Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 104



Hari pun terus melaju tanpa bisa dihentikan. Seperti yang sudah dibicarakan, siang ini Raja menyambangi kediaman Sania untuk memberi kabar tentang acara lamaran kepada Abah Mudin.


Selain itu, Raja juga mengambil cincin Sania untuk dijadikan ukuran jari saat membeli cincin. Layaknya manusia pada umumnya, sebenaranya Raja juga ingin membeli cincin berdua dengan Sania dan memilihnya langsung. Namun keadaan mereka yang tidak mendukung membuat Raja mengambil keputusan membeli cincin sendirian.


Setelah semua urusan yang berhubungan dengan Sania selesai, Raja memilih mendatangi rumah kakak perempuannya. Dia ingin meminta bantuan pada Jani untuk memilih cincin lamaran. Sania sudah memasrahkan semuanya ke Raja.


Jani yang mendapat kepercayaan dari sang adik untuk mengurusi segala keperluan acara lamaran sang adik, benar benar merasa terharu dan bersyukur. Sang adik selalu membuktikan kalau usaha tidak akan pernah menghianati hasil.


Masih jelas teringat dalam memori Jani, betapa sang adik memang pekerja keras sejak menginjakkan kakinya di bangku SMA. Dia memilih belajar mengelola tambak Bapaknya daripada merantau atau kuliah. Terbukti, setelah dibantu Raja, usaha Bapak berkembang pesat. Dan sekarang Raja berhasil menaklukan hati wanita setelah bertahun tahun mengejarnya.


Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, acara lamaran Raja sengaja dirahasiakan oleh kedua pihak keluarga. Apalagi setelah ada kabar tak enak yang menerpa Abah Mudin, Raja dan Sania menjadi lebih hati hati dalam bersikap.


Waktu pun terus melangkah seperti biasanya. Hingga tibalah saat saat yang paling Raja tunggu. Beberapa jam lagi, acara lamaran akan dilaksanakan. Terlihat beberapa anggota keluarga Raja satu persatu sudah hadir di rumah Raja. Para laki laki hanya saling bercengkrama mengenai kabar kehidupan masing masing. Sedangkan para wanita selain bergosip, mereka juga menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa saat acara lamaran nanti.


Begitu juga yang terjadi di rumah Sania. Kesibukan juga terlihat jelas disana. Banyak tetangga yang merasa terkejut tentang berita lamaran tersebut. Namun mereka juga bersyukur dan mendoakan yang terbaik untuk Sania dan Raja.


Hingga saatnya acara lamaran pun hampir tiba. Keluarga Raja dan beberapa tetangga sudah bersiap diri berangkat menuju rumah Sania.


"Kamu kenapa, Ja? gugup?" tanya saudara Raja saat melihat sikap Raja yang terlihat tidak tenang.


"Nggak dong, ngapain gugup," kilah Raja dan tentu saja hal itu membuat saudara yang melihatnya malah terkekeh.


"Orang kelihatan tegang gitu kok pake nggak ngaku," cibir saudarnya dan Raja hanya mencebikkan bibirnya tanpa mau membalas ucapan saudaranya.


"Apa semuanya sudah siap? Kalau sudah, kita berangkat sekarang," ucap Abdul dan semuanya hampir serentak menjawab sudah. Dan Raja beserta rombongan pun akhirnya berangkat.


Begitu masuk, mata Raja langsung terpaku pada sosok wanita yang dirias sederhana yang sedang berjabat tangan dengan anggota keluarga Raja yang perempuan.


"Ngapain kamu bengong disini? Ayo masuk," ucap suaminya Jani sembari menepuk pundak Raja karena merasa terhalangi jalan masuknya akibat dari Raja yang terpaku di tengah pintu masuk


"Eh iya, Bang," balas Raja gugup. Dia pun segera saja melangkah masuk.


Setelah semuanya masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan serta berbasa basi sejenak, acara inti malam itu pun akhirnya dilaksanakan. Tanpa banyak pertimbangan mereka saling setuju dan memberi restu untuk Raja dan Sania.


Sebelum acara penyematan cincin di jari masing masing, mereka juga langsung membahas rencana tanggal pernikahan Raja dan Sania. Pembahasan ini terjadi cukup alot. Dengan seenaknya Raja meminta pernikahan dilaksanakan satu minggu setelah acara lamaran. Tentu saja keluarganya dan keluarga Sania langsung menyorakinya. Banyak yang sangat gemas dengan tingkah Raja malam itu.


Setelah saling nego dan dengan bujuk rayu serta alasan alasan yang diberikan orang tua, akhirnya pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi. Raja pun dengan bibir menyerucut akhirnya mau menerimannya.


Pembahasan tanggal pernikahan pun selesai. Kini saatnya penyematan cincin dijari manis Raja dan Sania. Senyum Raja terkembang saat Sania datang mendekat. Sebab dari tadi, Sania memilih duduk di ruang tengah bersama para perempuan lain.


"Mandangin Sanianya entar lagi, Ja. Sekarang pasang cincin dulu," celetuk Amar hingga Raja tergagap dan salah tingkah.


Dengan cengengesan Raja pun langsung merogoh sakunya. Dan Raja tercekat. Berkali kali dia memasukan tangan ke saku celananya dan dia tidak menemukan apa apa.


"Aduh ini cincin dimana? Kok nggak ada?" gumamnya panik.


...@@@@@...