
Waktu terus berputar sesuai rotasinya. Jam di dinding menunjukkan jarum pendek pada jatuh pada anggak sepuluh dan jarum panjang jatuh pada angka tiga.
Dari dalam sebuah kamar, sepasang suami istri nampak sedang membicarakan sesuatu yang penting mengenai anak laki laki.
"Pak, Bapak merasakan perubahan Raja akhir akhir ini?" tanya sang istri sembari menoleh ke arah sang suami yang sedang duduk bersandar samnbil membaca buku cacatan.
"Perubahan yang gimana maksud ibu?" tanya Bapak tanpa mengalihkan pandangannya.
Sang istri yang sedari berbaring pun bangkit dan ikutan duduk bersandar seperti sang suami. "Sikap Raja. Sekarang dia lebih giat dalam belajar agama dan menjalankannya."
"Oh itu, tapi sayangnya, semua perubahan itu terjadi karena wanita, Bu. Bapak khawatir perubahan itu tidak bertahan lama," balas Bapak.
"Tapi seenggaknya. Dia punya penyemangat untuk berubah, Bang. Syukur karena hal itulah, Raja selamanya berubah, Pak." balas sang ibu.
"Bapak sih mendoakannya begitu, Bu. Tapi semua itu, kembali ke Raja nya nanti bagaimana?" ujar Bapak.
Sang istri pun sejenak manggut manggut sembari mencerna kata kata sang suami. Sejenak dia menghela nafasnya.
"Pak, gimana kalau kita nyoba ke rumah Abah Mudin, minta Sania buat ta'arufan?"
Bapak seketika tercengang. Dia menoleh dan menatap lekat sang istri yang juga sedang menatapnya. "Ibu serius?"
"Serius lah, Pak. Kalau pun ditolak, seenggaknya kita udah usaha. Kasian Raja. Dia juga pasti menginginkan Sania, tapi dia ragu karena kelakuannya." balas ibu yakin.
"Apa Raja sudah cerita ke Ibu?"
Tatapan bapak pun kembali ke arah cacatan yang dia pegang sembari memikirkan usulan sang istri. Abdul menyadari, selama ini memang dia ingin melamar Sania untuk Raja. Namun dia urungkan karena mengingat tingkah dan hobbi anaknya bagimana. Tapi dia juga tidak ingin anaknya selalu diombang ambing harapan yang tidak ada ujungnya karena rasa takut yang bergelayut di pikirannya.
"Baiklah, Bu. Nanti kalau Abah Mudin pulang, kita coba datang kerumahnya untuk membicarakan hal ini," Sang istri pun mengulas senyum mendengar keputusan suaminya. Dia mengangguk kemudian kembali berbaring.
Sementara itu dikamar yang lain, Sania nampak susah memejamkan matanya. Entah kenapa rasa kantuk belum juga datang menghampirinya. Sedangkan di sebelahnya, Rumi sudah tertidur pulas. Sania menatap langit langit kamar itu. Pikirannya tertuju pada satu nama pria yang menurut penuturan Rumi tadi sebelum tidur kalau Raja sudah lama menyukai dirinya.
Sungguh Sania tidak memahami apa yang Raja lakukan selama ini. Sania berpikir, dari dulu Raja mendekatinya karena rasa bersalah Raja telah membuat dia malu, bukan karena ada perasaan khusus dalam hati Raja. Jika Rumi tidak menceritakan perasaan Raja, Mungkin selamanya Sania hanya tahu kalau yang Raja lakukan adalah sebagai penebus Rasa bersalah saja.
Sania juga teringat dengan pertanyaan teman Raja saat tadi sore membeli Jus bersama Fatar. Dari pertanyaan yang teman Raja lontarkan, jelas sekali kalau Raja memamg sudah lama menyukainya.
"Apa aku harus bertanya pada bang Raja? Benar nggak dia sudah lama menyukaiku? Kalau jawabannya iya, aku harus bagaimana? Terus kalau jawabannya tidak, apa nggak memalukan buat aku?" gumam Sania pada dirinya sendiri. Malam ini tidak seperti malam malam kemarin. Sania benar benar gelisah memikirkan sikap dan perasaan Raja sampai pada akhirnya rasa kantuk pun menghampiri dan membuatnya terlelap.
Di dalam kamarnya, Raja juga belum bisa memejamkan mata. Pikirannya jelas tertuju pada seseorang yang saat ini berada di kamar adiknya. Tentu saja dia merasa sangat bahagia. Apa lagi akhir akhir ini sikap Sania kepadanya benar benar berubah. Dan yang Raja pikirkan adalah mencari cara agar Sania juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Meski Raja tahu, Sania tidak menyukai yang namanya pacaran. Namun semua itu hanya untuk memastikan langkah Raja kedepannya bagaimana jika hati Sania berhasil dia dapatkan. Lama kelamaan, rasa kantuk pun menghampiri Raja juga hingga akhirnya dia menyerah dan terlelap.
Waktu terus bergerak dan tepat jam empat pagi Sania terbangun. Sania hendak melaksanakan sholat malam, dia pun turun dari ranjangnya dan segera keluar kamar.
Saat langkah kakinya melangkah menuju tempat sholat, dia dikejutkan dengan suara orang sedang mengaji. Meski tidak keras tapi suara itu jelas darimana berasal. Bibir Sania pun menyunggingkan senyumnya.
"Bang Raja benar benar serius belajar mengajinya? Alhamdulillah," gumam Sania dan dia melangkah menjauh dari depan pintu kamar Raja.
...@@@@@...