Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 23



"Untuk selamanya? Maksudnya?"


Raja tergagap. Makanan yang sedang dia kunyah mendadak terasa susah di ajak masuk ke dalam kerongkongan. Kepalanya mendongak, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri memandang ke arah tiga orang yang serentak memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Maksudnya, dia pengin selamanya numpang makan disini kali, Mi," ucap Sania tiba tiba. Dia segera mengeluarkan suara sebelum Raja punya alasan lain. Sania tahu benar maksud dari ucapan pria yang dimatanya sangat menyebalkan itu.


"Ya ampun, Dek! Siapa yang mau numpang makan terus? Tapi kalau kamu memaksa, boleh lah, Abang mau," Mendengar perkataan Raja tanpa dosa, Sania langsung menunjukkan wajah ketusnya kembali.


Abah dan Umi hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang yang seperti kucing dan tikus tiap kali ketemu. Dimata mereka, Raja sebenarnya pemuda yang baik. Mereka kenal Raja sejak lama dan kebetulan Raja adalah teman salah satu anaknya yang sekarang sudah menikah. Di tambah lagi Abah Sania berteman baik dengan Ayahnya Raja.


Mereka sadar, tidak semua manusia mempunyai sifat buruk. Dan tidak semua manusia akan selalu bertindak buruk. Begitu juga Raja. Bahkan dulu saat Raja pertama kali melakukan kesalahan pada Sania, Raja segera meminta maaf. Dan dari sana lah, Raja jadi dekat dengan Abah Mudin dan Umi Sarah Menurut Abah, Raja hanya salah dalam bergaul dan juga terlalu cuek dengan ucapan orang lain termasuk orang tuanya. Raja adalah sosok yang butuh di bimbing, makanya Abah Mudin setuju saja saat Raja meminta Sania menjadi guru ngaji buat Raja.


Mereka juga sebenarnya tahu, Raja menyukai putrinya. Namun mereka tidak akan memaksa sesuatu hal kepada Sania. Kalau memang mereka jodoh, mereka hanya tinggal merestui. Tapi seperti yang sudah terlihat, hati Sania masih belum ada yang bisa menaklukan. Dan mereka juga tahu, Sania tidak menyukai pacaran. Sebagai orang tua, mereka juga tidak pernah mengijinkan anak anaknya pacaran sama seperti kedua kakak Sania. Maka dari itu mereka membiarkan Sania memilih sendiri jodohnya. Karena bagi mereka, Sania lah yang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri dan mereka hanya bertugas membimbing dan memberi nasehat layaknya orang tua.


"Siapa juga yang maksa? Ih pede banget! Lagian, bisa nggak sih manggil aku jangan dek dek dek dek, aku bukan adikmu," sungut Sania.


"Nggak bisa," jawab Raja enteng. Tentu saja dengan cecengesan sebagai pengiring.


Sedangkan Abah Mudin dan Umi Sarah, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Jadi nanti kamu akan belajar ngaji dimana, Ja?" tanya Abah begitu dia menghabiskan sarapannya.


"Di rumah," balas Raja.


"Di Balai Masjid," balas Sania.


Hampir bersamaan mereka mengeluarkan jawaban yang berbeda. Sania mendelik, Raja cengengesan.


"Di balai Masjid aja, nggak mau kalau di rumah," tolak Sania. Masih dengan wajah sinisnya.


"Ya jangan gitu dong, Dek. Aku malu lah, masa belajar ngaji di depan anak anak," cicit Raja jujur dan tentu saja Sania yang sedari tadi menunjukkan wajah ketus seketika tergelak mendengar pengakuan pria tukang modus itu.


"Ya nggak apa apa, kan, kamu jadi ada temennya. Nggak sendirian," ledek Sania merasa menang kali ini.


"Nggak mau, yang ada aku nggak fokus, aku kan serius pengin belajar," tolak Raja. Selain fokus belajar, Raja juga bisa fokus memandang Sania, begitu kira kira maksudnya.


"Jangan banyak alasan deh. Anak anak aja bisa fokus meski susah. Masa kamu yang sudah beruban kalah," cibir Sania.


"Apaan beruban, enak aja. Di rumah kan lebih enak, Dek. Ada Rumi, Ibu, Bapak. Nggak bakalan ada fitnah. Kalau di Balai Masjid, aku nggak yakin akan selesai pada waktunya," Kekeh Raja. Otaknya terus berpikir sampai benar benar Sania mau mengajarinya di rumah. Sedangkan Abah sama Umi dengan seksama menyimak perdebatan yang terjadi di hadapan mereka.


"Udah udah, jangan ribut. Benar kata Raja, Nak. Mending di rumah saja. Biar Raja bisa fokus dan cepat pandai. Lagian ada ibu dan bapak Raja. Biar nggak rentan fitnah." saran Abah tiba tiba. Dan hal itu membuat Sania gusar sedangkan Raja bersorak riang dalam hati.


"Tapi, Bah,"


"Udah, niatkan yang baik baik, kesampingkan su'udzon. Biar kamu nggak punya pikiran yang buruk buruk lainnya," Saran Abah lagi.


Dengan wajah ditekuk, Sania terdiam. Dia memikirkan ucapan Abah sambil melayangkan pandangan ke arah tiga orang di hadapannnya. Dia menghirup nafasnya dalam dalam kemudian dengan kasar dia menghembuskannya.


"Baiklah, Bah. Kalau menurut Abah itu yang lebih baik," jawab Sania pasrah dan Raja semakin sorak sorak bergembira dalam hatinya.


"Yess!"


...@@@@@...