Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 84



"Raja sudah ketemu, Bah?" tanya Umi yang sedari tadi sibuk di belakang dengan yang lain.


"Udah. Lagi tidur di mobil," balas Mudin yang hendak ke kamar mandi.


"Lah kok tidur di mobil? Kenapa nggak di suruh pindah ke kamar aja?" ucap Umi terkejut.


"Kamar yang mana?" tanya Abah.


"Ya itu yang di rumah Hindun. Kan kamar depan kosong, jarang dipakai, kamarnya si Toyib," balas Umi.


"Ya udah sana Umi yang bilang. Abah mau mandi, gerah banget." ucap Abah sambil berlalu menuju kamar mandi. Umi pun melangkah menuju ke depan mencari anaknya. Setelah ketemu, dia langsung memberi perintah sesuai keinginan. Si anak pun mengangguk dan bergegas menuju mobil Raja terparkir.


Sementara itu di dalam mobil, Raja masih syok namun juga bahagaia mendengar ucapan Sania beberapa saat yang lalu. Berbagai pertanyaan pun tumbuh dalam pikirannya. Ingin rasanya dia membuka mata dan bertanya langsung, apa maksud dia membohongi Budhenya? Tapi terpaksa dia urungkan. Raja masih penasaran, kira kira hal apa lagi yang akan Sania lakukan saat dia sedang pura pura terlelap begini.


Setelah selesai bergumam sendiri, Sania kembali terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Kini pandangannya tidak menatap Raja lagi, melainkan memandang lurus ke depan mobil. Dan saat itu juga, Sania melihat Airin melangkah ke arahnya.


"Raja mana, San?" tanya Airin begitu berada di dekat Sania.


"Itu, Mbak, masih tidur. Kenapa?" balas Sania sambil menunjuk keberadaan Raja.


"Kata Umi, Raja dibangunin aja. Suruh tidur di kamar Toyib." ucap Airin.


"Begitu? Baiklah," Sania pun menurutinya dan menoleh hendak membangunkan Raja. Tentu saja, Raja yang sekarang pura pura tidur, mendengar perintah itu.


"Bang, Bang Raja, bangun, Bang." ucap Sania pelan. Raja bukannya bangun, dia malah tetap pura pura tidur tanpa bergerak sedikitpun.


"Bang, bangun, Bang. Bang Raja," kali ini suara Sania sedikit lebih keras hingga mau tak mau Raja pu mengakhiri aktingnya.


"Eughh! Dedek!" pekik Raja pura pura kaget. Dia segera bangkit dan duduk sambil merenggangkan tangannya.


"Di suruh pindah, Bang, tidurnya. Jangan tidur disini," ucap Sania yang tiba tiba merasa canggung. Pandangannya langsung beralih ke arah depan meski sesekali melirik ke belakang.


"Hooaamm!" Raja pura pura menguap. "Pindah kemana?" tanya Raja sembari menyandarkan punggungnya.


"Ya tidur di kamar, jangan di sini," balas Sania. Namun tiba tiba suasana menjadi hening. Merasa tidak ada respon dari arah belakang, Sania pun menoleh dan matanya memicing. "Astaga! Tidur lagi?"


Raja kembali pura pura tertidur sambil duduk. Sania pun mendengus sebal.


Seketika Raja pura pura kaget. Matanya mengerjap beberapa kali. "Gimana, dek?"


"Bang Raja masih ngantuk? Kalau iya, jangan tidur disini, ayok pindah kamar." ajak Sania.


Raja kembali menguap. Di usap wajahnya dengan telapak tangan. "Dek tolong, dong. Ambilin tisue basah, tuh di situ."


Sania pun membuka tempat yang ditunjukan Raja. Di ambilnya satu bungkus tisu basah lalu di serahkannya ke belakang.


"Jam berapa sekarang, Dek?" tanya Raja sembari membersihkan wajahnya.


"Jam dua lebih, kenapa?" tanya Sania setelah melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Nggak, enggak kenapa napa, Dek. tanya aja,"


Sania hanya manggut manggut dan untuk sesaat mereka saling diam. Tatapan mata Sania lurus ke depan namun tatapan Raja lurus ke arah Sania.


"Bang Raja kenapa tadi pas mau tidur nggak bilang. Aku sampai nggak enak karena ngebiarin kamu sendirian sampai tertidur disini," tutur Sania. Wajahnya seketika berubah sendu.


Mata Raja menyipit dan pikirannya mencerna ucapan Sania. Setelah itu dia tersenyum. "Gimana mau bilang, orang nggak sengaja tertidur di sini tadi. Tadi lagi maen ponsel. Abis bingung mau ngapain, nggak ada teman ngobrol."


Mendengar jawaban Raja, Sania pun merasa bersalah. Bibirnya mengerucut membuat pria dibelakangnya gemas bukan main.


"Harusnya tadi abang gabung aja sama aku dan saudara saudaraku, nanti aku kenalin ke mereka, jadi abang nggak bingung." cicit Sania tanpa menoleh.


"Yakin, Dek? Kamu ngijinin aku kenalan sama saudara suadara kamu?" tanya Raja sembari mengulum senyum.


"Yakinlah, emang apa masalahnya kalau kamu kenalan sama saudaraku?" ucap Sania.


"Ya soalnya tadi aku sempat dengar, ada yang melarang budhe nya ngenalin anak perempuannya sama Abang dan orang itu terpaksa berbohong gitu. Ngaku ngaku aku pacarnya dia."


Mendengar ucapan Raja, seketika mata Sania membelalak. Dia menoleh dan terlihat Raja sedang senyum senyum meledek ke arahnya.


"Bang Raja!" pekik Sania dengan wajah bersemu merah


...@@@@@...