Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 97



"Sania menelponku? Ada apa, ya?" gumam Raja dalam pembaringannya. Dia pun segera membalas pesan chat yang Sania kirimkan juga. Setelah menunggu beberapa menit, pesan chat yang Raja kirimkan tak kunjung terbalas.


"Mungkin Dedek sudah tidur, sudah malam juga." gumam Raja mencoba berpikir positif. Lama terdiam di atas ranjangnya, Raja pun akhirnya terlelap saat rasa kantuk mulai hinggap di matanya.


Waktu terus merangkak hingga pagi pun kini telah datang. Perubahan Raja memang terlihat sekali adanya. Saat jam dinding menunjukkan pukul tiga lebih tiga puluh pagi, Raja sudah bangun bahkan terlihat rapi dengan baju koko dan sarung. Raja melewati pagi itu dengan sholat dan membaca Al Qur'an hingga subuh menjelang.


Setelah semuanya dia kerjakan, kini saatnya Raja bersiap diri ke empang seperti biasanya. Sebelum berangkat, Raja memilih duduk sebentar di tepi Ranjang guna memeriksa ponselnya. Senyum Raja terkembang saat membuka pesan chat, ada pesan masuk dari wanita spesial beberapa menit yang lalu.


"Maaf, Bang. Semalam aku sudah tidur." balasan singkat dari Sania namun cukup bisa membuat hati Raja menghangat. Raja pun segera membalasnya.


"Nggak apa apa, aku tahu kok, Dedek pasti udah tidur. Aku cuma penasaran, tumben bener dedek telfon, ada apa?" balas Raja dan dia langsung mengirimnya.


Sambil menunggu balasan, Raja pun mengganti pakainnya dan bersiap siap pergi ke empang. Dan setelah siap, dia bergegas keluar kamar.


"Bapak mana, Bu?" tanya Raja begitu keluar kamar dan melihat sang Ibu lagi duduk santai sambil menikmati teh hangat sebelum pergi ke pasar.


"Udah berangkat duluan," jawab ibu.


"Oh, ya udah, Raja juga berangkat dulu, Bu. Assalamu'alaikum." balas Raja dan dia segera saja langsung pergi.


"Tunggu dulu, Ja. Ibu mau ngomong." ucap Ibu. Namun sepertinya Raja tidak mendengarnya. Dia melangkah cepat hingga sang ibu tertegun. "Loh itu anak udah pergi aja."


Sementara paginya di rumah Abah Mudin, terlihat Sania sedang berkutat di dalam dapur mengisi termos dan beberapa tempat air minum dengan air yang sudah mendidih. Sedangkan sang Umi sedang memasukan pakaian kotor ke mesin cuci.


"Gimana, San? Udah ada kabar dari Raja?" tanya Umi Sarah begitu selesai memasukan semau pakaian kotornya dan memutar tombol pencucian.


"Belum, Bu. Semalam mau tanya katanya Bang Raja habis pergi dan nggak bawa hp. Mungkin sekarang sudah balas dia." jawab Sania.


"Oh. Mungkin orang tuanya sudah ngasih tahu kali yah?" tanya Umi sambil duduk di salah satu kursi yanh mengelilingi meja makan.


"Mungkin. Buat sarapan, kita masak apa, Mi?" tanya Sania begitu dia selesai dengan mengisi air minumnya. Sekarang dia membuka kulkas dan mengecek isinya.


"Ya di kulkas ada bahan apa aja? Di tinggal Umi ya kulkas pasti kosong, nggak ada belanjaan." balas Umi.


"Buang aja semuanya, biar kita beli nasi bungkus aja di depan. Ntar Umi ambil uang dulu," Umi Sarah pun beranjak Ke kamarnya dan Sania membersihkan isi kulkas dan membuang beberapa isinya yang sudah tidak layak digunakan.


Waktu kini perlahan beranjak siang. Di gudangnya, Raja sedang ikut bekerja dengan anak buahnya. Seperti biasa Raja membantu memilih bandeng dan memisahkan sesuai ukurannya dan Bapak mencatat dan membuat nota untuk orang yang akan dikirimi bandeng dan udang hasil panen hari ini.


"Hisam, panggilin sopir sopir yang akan kirim udang ke Bandung!" titah Abdul kepada anak buah kepercayaannya.


"Baik, Juragan." Orang yang bernama Hisam pun segera ke lokasi dimana para sopir sedang berkumpul. Sesuai perintah, para sopir pun mendatangi Abdul.


"Nanti tolong, bilang sama juragannya, suruh menganggsur hutangnya. Ini ada beberapa nota yang macet. Nanti tunjukin ke mereka ya?" titah Abdul.


"Baik, juragan besar." jawab tiga supir yang bertugas mengirim udang tersebut.


Setelah memberi arahan dan perintah, Abdul kembali melakukan pekerjaannya. Namun tak lama kemudian dia melihat Raja mendekat.


"Ja, Sini, bapak mau ngomong sama kamu," ucap Abdul kepada sang anak.


Raja pun menghentikan langkahnya. "Ada apa Pak?"


"Bapak mau ngomong, ini soal Sania..."


Abdul belum selesai ngomong tapi Raja keburu memotongnya. "Raja sudah tahu, Pak. Tenang aja, biar Raja yang urus."


Abdul pun tertegun dan mencerna ucapan Raja. Kemudian dia manggut manggut. "Baguslah kalau kamu sudah tahu,"


"Iya, Pak."


Tanpa Raja dan Abdul sadari, kalau mereka sebenarnya salah paham.


...@@@@@@...