Baby Blues

Baby Blues
Bab 35 mimpi



"A-apa yang kamu lakukan Elisa. Apa kau mau membunuhku?" Cindy begitu takut hingga seluruh tubuhnya gemetar.


"Tentu saja, karena kamu penghalang untuk cintaku" ucap Elisa dengan penuh emosi.


Cindy benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Elisa. Saat ini yang dia harapkan adalah kedatangan Aldho atau siapapun untuk menyelamatkannya.


Sekuat tenaga Cindy melepaskan diri dari Elisa namun tidak bisa karena kalah kuat. Yang dia bisa sekarang hanyalah menangis.


"Sekarang apa? kamu tidak bisa apa-apa dasar wanita cengeng" Elisa terus merapatkan pisaunya ke leher Cindy.


"Ku mohon Elisa kasihanilah aku. Aku harus tetap hidup untuk melahirkan bayiku" Cindy terus memohon kepada Elisa untuk berhenti menyakitinya.


Segala cara Cindy coba untuk membujuk Elisa namun tetap saja dia tidak berubah. Hingga tiba-tiba Cindy mendengar suara orang mendekat.


"Sayang..." Aldho berteriak dari belakang membuat Cindy begitu lega.


"Kak Aldho, sayang tolong aku" Cindy langsung berteriak kepada Aldho.


"Kenapa belum kamu bereskan?" balas Aldho. Cindy terkejut kenapa Aldho berbicara begitu.


"Sebentar lagi sayang, tunggu dia mengucapkan kata terakhirnya" balas Elisa.


"Apa maksudnya ini?" Cindy semakin bingung.


"Kamu pikir apa Cindy? Aku akan menyelamatkanmu? Tentu tidak. Aku malah ingin kamu lenyap agar aku tidak terbebani lagi. Mengurus gadis hamil dan tekanan jiwa" ucap Aldho sinis.


Hati Cindy hancur berkeping-keping tatkala mendengar ucapan Aldho. Pria yang begitu dia sayangi dan dipercaya ternyata tidak setulus yang diharapkan.


"A-Apa maksudmu kak, aku ini istrimu. Kamu bilang mencintaiku. Mama dan ayah juga..." belum sempat Cindy meneruskan kata-katanya Aldho sudah mendekatinya dan mencengkeram lengan Cindy hingga dia kesakitan.


"Sayang mau dirobek lehernya dulu apa langsung dijatuhkan ke bawah?" tanya Elisa kepada Aldho.


"Akan repot mengurus darahnya yang tercecer sayang. Langsung dijatuhkan saja. Ketinggian gedung ini cukup untuk meremukkan tubuhnya." balas Aldho sembari membelai rambut Elisa.


Cindy merasa benar-benar dikhianati oleh Aldho. Yang ada dalam hatinya sekarang hanyalah rasa benci dan sakit hati. Begitu mudahnya Aldho berubah sikap hanya dalam hitungan jam.


"Kak Aldho kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku, tidak ingatkah apa yang tadi kamu katakan bahwa kamu sangat mencintaiku? lalu bagaimana dengan nasib bayi ini" ucap Cindy dengan berderai air mata.


"Elisa cepat lakukan" Aldho seolah tak menghiraukan ucapan Cindy. Dengan cepat Elisa melepaskan Cindy dan mendorongnya.


"Tidaakkkk...." Teriakan terakhir Cindy sembari menyaksikan Aldho dan Elisa yang tengah berpelukan.


.


"Tidaakkk.... tiidaakkk...."


Cindy terus menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. tangannya seperti meraih sesuatu ke atas. Peluh bercucuran di tubuhnya.


"Cindy... Cindy..." Aldho terus menggoyang-goyangkan tubuh Cindy agar dia terbangun.


Sekejap kemudian Cindy membuka matanya. Bekas air mata yang meleleh diseka oleh Aldho dengan tissue.


Cindy nampak bingung saat melihat sekitarnya, kemudian memandang Aldho yang sedang duduk di dekatnya.


"Sayang kamu baik-baik saja?" ucap Aldho memastikan.


Cindy menatap Aldho dengan penuh amarah dan sedetik kemudian


PLLAAKKK...!!!! Cindy langsung menampar pipi Aldho dengan sekuat tenaga.


Aldho hanya bisa meringis memegangi pipinya yang terasa panas dan kebas karena tamparan Cindy untuk pertama kalinya.


