
"Assalamu'alaikum, Dedek Sansan," sapa Raja dengan menampilkan senyum termanisnya. Salah satu tangannya menenteng kantung plastik.
"Wa'alaikum salam," Balas Sania dengan nada ketus. Wajahnya benar benar menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"Ya ampun, Dek! Jutek banget? Awas loh, nanti cantiknya nambah," Ledek Raja.
"Ighh, apaan sih! Ada apa? Pagi pagi sudah nongol aja di rumah orang?" Tanya Sania masih dengan wajah judesnya.
"Nggak dipersilahkan masuk dulu nih, lagian aku ada perlu sama Abah," Balas Raja dusta. Padahal hatinya hanya ingin melihat wanita yang berdiri di hadapannya dengan tangan memegang tepi pintu.
"Abah lagi sarapan, kalau mau nunggu ya tungguin aja di situ, entar aku panggilin," ucap Sania masih dengan sikap ketusnya sambil menunjuk kursi yang ada di teras.
"Nungguinnya sendirian?" tanya Raja sok bego dan tentu saja membuat Sania semakin kesal.
"Ya iya lah, ya udah aku mau manggil Abah dulu," Balas Sania. Dia berbalik badan hendak masuk memanggil Abah, namun langkahnya terhenti saat dia merasa Raja hendak mengikutinya masuk ke dalam. "Kamu mau ngapain?"
"Mau numpang ke toilet," Balas Raja asal sambil cengengesan. Sania di buat tercengang dan mau tidak mau dia pun mengajak Raja masuk dan menunjukkan arah kamar mandi.
"Loh? Raja?" pekik Abah Mudin yang masih berada di meja makan.
"Assalamu'ailakum, Bah," ucap Raja sopan.
"Wa'alaikum salam Raja, ada apa ini? Pagi pagi sudah kesini?" tanya Abah.
"Ini, Bah. Disuruh Ibu nganterin udang buat Sania," dusta Raja sambil menyodorkan kantung plastik berisi udang ke Umi Sarah yang berada lebih dekat dengan Raja yang berdiri. Sania kembali dibuatnya tercengang. Dia semakin menatap kesal ke arah Raja.
"Ya ampun, Ja! Ngapain repot repot amat sih? bilang sama Ibu, makasih ya?" balas umi setelah menerima udang tersebut dan dia bangkit menuju rak piring mengambil wadah untuk memindahkan udang.
"Nggak repot kok, Umi. Itu hanya sebagai tanda terima kasih karena Sania mau ngajarin Raja ngaji, Mi," lagi lagi Raja berdusta dan dustanya membuat Sania semakin terlihat syok.
"Kapan aku bilang setuju?" sungut Sania dan Raja hanya menjawabnya dengan cengengesan.
"Ya kalau niat kamu benar benar pengin belajar, Abah sih setuju saja, asal tahu batasannnya, Ja. Di usahakan, jangan sampai mengundang fitnah dan ada prasangka buruk," Saran Abah.
"Tentu dong, Bah. Kan aku sudah bilang, belajarnya dengan adikku, Bah," terang Raja.
"Ngomongnya sambil duduk, Ja. Sekalian ikut sarapan sini," tawar Umi. "Belum sarapan, kan?"
"Belum, Umi. Ini baru pulang dari tambak langsung kesini," kali ini Raja berkata jujur sementara Sania masih menatap Raja dengan sinis.
"Ya udah, sini duduk. Sania, ambilin piring dan gelas untuk Raja," titah Umi. Wanita itu kembali mendengus. Mau tidak mau, Sania pun menurutinya sedangkan Raja, hatinya bersorak gembira.
"Katanya mau ke toilet?" gerutu Sania sambil berlalu mengambil piring di rak yang terletak dekat dapur.
Sania tidak habis pikir, pria yang sangat ingin dia hindari malah terus saja terlihat di depan matanya. Padahal dia sudah niat jauh jauh hari ketika masih di pondok, harus bisa menghindari pria yang bernama Raja. Dulu dia mampu menghindar karena dia pulang ke rumah tidak pernah lama. Namun kini, baru empat hari dirumah, dia sudah dua kali ketemu Raja. Bahkan sepertinya kali ini Sania akan lebih sering ketemu.
"Makan yang banyak, Ja. Cobain masakan Sania," Mendengar Sania yang masak, wajah Raja kembali berbinar. Tanpa rasa canggung, dia menerima piring yang Sania sodorkan dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk yang di hidangkan.
"Wah! Masakannya enak banget, Bah." puji Raja saat mulai melahap makanannya. Dan pastinya pujian tersebut mengandung gombalan, namun yang dipuji lagi lagi cuma mencebikkan bibirnya.
"Kamu laki laki pertama loh, Ja, yang mencicipi masakan Sania," ujar Umi Sarah sambil melirik putrinya yang tiba tiba melototkan matanya ke arah Umi Sarah.
"Wah! Benarkah? Aku tersanjung. Semoga aku yang pertama dan untuk selamanya ya, Umi," ucap Raja dengan wajah nampak berbinar. Dia kembali melanjutkan menikmati sarapannya tanpa menyadari semua mata tertuju padanya.
"Untuk selamanya? Maksudnya?"
Deg.
Raja tertegun, dia bingung mau jawab apa.
...@@@@@...