apa bule lokal aja kayak Kak Aldho" Ledek Cindy dalam teleponnya.
Mendengar ucapan bule lokal Aldho langsung tertawa. Memang benar dirinya berwajah bule karena keturunan dari Pak Theo yang asli dari Australia serta Viona memiliki darah keturunan Irlandia. Namun sejak kecil tinggal dan diasuh di Indonesia membuat dirinya sangat luwes dengan aksen lokalnya. Terutama medhok Jawa dari Pak Tirta yang asli orang jawa.
Bahkan selama di Bali Aldho sering ditanyai beberapa orang dengan bahasa Inggris.
Setelah berpamitan dengan Roger dan Rebecca kini Mereka melakukan perjalanan untuk pulang.
Tak butuh waktu lama, kurang dari tiga jam akhirnya mereka sampai.
Di rumah selina langsung menyambut kedatangan orang tuanya.
"Papa..." Selina langsung berlari memeluk Aldho.
"Papa kangen banget sama bidadari kecil ini" Aldho langsung mengangkat tubuh Selina dan menggendongnya.
Meski kini Selina semakin bertambah tinggi tak serta merta membuat Aldho masih memperlakukannya seperti anak kecil.
"Pa, mana adiknya?" Selina langsung menagih.
"Ayo tanggung jawab, sudah bilang apa kamu ke Selina?" ujar Mama Grace.
Aldho hanya terkekeh mengingat beberapa waktu lalu dia menjanjikan Selina tentang adik.
"Ya itu masih proses sayang nanti di perutnya Mama" balas Aldho.
Selina hanya mengangguk kemudian menghampiri Cindy dan mengelus perut mamanya. "Adek.. Cepat jadi di perut mama ya, aku ingin punya teman"
Cindy hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah putrinya.
"iya kakak, tapi nanti kalau ada aku yang rajin gendong ya" balas Cindy dengan suara mengecil.
.
Hari-hari Aldho dan Cindy kini kembali seperti biasa. Aldho bekerja di rumah sakit dan mengajar di kampus serta Cindy yang bekerja secara daring dari rumahnya.
Selina pergi ke sekolah, diantara kesibukannya Aldho dan Cindy masih menyempatkan waktunya untuk mengantar jemput putrinya.
Hari ini Aldho berangkat ke kampus pagi-pagi sekali karena harus mengajar mata kuliah sehingga Selina akan diantar oleh Cindy.
Sementara Selina kini sedikit rewel. Dia terus menangis dan tidak mau berangkat sekolah. Semua orang membujuknya dan tetap saja tidak mau.
Akhirnya Cindy menelpon Aldho dan meminta untuk membujuk Selina.
"Sayang, anak papa yang paling pintar katanya pengen jadi dokter seperti Papa. Harus rajin harus mau sekolah ya" ujar Aldho melalui teleponnya.
Seketika Selina menurut dan mau sekolah. Hanya Aldho yang bisa membuat bocah itu menurut.
Cindy akhirnya mengantar Selina ke sekolah. Meski mau berangkat sepertinya dia enggan berpisah dengan Cindy.
"Mama jangan tinggalin Selina" Bocah itu masih merengek.
"Mama tidak kemana-mana sayang, mama akan selalu ada buat Selina" Cindy Mengecup kening Selina dan memeluk putri kecilnya agar lebih baik.
Cindy kembali ke rumah setelah Selina memulai pelajarannya. Biasanya Selina rewel ketika kurang enak badan dan setelah mimpi buruk semalam sehingga hal itu menjadi hal biasa untuk Cindy.
Tak berselang lama Cindy mendapat telepon dari guru Selina.
"Halo, selamat pagi Bu Cindy" ucap Guru Selina.
"Halo, selamat pagi Bu. Maaf ada apa ya?" balas Cindy.
"Begini Bu, Selina mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari seluncuran dan sekarang kami membawanya ke rumah sakit. Mohon ibu Cindy segera kemari" ucap Guru Selina dengan nada panik.
Cindy langsung lemas mendengar kabar bahwa putrinya mengalami kecelakaan. Segera dia pergi ke rumah sakit didampingi mama Grace.
