Baby Blues

Baby Blues
bab 21 mengidam



Cindy pulang ke rumah bersama Aldho. Di perjalanan Zara menelepon, dia memberitahu Cindy bahwa dia akan datang bersama teman-teman.


Saat melihat jalan tiba-tiba Cindy berteriak kepada Aldho untuk menghentikan mobilnya.


"Kak Aldho, berhenti.." teriak Cindy.


"Ada apa Cindy? apa terjadi sesuatu?" Aldho langsung menepikan mobilnya dan berhenti.


"Lihat itu kak, ada mangga. Aku mau itu" Cindy menunjuk buah mangga yang bergelantungan di pohon.


"Yaampun Cindy, ku kira ada apa. Baiklah nanti kita mampir ke toko buah"


"Tidak mau, aku mau yang di pohon itu" rengek Cindy.


"Tapi itu milik orang Cindy" Aldho sebenarnya enggan untuk mengambilkan tapi melihat wajah Cindy yang memelas membuatnya tidak tega.


"Baiklah akan ku coba" Aldho keluar dari mobil dan berusaha meminta mangga kepada pemilik rumah.


Saat memencet bel terdengar suara gonggongan anjing. Benar saja di gerbang itu terdapat tulisan "Awas Anjing Galak". Namun ini semua demi Cindy. Dia harus bisa mendapatkan mangganya.


Pintu dibuka oleh pemilik rumah. Seorang pria tua dengan wajah sedikit ketus menanyai Aldho.


"Ada apa? Siapa kamu?" tanya pria itu.


"Perkenalkan saya Aldho pak, maaf sebelumnya apa boleh saya membeli sedikit mangganya? Istri saya sedang hamil dan menginginkan mangga itu" pinta Aldho.


"Mangga itu tidak dijual. Kenapa kamu tidak cari di tempat lain saja?"


"Istri saya tidak mau pak. Dia ingin sekali mangga itu. Saya mohon bolehkan saya ambil satu saja?"


"Dimana istrimu?"


Akhirnya Aldho memanggil Cindy untuk menemui pemilik mangga.


"Pak ini istri saya"


"Kamu benar sedang hamil nak?" tanya pria tua itu.


"Benar pak, sebenarnya sudah beberapa kali saya lewat sangat menginginkan mangga anda. Namun kali ini benar-benar tidak bisa ditahan lagi" ucap Cindy memelas.


"Baiklah, suruh suamimu mengambil sendiri"


"Baik terima kasih pak" Cindy nampak senang.


Namun masalah baru bagi Aldho. Karena anjing galak itu ada di bawah pohon dan dia harus memanjat pohon itu. Akhirnya dengan susah payah dia berhasil mendapatkan mangga yang diinginkan Cindy. Belum sampai disitu, tubuhnya pun gatal-gatal karena digigiti semut yang ada di pohon itu.


"Silahkan tuan puteri ini permintaan anda" Aldho menyodorkan tiga buah mangga mengkal yang diinginkan Cindy.


"Terimakasih" Cindy sangat senang.


Di mobil Cindy terus mengelus-elus dan menciumi bau mangga tersebut. Aldho pun dibuat geli dengan tingkah aneh Cindy.


"Kamu seperti mendapatkan berlian Cindy" ucap Aldho terkekeh.


"Maafkan aku kak, sudah merepotkanmu" Cindy merasa bersalah.


Aldho mengelus pipi Cindy dan tersenyum.


"Selama aku bisa, aku akan melakukannya untukmu" Cindy sangat bahagia memiliki Aldho dalam hidupnya.


.


Semua orang sedang menunggu Cindy dan Aldho yang tak kunjung datang hingga membuat mereka cemas.


Akhirnya setelah menunggu mereka datang.


"Kenapa lama sekali?" protes Tika.


"maaf, tadi ada sedikit kendala" ucap Aldho.


"Apa itu yang kamu bawa Cindy?" tanya mama Grace.


"hehe.. mangga muda ma" ucap Cindy sembari tersenyum.


"lalu kenapa sampai baju Aldho robek begitu?" tanya Mama Grace lagi sambil menunjuk lengan kemeja Aldho yang robek.


Aldho juga terkejut karena dia tidak sadar bajunya robek.


"Kamu memanjat pohon?" Semua orang jadi heran dengan yang dilakukan Aldho dan Cindy. Akhirnya mau tidak mau Aldho menceritakan kejadian yang dia alami hari ini.


