Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 14



Abah Mudin menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan Raja. Dia sedikit membenarkan ucapan pria itu. Memang tidak dibenarkan menghina sesama manusia, apalagi berniat menjatuhkan martabat seseorang.


Raja memang kasar, pemabuk, jauh dari ilmu agama. Tapi Dia masih bisa sopan, masih bisa menghargai orang lain selama orang itu tidak mengusik tentangnya. Namun kenyataannya justru banyak yang mengusik dirinya hanya karena dia suka hura hura dan pesta miras. Memang hal itu tidak dibenarkan. Dan oleh karena itulah Raja di anggap membawa pengaruh buruk bagi para anak muda, karena setiap pesta pasti yang bergabung ikutan pesta bersama Raja sangat banyak. Meski Raja sama sekali tidak pernah mengajak mereka namun dia juga tidak pernah menolak siapapun yang ingin bergabung.


Danu yang terkesiap, kini terlihat meradang. Namun dia sebisa mungkin menyembunyikan amarahnya dihadapan Abah Mudin.Jika dia terpacing dengan ucapan Raja, impiannya memiliki perempuan terbaik di kampungnya bisa berantakan. Karena Danu tahu, siapapun yang bisa menjadi bagian dari keluarga Abah Mudin, statusnya di dalam masyarakat akan disegani karena Abah Mudin terkenal dengan sosok yang baik hati, ramah dengan latar agama yang tidak di ragukan lagi. Hal itu memang terbukti oleh dua kakak Sania yang sudah berumah tangga. Keluarga besan dari Abah Mudin seperti mendapat mukjizat menjadi keluarga yang di hormati. Padahal tanpa nama Abah Mudin pun, keluarga besan beliau memang sudah terlihat sangat di hormati.


Maka itu Danu ingin dirinya dan keluarganya juga merasakan kehormatan seperti dua besan Abah Mudin itu. Namun sayang kesan pertama yang dia perlihatkan cukup membuat penilaian tentang Danu lumayan buruk. Meski Abah Mudin tidak mengatakannya tapi gerak geriknya sedikit menunjukkan hal seperti itu.


Keluarga Danu memang keluarga yang cukup terpandang. Namun sayang desas desus kalau mereka keluarga yang sombong cukup mempengaruhi citra buruknya. Bagaimana tidak di cap sombong. Tiap amal masjid selalu ingin namanya di sebut dengan lantang. Belum lagi perbuatan yang lain, baik itu menyangkut kegiatan agama maupun bermasyarakat.


"Zik, perlihatkan dong, kepandaian ilmu yang kamu pelajari kepada Abah dan anak ini?" Ucap Danu pada anaknya sembari menunjuk ke arah Raja. Dengan sombongnya dia ingin putranya yang bernama Zikri unjuk gigi.


"Ilmu yang bagaimana, Pak? tentang adab menghina orang lain?" Tanya Zikri nampak begitu bingung. Danu kembali terkesiap mendengar jawaban sang anak.


"Bukan itu, Zik!" Balas Danu menahan kesal, " Tunjukkan kalau kamu itu memang satu satunya pria yang layak menjadi imam buat putri Abah Mudin."


"Sudah, Pak Danu. Anak Bapak tidak perlu mengatakan hal apapun. Saya sendiri sudah mendengar prestasi putra Pak Danu itu bagaimana." Ucapan Abah Mudin seketika membuat Danu dan keluarganya mengulas senyum. Danu melirik Raja dengan senyum angkuhnya.


Sedangkan Raja hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keluarga tersebut. Raja juga sebenarnya sedikit khawatir mendengar ucapan Abah Mudin barusan. Dia takut Abah Mudin menerima tawaran Pak Danu. Kalau hal itu terjadi pasti Raja akan sangat patah hati. Bagaimana tidak. Lebih dari enam tahun hatinya sudah terisi nama putri bungsu Abah Mudin. Dan selama itu pula dia selalu berusaha mendekati Sania tiap perempuan itu pulang dari pondok. Meski sering mendapat penolakan namun Raja justru semakin tertantang dan perasaan yang dia miliki semakin besar. Maka itu dia tak bisa membayangkan apa yang bakalan terjadi jika Sania jatuh ditangan pria lain.


"Gimana, Bah? Kalau abah memang sudah tahu, berarti saya tidak salah kan dengan ucapan saya? Kalau putra saya satu satunya yang layak menjadi imam buat putri Abah." Ucap Danu penuh percaya diri. Abah Mudin sejenak mengulas senyum sebelum bersuara.


"Memang benar, Dilihat dari ilmunya, putra bapak sangat layak jadi imam siapapun termasuk anak saya." Ucap Abah dan hal itu semakin membuat Danu dan keluarga merasa diatas awan. Sedangkan Raja hatinya semakin merasa gundah mendengar ucapan Abah Mudin.


"Namun maaf, saya tidak bisa memutuskan untuk menerima niat baik Pak Danu. Semua itu akan saya serahkan keputusannya pada anak saya, Sania"


"Apa!"


...@@@@@...