Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 72



"Kamu sudah nikah? Wahh, tapi entar dulu, bukankah ini Sania? Wuih mantap, akhirnya cintamu terbalas juga, Ja."


Ibarat pencuri yang ketangkap basah, Raja benar benar tak dapat berkutik dengan ucapan sahabat lamanya. Seandainya Raja mampu, ingin sekali dia menghilang saat ini juga dari hadapan Sania.


Teman seperjuangan Raja memang banyak yang tahu tentang isi hati juragan empang, termasuk Yoga. Dulu dia adalah teman nakal Raja dan dia memutuskan kerja ke korea demi merubah nasib.


Sementara Sania. meski merasa canggung, namun tidak dipungkiri hatinya merasa ada yang aneh saat mendengar penuturan temen Raja.


"Kamu hebat, Ja. Aku salut sama kamu. Ini anak kamu? berapa tahun? Gila! Nikah nggak ngundang ngundang?" Pertanyaan beruntun dari Yoga benar benar membuat Raja semakin salah tingkah. Ingin rasanya dia membungkam mulut Yoga yang ceplas ceplos.


"Astaga! Perasaan dari tadi pertanyaanku tak satu pun ada yang dijawab," keluh Yoga pada akhirnya.


"Ya lagian kamu ngasih pertanyaan beruntun nggak ada berhentinya. Jalan tol aja ada res areanya, nah kamu menuncur terus tak terkendali," oceh Raja membela diri. Padahal alasan dia saja untuk mengalihkan pertanyaan Yoga.


"Ya wajar dong, Ja. Kan aku terkejut," ucap Yoga.


"Emang kamu pulang kapan sih? Sepertinya udah sukses nih ceritnya?" Tanya Raja dengan nada meledek. Saking terlalu asyiknya ngobrol sama Yoga, Raja tidak menyadari Fatar menarik Sania berjalan melewati belakang Raja. Anak itu sudah tak sabar membeli ingin yang dia mau.


"Baru satu minggu di kampung, Ja. Sukses apaan. Capek kerja ngikut orang. Nggak kayak kamu, Enak. Punya usaha sendiri." balas Yoga.


Saat Raja menoleh kebelakang, dia baru menyadari kalau Sania dan keponakan sudah tidak ada bersamanya. Raja pun celingukan mencari Sania.


"Nyari siapa? Istrimu? Tuh kesana," tunjuk Yoga. Raja pun mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk temannya. Terlihat disana, Fatar sedang mengantri beli permen kapas. Raja terlihat lega. Dia ingin menyusulnya tapi dia juga harus menunggu jus yang sedang dia dibuat.


"Waktu benar benar cepet banget berlalu ya, Ja. Perasaan baru kemarin kamu curhat tentang Sania sampai nangis. Eh sekarang kamu malah udah punya anak aja," Mata Raja memicing mendengar ucapan Yoga. Bisa bisanya Yoga masih teringat kejadian dimana Raja cerita tentang Sania sampai nangis.


"Nggak usah di ingat ingat napa? Malu aku, untung orangnya nggak mendengar," dumel Raja. Yoga pun terbahak.


Akhirnya jus pesenan Raja pun sudah siap semua. Raja segera membayarnya. Setelah pamit pada Yoga, dia menyusul Sania dan Fatar yang sedang duduk di bangku di bawah pohon sembari menikmati permen kapas.


"Pergi kok nggak bilang bilang, Tar. Om nyariin loh," ucap Raja begitu sampai di tempat Sania berada.


"Om Raja lagi sama temennya, ya Fatar males nunggguin. Cape berdiri terus. Ya ustadzah," cicit Fatar. Sania pun hanya menyunggingkan senyumnya sebagai jawaban. Begitu juga Raja. Dia pun ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Nggak kebayang, kalau aku punya anak dengan Sania. Pasti lebih menyenangkan dari ini," ucap Raja dalam hati di iringi senyum senyum sendiri.


"Ih, Om Raja senyum senyum sendiri kayak orang gila," ucap Fatar tiba tiba. Dan hal itu sontak saja membuat terkesiap dan merasa malu. Dengan gemas dia mengacak acak rambut sang ponakan.


Sania yang juga melihat Raja salah tingkah, sebenarnya dia ingin tersenyum juga. Bahkan kalau bisa dia ingin tertawa melihat sikap Raja yang selalu salah tingkah dari tadi. Tapi Sania sekuat diri menahan rasa ingin tertawanya. Dia memilih pura pura tidak tahu saja daripada nanti Raja malah malu.


"Udah sore banget nih, mending kita pulang Yuk. Bentar lagi maghrib." ajak Raja. Fatar pun menyetujuinya tanpa banyak protes. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat parkir motor. Dan beberapa saat kemudian, motor pun melaju meninggalkan area pedagang kaki lima.


Setelah beberapa menit, Raja pun sampai di rumah. Begitu motor masuk halaman rumah dan terparkir, mata Raja memicing melihat ke arah kursi di teras depan rumahnya. Raja menghembuskan nafasnya dengan mulut.


"Lagi lagi ada wanita tak tahu malu, huft,"


...@@@@@...