
Syok, terkejut, tercengang. Itu lah gambaran yang terlihat jelas di wajah Raja saat ini. Dan keterkejutannya berubah seketika menjadi senyuman yang menggetarkan jiwa. Bahkan bulu kuduknya pun meremang saking tak menyangkanya dengan apa yang pria itu dengar dari mulut wanita di sebelahnya.
"Kamu lagi nggak becanda kan, Dek?" tanya Raja ingin memastikan kalau apa yang dia dengar adalah kenyataan.
"Ya tanya Tante Lastri dan Om Abdul aja kalau Abang nggak percaya." balas Sania sedikit kesal karena Raja tidak mempercayainya.
Makin berbinarlah mata Raja saat itu juga. Senyumnya terkembang dengan gemuruh di dada yang ingin segera dia teriakan.
"Ini Abang lagi nggak mimpi kan, Dek?" tanya Raja lagi masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Sini aku tampar coba?" tantang Sania sebal dan Raja malah terbahak sangat keras hingga orang orang yang ada di barbershop menoleh ke arahnnya.
"Yeeee! Bentar lagi menikah!" Teriak Raja lantang. Sania syok dibuatnya, begitu juga Ramzi dan semua yang ada di sana.
"Abang, ih! Malu maluin!" pekik Sania pelan. Raja hanya cengengesan.
"Ramzi, kamu potong rambut?" tanya Raja dan Ramzi mengangguk. "Potong silahkan, biar aku yang bayar. Dan kalian semua yang mau potong rambut. Nggak perlu bayar. Aku semua yang bayarin. Oke!"
"Beneran, Mas? Wah, makasih."
"Serius, Mas? Makasih ya?"
Raja hanya mengangguk kepada pengunjung yang berterima kasih padanya. Dia langsung mengambil dompet dan mengeluarkan lima lembar uang merahan. Di kasihnya kepada petugas barber yang tepat berada tak jauh di depannya.
"Nih, Bang buat bayar mereka semua, sisanya kamu ambil saja buat beli rokok."
"Wah, siap juragan. Makasih ya?" ucap petugas barber.
"Selamat ya, Ja. Wahh girang banget tuh. Aku jadi iri." ucap Ramzi.
"Jangan iri, selama kamu mau berusaha dan berdoa. Pasti ada jalan. Percaya deh." ucap Raja berapi api.
"Dihh, ucapannya udah kayak motifator aja," cibir Sania.
"Lah, tentu dong, Dek. Biar mereka tahu perjuangan Abang hingga sampai sejauh ini. Itu bukti kalau Abang setia dan pejuang sejati." ucap Raja semakin percaya diri.
"Iya, iya percaya. Udah sana potong rambut. Nih Bang, tarik aja orangnya."
Raja hanya cengengesan sambil bangkit dia pun berkata, "tunggu sebentar ya, calon istri. Calon suami potong rambut dulu." Raja pun melenggang meninggalkan Sania yang mencebik gemas dan Ramzi yang tertawa lebar.
"Entar dulu," jawab Raja dan dia menoleh. "Calon istri, ini aku bagusnya di potong pake gaya rambut yang mana?"
Sungguh Sania merasa geli mendengar perubahan panggilan yang Raja sematkan.
"Panggilnya biasa aja napa, Bang?" protes Sania sembari mendekat kemudian memandang koleksi potongan rambut yang menempel di dinding.
Sedangkan Raja hanya cengengesan mendengar protesan Sania dan dengan entengnya dia berkata, "Ya biar semua orang tahu kalau kamu tuh calon istriku."
Sania hanya mencebik tanpa menoleh. Matanya masih sibuk mencari potongan rambut yang menurutnya pas untuk Raja.
"Yang ini ya, Bang." tunjuk Sania pada foto potongan rambut pria artis dari myanmar.
"Jangan yang itu, Dek. Terlalu pendek." protes Raja.
"Nggak usah protes! Katanya aku harus tanggung jawab." balas Sania ketus.
"Astaga! Galak banget, Dek. Untung sayang. Kalau tidak.." cicit Raja.
"Kalau tidak kenapa?" balas Sania dan Raja pun langsung terbungkam sambil cengengesan. Sedangkan yang melihat perdebatan mereka hanya mesam mesem termasuk Ramzi.
"Udah, Bang. Yang seperti itu saja." ucap Sania lagi.
"Siap, Mbak." balas tukang barber dan rambut Raja pun langsung dieksekusi.
Sania terus memperhatikan rambut Raja yang sudah semakin menipis. Sedangkan Raja mencuri pandang wajah Sania dari pantulan cermin dihadapannya dengan senyum yang tak pernah surut.
Tak butuh waktu lama, rambut Raja sudah selesai dikerjakan. Kini wajah tampannya semakin terlihat bersinar. Setelah benar benar selesai, Raja pun berpamitan kepada semua yang ada disana.
"Kemana lagi kita, Dek?" tanya Raja begitu mereka berada di tempat motornya terparkir.
"Pulang." balas Sania singkat.
"Makan bakso dulu ya, Dek. Abang lapar." pinta Raja dan Sania pun mengangguk tanda setuju.
Dan Raja pun melajukan motornya menuju ke warung bakso dengan wajah yang masih berbinar binar.
...@@@@@@...