Sampai di rumah sakit dia dibuat terkejut karena keadaan Selina yang kepalanya bersimbah darah tak sadarkan diri.
Aldho juga sudah berada disana karena pihak rumah sakit yang menghubungi. Saat ini dokter bedah anak lain sedang cuti ke luar negeri dan mau tidak mau Aldho harus menangani Selina sendiri karena darurat.
"Selina..." teriak Cindy panik.
"Sayang do'akan Selina baik-baik saja ya" ucap Aldho sebelum masuk ke ruang operasi.
Satu jam didalam ruang operasi Aldho pun keluar menemui Cindy.
"Sayang bagaimana Selina?" Cindy langsung menanyai Aldho.
"Dia mengalami hematoma subdural, yaitu pendarahan didalam tengkoraknya namun tidak sampai ke otak jadi harus dikeluarkan gumpalannya agar tidak semakin menekan dan merusak syarafnya. Sementara ini aku butuh pendonor yang cocok dengan golongan darah Selina karena dia kehilangan darah cukup banyak dan stok kantong darah O negatif hanya tersedia sangat terbatas. Aku takut itu tidak cukup." Aldho terpaksa menyampaikan hal ini kepada Istrinya meski dia dilanda kecemasan.
"Golongan darahku AB, tapi sebentar mungkin Roger memiliki golongan darah yang sama" Ujar Cindy. Kemudian Aldho langsung menghubungi Roger. Saat ini dia masih berada di Bali.
Mendengar kabar tentang Selina Roger langsung bergegas untuk pulang. Kebetulan golongan darah Roger sama dengan Selina. Roger memilih jadwal penerbangan tercepat dan kurang dari tiga jam dia sampai di rumah sakit.
"Dimana Selina?" Roger menghampiri Cindy dan Mama Grace, diikuti Rebecca.
"Dia masih di ruang operasi" jawab Cindy.
Aldho segera memeriksa Roger dan setelah siap dia langsung melakukan prosedur transfusi darah ke tubuh Selina.
"Aldho, apa yang terjadi? Kenapa Selina bisa jatuh?" Roger tampak cemas.
"Aku juga tidak tahu pasti kejadiannya tapi saat ini yang terpenting adalah keselamatannya dulu" Aldho sama cemasnya dengan Roger namun dia harus berusaha tenang agar bisa fokus menangani Selina.
Dia tidak menyangka bahwa Aldho harus mengoperasi putrinya sendiri. Ada rasa tidak tega ketika dia harus menggunakan pisau bedah ke tubuh Selina. Namun ini adalah keadaan darurat dia tidak bisa membiarkan putri kesayangannya terancam keselamatannya.
Di luar Cindy terus menangis. "Tadi Selina tidak mau sekolah harusnya aku tidak membujuknya. Bahkan di sekolah dia tidak mau ditinggal dan aku meninggalkannya. Aku benar-benar ibu yang buruk" sesal Cindy. Dia ditenangkan oleh Mama Grace dan Rebecca. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Selina.
Sementara Guru Selina juga turut hadir menemui mereka.
"Bu, bagaimana bisa Selina terjatuh sampai seperti itu?" Rebecca mengajak Guru Selina untuk berbicara secara pribadi.
"Sebelumnya kami mohon maaf sebesar-besarnya. Kejadiannya begitu cepat. Saat istirahat Selina sedang bermain seluncuran bersama teman-temannya kemudian terjadi pertengkaran kecil dengan temannya. Tanpa diduga Selina terjatuh dan kepalanya terbentur lantai" ujar Guru Selina.
"Harusnya pihak sekolah memberi pengawasan yang lebih baik. Atau paling tidak beri area bermain yang aman. Ini adalah kelalaian dan jika terjadi apa-apa dengan Selina saya bisa menuntut kalian" ujar Rebecca dengan emosi.
"Maaf bu, maafkan saya" guru itu terus memohon maaf kepada Rebecca.
Rebecca yang dilanda emosi kembali menemui Cindy dan Mama Grace. Tak disangka tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Kamu kenapa sayang?" Mama Grace membantu Rebecca untuk duduk.
"Tidak apa-apa Ma, kepalaku hanya sedikit pusing. Mungkin hanya kelelahan" Rebecca menyenderkan kepalanya ke dinding.