Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 60



"Jangan percaya dengan ucapan perempuan itu, Pak. Saya bukan calon suami dia dan tidak pernah bermimpi ingin menikahinya!"


Suara lantang seorang pria dari arah pintu masuk tentu saja mengejutkan siapa saja bagi yang mendengar dan yang hadir di sana. Itulah suara Raja. Dari wajahnya, jelas sekali terlihat dia tidak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Matanya tajam ke arah perempuan yang mengakui tanpa rasa malu tersebut.


Sania malah merasa lega begitu mendengar Raja ada disana. Baginya kedatangan Raja bukti kuat kalau dia bukan wanita buruk yang dituduhkan oleh Pipit. Meski dia sendiri merasa heran darimana Raja tahu tentang peristiwa ini, namun rasa heran itu dia tepis untuk sementara.


"Bukankah kamu juragan empang?" Tanya Pak Rw.


"Iya, Pak. Dan sekali lagi saya tegaskan kepada bapak dan para warga yang ada disini. Saya bukan calon suami wanita itu. Dari dulu saya tidak pernah menyukainnya sama sekali. Dia aja yang kegatelan ngejar ngejar aku terus, pake ngaku ngaku dijodohin segala lagi. Bikin malu aku aja," ucap Raja dengan geramnya dengan jari menunjuk ke arah Pipit. Dia melangkah dan memilih duduk disebelah Sania. Sontak saja sikap Raja membuat Sania terkejut


Itulah Raja. Kalau sudah merasa terusik. Ucapannya sangat menusuk dan terasa pahit. Dan kali ini dia benar benar tidak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Apalagi Pipit mengaku ngaku di depan Sania dan orang banyak, makin geram lah dibuatnnya.


Sementara Pipit, wajahnya pucat seketika. Dia tidak menyangka akan dipermalukan seperti ini. Niat hati ingin mempermalukan Sania namun malah dia yang dibuat tak berkutik oleh Raja. Ucapan Raja sangat melukai harga dirinya.


"Jadi ini yang benar yang mana?" Tanya Pak Rw dengan mata dilayangkan ke arah Pipit.


Pipit semakin tak berkutik dibuatnya. Dia bingung mau jawab apa. Dia sudah terlanjur berbohong. Apalagi semua mata hampir menatapnya.


"Jawab dong, Mbak! Tadi aja yakin banget loh ngomongnya," celetuk salah satu warga.


"Jangan jangan bener cuma ngaku ngaku doang? Dih, apa nggak malu itu. Udah ngaku ngaku yang bukan miliknya?" cibir warga yang lain.


"Ya ampun, kayak nggak ada laki laki lain aja Mbak, segitu amat mengejarnya," sambung yang lainnya lagi.


Pipit semakin terpojok. Dia benar benar di permalukan saat ini. Dia hanya terbungkam dengan wajah yang susah diartikan.


"Udah aku peringatkan jangan nyebar berita yang nggak benar dan jangan ngaku ngaku. Masih aja berani melakukannya. Di diemin malah nglunjak. Maumu apa? Justru aku semakin jijik melihat tingkahmu yang kayak gini," lagi lagi Raja mengeluarkan ucapan pahitnya.


"Sudah sudah jangan ribut. Berhubung sekarang sudah jelas mana yang benar dan saya angap masalahnya sudah selesai mending kalian bubar," ucap Pak Rw. Dan warga pun berangsur angsur membubarkan diri. Kini diruang tamu Pak Rw hanya tersisa Raja, Sania, Pak Rw, Kirno serta beberapa warga.


"Untung Mas Raja datang tepat waktu, jadi masalahnya cepat selesai kayak gini," ucap Pak Rw lega.


"Iya, Pak. Saya juga tadinya nggak tahu ada keributan yang menyangkut saya pak. Untung teman saya ini tadi melihatnya saat mau berangkat kondangan, bergegas saya kesini, Pak," balas Raja.


"Gimana, Mbak? Mbak baik baik saja? Mbaknya orang mana sih?" Tanya Pak Rw.


"Alhamdulillah Pak, saya baik baik saja. Saya dari Rw satu pak, anaknya Abah Mudin,"


"Owalah, kamu anaknya Mudin?" Ucap Pak Rw sedikit keras karena merasa terkejut. "Kok aku baru lihat? Apa kamu yang tinggal di pesantren?"


"Iya, Pak," balas Sania sembari menyunggingkan senyum.


"Ya udah, Dek, kita pulang sekarang aja yuk, masalah udah selesai kan?" Sania tercengang dengan ajakan Raja yang begitu lembut. Padahal beberapa saat yang lalu Raja bersikap sangat dingin kepadanya. Namun saat ini, Sania tidak merasakan sikap dingin itu, melainkan sikap hangat yang biasa Raja tunjukkan. Sania hanya mengangguk. Hatinya masih takjub dengan sikap Raja barusan.


"Kalau begitu kita pamit Pak Rw, maaf loh sudah bikin nggak nyaman di daerah sini," ucap Raja.


"Baiklah,"


Dan akhirnya Raja dan Sania pun pamit undur diri kepada Pak Rw serta beberapa warga yang masih bertahan disitu.


...@@@@@...