Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 59



Tok tok tok


Terdengar pintu rumah diketuk berkali kali dengan begitu kerasnya. Bahkan suara orang mengucap salam dan memanggil nama pun terdengar lantang di depan sebuah rumah hingga sang pemilik rumah merasa jengah.


Salah satu anggota keluarga mereka segera beranjak menuju pintu utama dan membukanya.


"Eh, Bang Kirno, ada apa?" Tanya penghuni rumah begitu pintu terbuka.


"Rajanya ada nggak, Rum? Panggilin dong," ucap Kirno dengan wajah panik. Rumi yang melihat kepanikan teman sekaligus abangnya pun merasa heran.


"Ada, entar dulu," balas Rumi dan dia kembali masuk memanggil abangnya.


Tak butuh waktu lama, Raja pun keluar dengan malas menemui Kirno.


"Ada apa, Kir? Aku kan sudah bilang nggak akan ikut pesta," ucap Raja begitu dia keluar dan duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Ini bukan tentang pesta, Ini tentang Sania. Tadi di jalan, aku lihat, Sania sama Pipit sedang bertengkar,"


"Apa! Sania sama Pipit bertengkar?" ucap Raja sedikit teriak. Tentu saja dia sangat terkejut.


"Iya, aku juga kaget tadi pas lihat,"


"Bagaimana bisa mereka bertengkar?"


"Udah deh tanya tanyanya nanti dulu, mending kita bergegas ke komplek Rw 5, Sania sama Pipit sedang disidang di sana,"


Dengan pikiran yang masih kacau karena terkejut, Raja bergegas saja masuk mengambil kunci motor. Banyak pertanyaan yang timbul dalam hatinya. Bagaimana bisa Sania bertengkar dengan Pipit.


Sementara itu di rumah ketua Rw, nampak Sania dan Pipit duduk terpisah menghadap Pak Rw setempat dan juga beberapa warga yang menjadi saksi mata. Kebetulan perkelahian mereka di jalan dekat Rw setempat.


Nampak Pipit memandang sinis Sania dengan rambut yang acak acakan. Pipinya pun nampak memar karena berkali kali pipi itu kena tamparan. Sedangkan Sania nampak santai meski dia juga menatap tajam perempuan yang dia tidak kenal. Selain Pipi, tentu saja beberapa anggota badan Pipit yang lainnya merasa kesakitan akibat pukulan yang Sania layangkan.


Bagi Sania, Pipit salah memilih lawan. Meski Sania kelihatan lemah lembut, urusan pukul memukul beda lagi. Tentu saja Sania tak gentar menghadapi perempuan sekelas Pipit yang jika dilihat dari gayanya, dia hanya perempuan yang hanya menonjolkan make up dan keganjenannya. Sedangkan Sania, dia punya pendidikan bela diri saat masih di pesantren. Jadi dia cukup mudah melawan pergerakan Pipit. Raja saja yang laki laki pernah kesakitan di pukul Sania pas mabuk dan muntahin pakaiannya beberapa waktu lalu, apa lagi Pipit. Sudah pasti langsung pegal pegal.


"Sekarang kalian jelaskan, kenapa kalian bertengkar di pinggir jalan? Apa kalian nggak punya malu?" Tanya Pak rw dalam sidangnya.


Pipit tak bisa membalas ucapan Sania. Dia hanya menunjukkan rasa bencinya lewat tatapannya. Alasan Pipit menyerang Sania karena dia merasa geram akibat di tolak Raja. Pipit diam diam memperhatikan gerak gerik Raja beberapa hari ini. Dia penasaran kenapa Raja selalu menolaknya. Dan Pipit menemukan titik terang saat dia memergoki beberapa kali Raja ke rumah Sania dan juga Sania ke rumah Raja. Karena itulah, Pipit menyimpulkan Sanialah penyebab Raja menolak cinta Pipit. Maka itu dia tidak terima dan melampiaskannya kepada Sania.


"Sekarang jelaskan? Kenapa kamu bisa berbuat seperti itu? Apa kamu tidak punya malu?" cecar Pak Rw kepada Pipit yang beberapa kali meringis menahan rahang yang sakit.


"Perempuan itu merebut calon suamiku, Pak," tuduh Pipit.


"Apa! Jangan fitnah kamu! Kenal juga enggak," bantah Sania tak terima.


Sementara warga yang menyaksikannya merasa heran. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang mencibir. Warga tidak menyangka perkelahian tersebut terjadi gara gara seorang pria.


"Nggak usah pura pura nggak kenal. Kamu pasti kenal kan aku siapa?" ucap Pipit dengan sangat yakin.


"Emangnya situ artis. Penting juga nggak, kenal orang macam kayak kamu," balas Sania sangat monohok.


Pipit semakin geram di buatnya. Dia benar benar ingin sekali memberi pelajaran kepada Sania.


"Halah sok nggak kenal, kalau nggak kenal, kenapa kamu akhir akhir ini sering deketin calon suami aku? Kayak nggak ada laki laki lain aja. Penampilannya aja sok alim, sok sholehah. Eh kelakuannya minus," hina Pipit.


"Calon suami yang mana, Bu? Tunjukin dong, calon suami yang mana? Panggil orangnya kesini? Jangan nuduh sembarangan kalau nggak ada bukti," ucap Sania mencoba tenang.


"Nggak usah pura pura deh. Akhir akhir ini aku tahu kamu mendekati Raja kan? Dia tuh calon suami aku, gara gara kamu, dia berubah." ucap Pipit.


Sania menyunggingkan senyum tipis meski hatinya benar benar geram mendengar ucapan Pipit. Di saat Sania hendak mengeluarkan suara, tiba tiba dia dan orang orang tersebut di kejutkan dengan suara lantang dari arah pintu.


"Jangan percaya dengan ucapan perempuan itu, Pak. Saya bukan calon suami dia dan tidak pernah punya cita cita menikahinya!"


...@@@@@...


Alhamdulillah, puasa tahun ini othor lewati dalam keadaan sehat dan bisa menyuguhkan cerita yang menghibur. Makasih reader masih setia mengikuti Juragan empang yak. Jangan lupa tetap dukung Abang Raja dengan memberi vote, like, gift, rate, komen.


Mumpung dalam suasana yang fitri nih, tak lupa juga othor mengucapkan thaqabalallahu mina wa minkum, minal aidzin wal fa'izin. Maafin othor jika selama ini othor ada salah, baik yang di sengaja ataupun tidak di sengaja ya genk. Dan semoga kalian semua tetap dalam kebaikan dan tetap mendapat kebaikan dari arah mana pun. Selamat idul fitri.