Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 102



Seperti yang sudah di katakan, Sania memang sore ini tidak mengajar ngaji di balai masjid kompleknya Raja dan otomatis Sania juga tidak mengajar ngaji Raja dan Rumi karena sedang membantu di hajatan tetangga.


Terlihat di sana, Sania sedang duduk di dekat meja yang berisi beberapa mangkok racikan bakso untuk para tamu. Setiap tamu yang datang, dengan sigap Sania melayani tamu yang memilih menu bakso.


Sania melakukan hal seperti itu juga dengan tujuan agar dia bisa berbaur dengan masyarakat sekitar. Maklum, lama hidup di pesantren membuat dia tidak mempunyai teman yang banyak selain Lita dan Mita. Dengan cara melakukan hal seperti itu, Sania jadi mengenal tetangga tetangga yang masih seusianya dan bisa mengakrabkan diri.


Saat maghrib menjelang, Sania memilih undur diri sejenak dan akan dilanjutkan kembali setelah dia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Lelahnya," keluh Sania saat pulang.


"Tamunya banyak apa?" tanya Umi yang melihat anaknya pulang nampak kelelahan.


"Huu, banyak banget Umi. Aku aja yang cuma berdiri di meja bakso kelelahan. Apa lagi anak anak yang sibuk ambil ini ambil itu. Pasti lelah banget mereka." jawab Sania sembari menghempas tubuhnya di kursi ruang tengah.


"Ya udah, sholat dulu sana, terus makan. Biar nanti ada tenaga pas bantuin lagi." perintah Umi.


"Baik, Mi." Sania pun berjalan gontai menuju kamarnya terlebih dahulu.


Sementara di rumah Abdul. Raja sedang berkumpul di meja makan dengan keluarga yang lainnya. Jani dan suaminya juga berada disana. Mereka berkumpul untuk membahas acara lamaran Raja yang kata Raja ingin dilakukan secepatnya.


"Bu, kenapa ya? aku lihat Bang Raja, bawaannya pengin jitak mulu dari tadi," Sela Rumi sambil menikmati santapannya.


"Hust, nggak sopan, aku ini kakak yang sangat menyangimu jadi kamu harus menghormatiku," hardik Raja.


"Tu kan, Bu. Lihat! Nyebelin kan?" Adu Rumi. Sedangkan Raja, cuma cengengesan mendengar.


"Namanya juga lagi seneng, Rum. Maklumi aja," timpal Jani.


"Iya ini perawan satu, nggak demen banget lihat kakaknya seneng, nggak dapat tambahan uang jajan, baru tahu rasa kamu," sungut Raja sembari mengancam.


"Kamu serius mau melamar Sania malam minggu depan?" tanya Bapak memotong perdebatan kedua anaknya.


"Ngaco kamu kalau ngomong! Emangnya nggak butuh persiapan?" Oceh Ibu.


"Ya makanya aku bilang malam minggu besok juga biar Ibu, Mbak Jani dan Rumi bisa nyiapin segalanya yang dibutuhkan." balas Raja.


"Baiklah, nanti Bapak ngasih kabar ke Abah soal ini," ucap Abdul.


"Jangan! Biar aku aja nanti yang ngomong sama Sania," cegah Raja sambil cengengesan.


"Dih, tu kan, Bu. Raja gila," cibir Rumi. Semua yang disana hanya menyunggingkan senyum hingga acara makan dan rapat keluarga pun selesai.


Tak terasa, waktu terus berputar hingga kini menuju semakin malam. jam sembilan, Sania memutuskan pulang dari rumah tetangga. Begitu sampai kamar, dia langsung membersihkan badan dan menunaikan sholat isya karena tadi tidak sempat pulang saking banyaknya tamu.


Setelah semuanya selesai dilakukan, kini saatnya Sania merabahkan tubuhnya diatas ranjang sambil meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah tempat tidur. Pinsel dia nyalakan dan diceknya aplikasi chat. Ada satu nama diantara beberapa pesan chat yang masuk yang membuat Sania menyunggingkan senyumnya.


Di dalam pesan chat tersebut hanya tertulis kata "Dedek," tapi kata yang dulu dibenci jika Raja mengucapkannya, kini menjadi kata yang membuat hati Sania berbunga bunga.


Sania pun segera membalasnya, "Wa'alaikum salam iya Bang. Ada apa?"


Raja yang sedang main game di kamarnya pun langsung berhenti saat ponselnya muncul pemberitahuan pesan dan senyumnya mengembang saat dia tahu siapa pengirim pesan chat tersebut.


Raja segera membaca dan membalasnya, "Ah iya lupa, maaf tidak ada salamnnya tadi, Dek." dan balasan langsung dia kirim.


Tak perlu menunggu waktu lama, balasan chat dari Sania pun datang, "Udah kebiasaan nggak pake salam ya, Bang?"


Raja tersenyum malu membaca balasan Sania yang menyindir dirinya, kemudian dia membalas chat itu dengan emoticon tertawa dan emoticon monyet menutup mata. Sania yang membaca balasan Raja juga menyunggingkan senyum manisnya.


...@@@@...