Semua orang tertawa termasuk teman-teman Cindy. Demi menuruti istrinya yang mengidam Aldho rela melakukan semua itu. Cindy hanya tersipu malu karena permintaan anehnya.


"Baiklah karena sudah berkumpul semua ayo kita mulai, Barbeque sudah siap" ucap Windy.


"Aku akan mandi sebentar lalu bergabung" ucap Aldho.


Aldho berjalan menuju ke kamarnya dengan sedikit menahan rasa sakit di punggungnya. Hal itu ternyata diperhatikan oleh Cindy.


"Aku akan menyusul nanti" Cindy pun segera berlalu mengikuti Aldho.


"Lihatlah tingkah pengantin baru. Itu membuatku jadi ingin menikah" ucap Tika cekikikan.


.


Aldho melepas pakaiannya dengan sedikit menahan rasa sakit di punggungnya. Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir lewat shower. Saat menyabuni punggungnya terasa banyak benjolan akibat gigitan serangga. Bukan hanya semut namun juga lebah.


Cindy mengetuk pintu Aldho namun tidak dijawab. Sepertinya masih mandi lalu Cindy langsung masuk ke dalam kamar dan menunggunya.


Tak lama kemudian Aldho keluar dari toilet bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Aldho sedikit terkejut ketika mendapati Cindy berada di dalam kamarnya.


"Cindy, ada apa? kenapa tidak bergabung dengan yang lain di bawah?"


Cindy bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Aldho untuk memeriksa punggungnya.


"Ya Tuhan, lukanya sebanyak ini?" Cindy terkejut saat mendapati punggung Aldho penuh sengatan lebah dan gigitan semut.


"Duduklah di sini aku akan ambilkan salep" Cindy meminta Aldho duduk di ranjang lalu Cindy mengambil salep di kotak obat.


Dengan perlahan Cindy mengoleskan salep ke punggung Aldho.


Walaupun terasa sakit namun Aldho merasakan sesuatu yang berbeda saat jemari Cindy menyentuh kulitnya. Desiran aneh menjalari tubuh Aldho namun dengan sekuat tenaga dia menahannya.


"Ini pasti sakit sekali" ucap Cindy lirih.


"Sakit Cindy, tapi nanti juga akan sembuh" balas Aldho.


Cindy menghentikan sentuhannya. Aldho mendengar suaranya terisak. Dengan segera dia menoleh ke arah Cindy.


"Cindy kenapa kamu menangis?" tanya Aldho sembari mengusap air mata Cindy.


"Maafkan aku kak, gara-gara aku kakak sampai kesakitan"


"Oh Cindy, tak apa.. jangan menangis. Kemarilah sayang" Aldho mendekap Cindy dan menenangkannya.


"Tidak perlu merasa bersalah, ini sudah tugasku membahagiakanmu" Aldho terus memeluk Cindy dan mengecup lembut kepala Cindy.


.


Cindy turun ke taman di susul Aldho dibelakangnya. Teman-teman Cindy serta orang tuanya sudah mempersiapkan acara barbeque sederhana. Pak Tirta yang membuat ide ini mumpung semua sedang libur dan di rumah.


"Wah.. ini kelihatannya enak sekali, Mama jangan lupa sisihkan agak banyak untukku ya" ucap Zara ketika Mama Grace sedang memanggang daging membuat semua orang terkekeh.


Semua orang begitu menikmati acara malam ini. Kehangatan keluarga serta keseruan teman-teman Cindy begitu memeriahkan suasana.


Terlihat mereka saling mengobrol dan bercanda satu sama lain.


"Kak Aldho, aku benar-benar kagum dengan apa yang kak Aldho lakukan untuk Cindy hari ini. Benar-benar suami yang keren" puji Windy sembari menikmati jagung bakar.


"Aku paling tidak bisa melihat Cindy memelas. Jurus itulah yang membuatku tak bisa berkutik" ucap Aldho sembari terkekeh.


Cindy sedang mengambil mangganya untuk dimakan namun saat melihat Aldho dan Windy yang begitu akrab membuat selera makannya menghilang. Entah kenapa Cindy begitu jengkel saat melihat Windy berada di dekat Aldho.


"Hai Cindy kemarilah" Teriak Windy saat melihat Cindy.


Bukannya menghampiri, Cindy justru bersikap acuh terhadap Windy. Hal itu membuat Windy dan Aldho heran.


"Dasar tidak tahu malu, sudah tahu kak Aldho suamiku masih saja dekat-dekat" gumam Cindy jengkel.


.


.