Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 29



"Laki laki kok sholatnya dikamar, nggak malu apa ada Sania? Laki laki tuh sholat di masjid. Udah sana wudhu, kita jamaah bareng, kamu jadi imam," titah sang ibu. Dan tentu saja Raja tercengang dengan perintah yang baru saja dia dengar.


"Jadi imam? Yang benar saja? Sholat aja masih amburadul?" batin Raja bergejolak. Kini dia benar benar berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan. Mau menolak, Malu ada Sania. Mau menerima, tetap nanti dia malu sendiri di hadapan Sania jika ada kesalahan.


"Bapak aja deh yang jadi imam? Bapak mana?" ucap Raja sembari mengedarkan pandangan mencari keberadaan kepala rumah tangga di rumah tersebut.


"Paling Bapak pulang dari empang langsung ke masjid lah, kayak nggak tahu aja kamu," lagi lagi jawaban ibu membuat Raja tak bisa menghindar. Memang itulah kebiasan Abdul, kalau nengok empang sore hari pasti pulangnya menjelang maghrib dan langsung ke masjid.


"Udah Sana, Bang, buruan wudhu. Waktu maghrib pendek loh. Kasian juga sama Mbak Sania," desak Rumi. Raja malah dibuat semakin tak berkutik. Terlihat dengan jelas sekali, ada kesan mengejek dalam wajah sang adik. Sedangkan Sania hanya terdiam memandangi Raja yang seperti orang bingung. Raut wajah Sania tidak bisa di jabarkan dengan kata kata.


Dengan terpaksa akhirnya Raja pun melangkahkan kakinya ke tempat wudhu yang ada di dekat mushola kecil di dalam rumahnya. Tempat sholat di rumah Raja memang sengaja dibuat sang ayah untuk melengkapi ruang di rumahnya. Tempatnya juga tidak terlalu kecil. Cukup untuk jama'ah sebanyak enam orang.


"Dedek Sansan, jangan lihatin abang terus dong! Abangkan jadi malu," ucap Raja ketika dia sudah siap hendak berwudhu.


Sania dan Rumi seketika kompak menjawab, "dih," dan mereka berpaling sambil terkikik. Sedangkan sang ibu juga ikut menyunggingkan senyum dan dia beranjak ke kamarnya untuk wudhu di kamar mandi dalam kamar.


Tanggung jawab seorang imam dalam sholat memang berat. Dia memikul tanggung jawab atas orang orang yang menjadi makmumnya. Tapi bukan itu yang menjadi pemikiran Raja. Diabmerasa keberatan karena baru kali ini dia jadi imam dan parahnya yang menjadi makmum adalah wanita yang dia idamkan. Ingin terlihat sempurna tapi itu tidak mungkin karena dia sendiri akan belajar mengaji. Jika ada kesalahan, sudah pasti betapa malunya dia.


"Udah siap?" tanya Raja begitu ketiga perempuan dalam rumah tersebut sudah berjejer di belakangnya menggunakan mukena.


"Sudah," Rumi yang bersuara.


"Ya ampun, Abang! Jujur amat. itu aja juga udah cukup, cepet dimulai!" perintah Rumi dan Raja membalasnya dengan cebikan bibir sedangkan Sania dan Ibu hanya tersenyum melihatnya.


Dengan segenap kekuatan yang ada dan jantung yang berdegup lebih dari biasanya, Raja menghela nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya. Tak lama kemudian gumaman basmallah dan niat sholat maghrib pun terdengar dari mulut sang Raja dan di susul suara takbir yang menggema cukup keras.


Raja benar benar memfokuskan pikirannya agar bacaan suratan pendek yang terucap tidak salah. Ini benar benar pengalaman pertama yang tidak pernah dia duga.


"Assalamu'alaikum warohmatullah...." ucap Raja sembari memalingkan kepalanya ke arah kanan dan kiri sebagai tanda sholat selesai di laksanakan. Ketiga perempuan di belakangnya pun mengikuti gerakan yang sama.


Setelah mengusap wajah dengan telapak tangannya, Raja langsung menghembuskan nafa penuh kelegaan setelah berhasil melewati beberapa menit yang menegangkan. Tiba tiba Raja mendapat ide dan dia segera memutar badannya dan menyodorkan tangan kanan ke arah Sania berharap Sania menyambutnya. Namun bukan Sania yang meraih tangan Raja melainkan sang adik yang langsung menyambar tangan itu.


"Belum halal" ledek Rumi kemudian mencium punggung tangan kakaknya. Raja hanya bisa mendengus. Rencana romantisnya gagal total. Sang ibu dan Sania lagi lagi tersenyum tipis melihat kelakukan Raja dan adiknya.


"Ya kan anggap aja ini latihan, biar nanti pas udah jadi udah halal, Abang sama dedek Sansan sudah terbiasa," balas Raja sambil beranjak meninggalkan ketiganya.


Ibu, Sania dan Rumi saling memandang dan seketika serentak bersuara, "Dihhhh!"


...@@@@@@...