Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 98



Siang ini terasa begitu panas. Setelah semuanya selesai, Raja kini sedang merebahkan tubuhnya di ranjang kamar khusus yang ada di gudang. Niat hati ingin tidur namun panas yang menyengat membuat kamar itu terasa tak nyaman.


"Sepertinya aku harus memasang AC untuk kamar ini," keluhnya. Karena tidak kuat dengan gerah yang melanda, Raja memutuskan keluar kamar mencari tempat yang segar.


Mata Raja berkeliling dan dia melihat Anto dan Kirno sedang duduk di bawah pohon dekat warung. Raja pun melangkah ke arah sana.


"Eh juragan! kirain lagi tidur," pekik Kirno begitu melihat Raja duduk di seberang meja.


"Nggak bisa tidur aku, panas banget." keluh Raja. Kemudian dia berteriak ke pemilik warung minta dibuatkan es jeruk.


"Ya sama, makanya kita memilih duduk disini. Kamar yang buat karyawan pakein AC dong, Gan? Biar kalau panas kayak gini masih bisa dipakai," usul Anto.


"Ya udah, kalian aja sana yang nyari, sekalian buat kamarku," titah Raja dan keduanya pun setuju.


Mereka kini terlibat obrolan santai berbagai macam topik. Bukan hanya mereka bertiga, kini beberapa anak buah yang lain pun ikut gabung. Hingga tiba tiba, Raja merasa ponselnya berdering dan dia segera mengambilnya.


Senyumnya terkembang begitu Raja tahu siapa yang mengirim pesan. Dia pun segera mambuka dan membacanya.


"Mau potong rambut jam berapa, Bang?" tanya kontak bernama Sania dalam pesan chatnya.


Dengan semangat dan senyum terkembang, Raja pun segera membalasnya, "Terserah Dedek bisanya jam berapa?"


Sambil menunggu balasan, Raja kembali menikmati es jeruknya dan mendengarkan obrolan orang orang di sekitarnya. Namun tak lama kemudian ponsel Raja pun bergetar lagi. Raja langsung membuka pesan chatnya.


"Terserah Bang Raja. Yang penting jangan sore dan malam. Aku mau bantuin orang hajatan." Senyum Raja pun kembali terkembang.


"Ya udah sekarang aja, Yak. Mumpung Abang lagi santai nih." balas Raja.


"Baiklah, aku tunggu." Setelah membaca balasan dari Sania, Raja segera beranjak menuju motornya terparkir setelah berpamitan ke Kirno dan yang lain. Setelah motor dinaiki, Raja langsung tancap gas dan motor pun melaju menuju rumah Sania.


"Panas banget, Dek. Dedek yakin kita pergi sekarang?" tanya Raja beberapa saat setelah sampai di tempat tujuan.


"Loh! Aku tanya ya berarti aku nggak keberatan, Bang. Atau abang yang keberatan potong rambut?" tuduh Sania.


"Ya enggak gitu dek, Maksud Abang kan takutnya Dedek kepanasan. Tapi kalau Dedek memaksa ya udah ayok berangkat." balas Raja buru buru, takut Sania berubah pikiran.


"Baiklah," Dan akhirnya mereka pun pergi.


Setelah cukup lama berkeliling, pilihan justru pada barber shop yang biasa Raja datangi. Mungkin karena siang hari, barber shop yang juga dijadikan salon untuk wanita tersebut tidak terlihat begitu rame. Hanya ada beberapa pengunjung, baik pria maupun wanita. Raja dan Sania pun bergegas turun dari motor dan masuk ke dalam. Beruntung di dalam Barbershop tersebut memasang AC jadi udaranya tidak terasa panas.


Saat mereka lagi nunggu giliran, dari arah pintu, seorang pria masuk dan saat dia menoleh dia pun memekik, "Raja, Sania?"


Merasa di panggil, kedua orang itu pun menoleh, "Eh Ramzi."


Orang bernama Ramzi pun mendekat. "Wah! kebetulan banget nih, mau potong rambut?"


"Iya nih, mas. Nemenin Bang Raja." balas Sania.


"Oh gitu. Sepertinya kalian makin deket aja yah?" ucap Ramzi.


"Ya gitu deh, Zi. Berkat bapakmu juga ini, kita makin dekat," balas Raja.


Ramzi tertegun memdengar ucapan Raja. "Berkat Bapak aku?"


Raja mengangguk sambil tersenyum sinis. "Iya, Bapak kamu menfitnah Ustad Mudin. Bahkan Abah Mudin sampe meminta bantuan Bapak kemarin."


Kini bukan hanya Ramzi yang tertegun, Sania pun merasakan hal yang sama." Maksudnya, Bang?"


Raja pun menceritakan segalanya yang dia dengar dari Kirno dan menyangkut pautkan pesan Abah Mudin kepada Bapaknya ada hubungannya dengan perbuatan Kyai Bahar.


Setelah mendengar Raja berbicara, Sania sejenak terperangah kemudian wanita itu terbahak bahak. Sekarang gantian Raja yang terperangah.


"Kenapa Dedek tertawa?" tanya Raja heran.


"Abang salah paham. Kemarin Abah sama Om Abdul bukan menbicarakan Kyai Bahar." terang Sania.


"Lah? Terus mereka bicara tentang apa, Dek?" tanya Raja semakin heran karena Sania tidak berhenti tertawa.


"Kemarin Om Abdul dan tante Lastri ke rumah itu untuk membicarakan acara lamaran kita, Bang?"


"Apa!"


...@@@@@@...