Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 11



Beberapa saat kemudian, laju motor Raja pun telah sampai di kediaman Sania. Begitu motor berhenti dan terparkir sempurna, Sania langsung turun. Selain rasa benci, dia juga takut ada ucapan yang tak mengenakkan. Apalagi dia tahu siapa Raja di kalangan masyarakat. Selain terkenal sebagai juragan, dia juga terkenal menjadi biang masalah.


"Buru buru banget turunnya, Dek?" Tanya Raja masih dengan senyum yang tersirat.


"Mau mau aku lah, takut ada gosip juga." Jawab Sania ketus, "Makasih, sudah nganterin, aku masuk dulu."


Raja sedikitpun tak menampakkan kemarahan diperlakukan seperti itu. Dia malah merasa gemas dan bahagia. Setidaknya dia bisa membuat Sania tak menghindarinya seperti dulu.


"Motornya besok aku yang antar ya?" Tawar Raja. Seketika Sania menghentikan langkah terburunya. Dia lupa kalau motornya ditinggal di rumah Raja.


"Nggak usah. Ntar aku nyuruh saudara aja yang ambil." Balas Sania tanpa memandang wajah Raja.


"Nggak bisa. Kamu yang ambil atau aku yang ngantar." Ucap Raja membuat Sania melotot ke arahnya.


"Mana bisa begitu?" Protes Sania.


"Harus bisa dong. Besok aku jemput pas kamu mau ngajar, oke." Balas Raja santai.


Disaat Sania mau membalas ucapan Raja, tiba tiba pintu terbuka. Seseorang terlihat keluar rumah dan menyernyitkan dahinya.


"Sania? Kenapa baru pulang?" Tanya perempuan yang ternyata Umi Sarah.


"Assalmu'alaikum, Umi." Sapa Raja langsung berubah sopan.


"Wa'alaikum salam, ini ada apa nih? Kok bisa barengan sama Raja?" Tanya Umi heran.


"Mau minta ijin sama abah, Umi. Abahnya ada?" Tanya Raja. Sania yang hendak mengeluarkan suara, mendadak menghentikan niatnya dan dia langsung mendelik ke arah pria yang sedang senyum senyum.


"Abah ada di dalam, mau ketemu?" Tanya Umi Sarah.


"Iya Umi. Raja mau minta maaf soal kejadian semalam." Jawab Raja.


"Nggak perlu. Udah selesai, ngapain minta maaf." Sergah Sania ketus.


"Dak dek, dak dek! Aku bukan adekmu, nggak usah sok akrab deh." Jawab Sania makin ketus. Raja hanya cengengesan dan sang ibu hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah nak Raja. Silahkan duduk dulu, nanti Umi panggilkan abah ya?" Tawar Umi.


"Kok, Disuruh duduk Sih Mi?" Protes Sania.


"Sania! Jangan gitu. Ada orang niat baik ya di sambut baik. Jangan di galakin." Balas Umi.


Sania melirik tajam Raja sembari mendengus sedangkan Raja menaik turunkan alisnya tanda dia bahagia karena merasa menang.


Raja seketika beranjak menuju kursi yang ada di teras. Sedangkan Sania dan Umi segera masuk.


Tak lama kemudian Abah pun keluar. Seketika Raja langsung mengucap salam dengan sopan dan Ustad Mudin pun menjawab salam dan mempersilahkan Raja duduk kembali.


"Tumben anaknya Abdul main kesini? Ada apa?" Tanya Abah langsung ke intinya.


"Iya nih, Bah. Aku mau minta maaf dengan kejadian semalam. Aku nggak ada maksud melecehkan Sania, Bah." Sesal Raja.


"Kamu itu, Nggak ada kapoknya buat ulah, Ja. Apa kamu nggak kasihan sama orang tua kamu? Mereka semakin tua tapi melihat anaknya nggak ada perubahan sama sekali, apa mereka nggak kecewa?" Tanya Abah pelan tapi cukup membuat nyali Raja menciut.


"Kamu itu, Jalan rejeki sudah ada, bahkan dikampung kamu termasuk sukses. Tapi perangai kamu itu loh. Apa kamu benar benar nggak mau berubah? Apa kamu mau nunggu badan kamu hancur karena pengaruh alkohol? Kamu nunggu dapat azab atau gimana?" Kamu itu masih muda, Ja. Jangan sia siakan masa muda kamu dengan hal yang tidak baik." Ucap Abah lagi dengan beragam nasehatnya.


"Maka itu, Bah. Aku kesini selain mau minta maaf, aku juga ingin minta ijin sama Abah." Ucap Raja dengan yakin. Bahkan dia berani menatap mata pria dihadapannya.


"Minta ijin? Minta ijin untuk apa?" Tanya Abah penasaran.


"Aku ingin memperdalam ilmu agama sama Sania, Bah."


"Apa!"


@@@@@