Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 48



Sania terpaku menatap kepergian Raja dan Rumi. Dia tahu pasti Raja merasa terhina dengan ucapannya. Sungguh ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mungkin karena rasa kesal karena sikap Raja yang seperti memaksa kehendaknya hingga terlontar kata hinaan begitu saja.


Meski pun Sania membenci Raja sejak kejadian beberapa tahun silam, sungguh Sania tidak pernah terlintas dendam ataupun ingin menghina pria tersebut. Sejak kejadian ciuman tempo dulu, Raja memang selalu berusaha mendekati Sania, namun sungguh tak pernah sedikitpun Sania memaki Raja dengan perkataan yang sangat kasar.


Sebenci apapun Sania terhadap seseorang, dia selalu berusaha menjaga ucapannya agar tidak melukai orang tersebut meski kadang sikap tidak sukanya juga terlihat oleh sikap dan gerak gerik tubuhnya. Biar bagaimana pun Sania juga manusia biasa yang hanya berusaha bersikap santun dan baik.


"Sepertinya Raja tersinggung dengan ucapanmu, San," ucap Ramzi sembari tersenyum tipis. Dia melihat ada raut penyesalan di wajah Sania.


"Aku tahu," cicit Sania sembari menunduk. Hatinya tiba tiba menjadi kacau. Entah kenapa dia mendadak gelisah melihat amarah pada wajah Raja tadi. Harusnya dia senang. Bisa saja setelah kejadian ini, Raja berhenti mengganggu hidupnya. Namun yang dirasakan Sania justru berbeda. Dia malah larut dalam penyesalan dan rasa bersalah.


"Mending secepatnya kamu minta maaf. Biar nggak berkepanjangan. Entar silaturahmi yang terjaga dengan baik, bisa bisa rusak karena hal sepele," Saran Ramzi.


Sania mendongak menatap pria di hadapannya dan menyunggingkan senyum yang terasa hambar. "Iya, nanti,"


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, San. Udah malam. Tolong pamitkan pada Abah dan Umi," pungkas Ramzi sembari berdiri dan beranjak. Sania pun ikutan berdiri dan mengikuti langkah Ramzi hingga batas teras. Setelah pamit dan mengucap salam, Ramzi pun melajukan motornya meninggalkan kediaman Sania.


Gadis itu terpaku. Sania menyandarkan bahunya pada tembok penyangga atap di sisi kanannya. Pikirannya masih tertuju pada perubahan sikap Raja. Berkali kali dia menghembuskan nafasnya secara kasar. Berkali kali juga dia mengucapkan istighfar, namun hatinya tak juga tenang. Sania pun akhirnya berbalik badan dan beranjak masuk ke dalam rumah.


"Udah pada pulang?" tanya Umi begitu melihat sang putri lewat menuju kamarnya.


Sania mengurungkan niatnya menuju kamar. Dia beralih arah dan duduk disebelah sang Umi, "Sudah."


"Kok wajahnya di tekuk gitu? Ada masalah?" tanya Umi yang merasakan keanehan pada sikap Sania.


"Sania keceplosan menghina Raja, Mi," jawabnya jujur. Dia merebahkan kepalanya di bahu sang Umi.


"Kok bisa?" tanya Umi terkejut.


"Ya tidak sengaja, Mi. Abis dia bikin sebel mulu. Aku kan jadi emosi. Eh keceplosan ngatain dia pemabuk," tutur Sania. Umi Sarah tersenyum tipis.


"Ya udah, jangan terlalu dipikirin dan secepatnya minta maaf, bilang kalau kamu keceplosan,"


Di tempat lain. Raja pun terlihat telah sampai dirumahnya. Wajah ceria Raja benar benar tidak nampak malam ini. Sang ibu yang lagi asyik nonton sinetron juga merasa heran dengan sikap putranya. Apa lagi Raja melenggang begitu saja masuk ke kamarnya tanpa membalas ucapan sang ibu.


"Abang kamu kenapa, Rum?" tanya ibu kepada anak perempuannya yang baru menghempaskan tubuhnya dikursi sebelah sang ibu duduk.


"Patah hati," jawab Rumi asal.


"Patah hati kenapa?" tanya Ibu mendadak rasa penasarannya muncul.


"Di tolak Mba Sania lah, Bu,"


"Hah!" pekik ibu syok. "Kok bisa?"


Rumi pun mau tak mau langsung menceritakan kejadian di rumah Sania secara mendetail. Sang ibu nampak takjub mendengarnya. Bahkan kerap kali Ibu terlihat manggut manggut dan geleng geleng saking terkejutnya mendengar cerita sang anak.


"Begitu," ucap Rumi mengakhiri ceritanya.


"Dih, abangmu kekanakan sekali." cibir Ibu.


"Iya ya, Bu. Di hina kita aja kebal dan hanya cengengesan, eh sekali Sania yang ngomong langsung kena mental," balas sang adik dan keduanya terkekeh.


Sementara di dalam kamar, semangat Raja seperti lenyap tanpa sisa. Dia bahkan terlihat tidak punya tenaga saat melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan boxer sesuai kebiasaannya menjelang tidur. Raja merebahkan tubuhnya. Matanya menatap lurus langit langit. Pikirannya melayang membayangkan wajah Sania.


Ting


ponselnya berbunyi. Raja menoleh ke arah letak ponselnya. Dengan malas di julurkan tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah ranjang. Di bukanya sandi ponsel dan di gulirkan layar ponsel ke arah bawah. Matanya tertegun. Disentuhnya simbol pesan chat berwarna hijau. Wajah yang tadi murung seketika berubah ceria kembali saat di layar ponsel tertera nama kontak Sania dengan kata, "Maaf, Bang, aku nggak sengaja ngomongnya,"


...@@@@@@...