"Sayang, kenapa kamu menamparku?" Aldho nampak memelas.


Cindy memperhatikan sekali lagi Aldho dan dia baru menyadari bahwa apa yang baru saja dia alami hanyalah mimpi.


Dengan segera Cindy memegangi pipi Aldho yang telah dia tampar dan membelainya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tadi terbawa emosi. Ternyata aku sedang mimpi" Cindy langsung memeluk Aldho. Dia merasa begitu bersalah.


"Maaf sayang..." ungkap Cindy dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja kenapa aku mendapat hadiah special seperti ini?" Aldho menunjuk salah satu pipinya yang merah karena tamparan Cindy cukup keras.


Cindy hanya bisa menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya dari Aldho. dia begitu malu untuk menatap Aldho.


Akhirnya Cindy dan Aldho memutuskan untuk pulang karena Mama Grace sudah menunggu mereka untuk makan malam di rumah.


Sepanjang perjalanan Cindy tak berani menatap Aldho dan hanya menundukkan kepalanya.


"Memangnya kamu mimpi apa sayang?" Aldho mencoba membuka obrolan.


Cindy hanya menggelengkan kepala tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia terlalu malu untuk bicara.


Akhirnya sampai rumah Aldho bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Selamat sore Ayah, mama" sapa Aldho sembari mencium tangan kedua orang tuanya dan diikuti Cindy.


"Sore sayang, sepertinya hari ini kalian cukup sibuk?" balas Mama Grace.


"Iya ma, hari ini Aldho ada dua kali operasi. Dan Cindy menemaniku sampai selesai"


"Manis sekali, ayah juga mau ditemani mama saat operasi besok" Pak Tirta menggoda istrinya.


"Aldho kenapa dengan pipimu? kenapa merah sebelah?" Mama Grace nampak memperhatikan Aldho.


"Bidadari menamparku ma" ucap Aldho sembarang dan berjalan menuju dapur. Cindy hanya bisa terkejut ketika Aldho menjawab Mamanya.


Aldho mengambil beberapa es batu dan meletakkan di kantong lalu mengompres pipinya. Dengan cepat Cindy meraih es batu tersebut lalu mengompres pipi Aldho.


"Maafkan aku," ucap Cindy lirih.


Aldho tersenyum melihat Cindy lalu meraih tangannya dan mencium dengan lembut.


"Tidak apa-apa sayang, pasti ada alasan kenapa kamu melakukannya"


Cindy memeluk Aldho tanpa mengucap sepatah katapun.


"Kak Aldho jangan berubah ya, tetaplah seperti ini. Nanti akan ku ceritakan kepadamu"


.


Semua orang berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam. Akhir-akhir ini Aldho dan Pak Tirta begitu sibuk sehingga jarang bisa meluangkan waktu untuk makan malam.


Selesai makan malam seperti biasa keluarga itu saling bertukar cerita dan pendapat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 Cindy beranjak ke kamarnya diikuti Aldho.


"Cindy, katanya mau cerita?" tanya Aldho.


Akhirnya Cindy menceritakan detail mimpinya. Aldho tak berhenti tertawa hingga menahan sakit di perutnya.


"Cindy, jadi itu alasan kamu menamparku? karena aku membunuhmu?" ucap Aldho sambil terkekeh.


Cindy yang malu hanya bisa mengalihkan pandangan dari Aldho. Namun Aldho malah terus menggoda Cindy.


Sementara suara Aldho yang tertawa begitu keras terdengar hingga luar kamar. Mama Grace hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar kelakuan anak-anaknya dan tak lama kemudian ponselnya berdering karena ada panggilan masuk.


Cindy yang sebal dengan Aldho karena terus menggoda membuat gadis itu keluar kamar. Dia hendak mengambil minum di dapur namun saat melewati ruang keluarga dia melihat Mama Grace sedang berdiri di dekat jendela berbicara di telepon.


Awalnya Cindy tak begitu menghiraukan Mamanya namun dia mulai mendengar mamanya yang terisak. Dengan segera Cindy menghampiri Mamanya.


Selesai berbicara di telepon Mama Grace sangat terkejut melihat Cindy sudah ada di Belakangnya. Air mata yang basah di pipinya langsung segera di hapus.


"Mama, mama kenapa menangis?"


.


.


.


lanjut...