Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 18



Wajah bahagia sang juragan empang benar benar jelas sekali terpancar. Bahkan saat dirinya sedang melajukan motornya menembus malam setelah pulang dari rumah gadis impiannya. Senyumnya terus terkembang. Meski Raja seorang pendosa, tapi tak lupa dia memanjatkan rasa syukur karena kali ini dia diberi jalan agar bisa lebih dekat dengan Sania.


Hasrat cintanya yang dia pendam hampir enam tahun lamanya, kali ini akan dia tuntaskan. Dia harus berhasil memikat dan meruntuhkan dinding kebencian yang Sania bangun akibat ulahnya dulu.


Saat Raja sedang asyik menikmati perjalanannya, matanya menangkap segerombolan orang yang sedang berkumpul di sisi jembatan jalan yang menuju rumahnya. Raja pun mendekat ke arah sana.


"Kalian lagi pada ngapain?" Tanya Raja begitu motornya berhenti.


"Eh ada juragan! Bakal seru nih acaranya!" Seru salah seorang dari gerombolan tersebut. Mereka segera saja berbaur dan menyambut sang juragan dengan ramah dan bersahabat.


"Lagi pada kumpul nih, Gan. Mau lihat dangdutan di kampung sebelah." Ucap yang lain.


"Iya, Gan. Pasti juragan bakalan nonton kan? Seperti biasa, kita pesta." Seru yang lain juga dan mereka serentak bersorak dan mengeluarkan suara masing masing mendukung Raja agar ikut dengan mereka.


Raja hanya menyunggingkan senyum. Namun dibalik senyum itu, hatinya tiba tiba gundah dan bergejolak. Di satu sisi dia ingin ikut nonton dangdutan dengan mereka, namun di sisi hati yang lain, entah kenapa dia tiba tiba merasa gundah. Apalagi dia teringat kejadian saat dia berada di rumah Sania. Dia masih terngiang dengan ucapan Sania yang sangat halus namun menohok keluarga Danu. Hatinya tersentil. Meski dia sering di hina oleh beberapa warga, bahkan dia sering menjadi bahan gunjingan. Namun dia tidak bakalan siap jika wanita pujaannya juga akan ikut menyentil hatinya. Siapapun orangnya tidak pernah ingin di hina oleh orang yang sangat spesial di hatinya, begitu juga dengan Raja. Jika Sania tahu malam ini dia kembali mabuk mabukan, bisa dipastikan Sania pasti akan semakin menjauh. Sedangkan Raja sudah terlanjur mengajukan diri belajar mengaji. Tak terbayangkan kecewanya Sania jika tahu.


"Maaf, sepertinya aku malam ini tidak bisa ikut. Badanku lagi nggak enak banget" kilah Raja beralasan. Seketika semuanya serentak mengeluarkan suara yang menandakan mereka keberatan dan sangat menyayangkan Raja tidak turut andil.


"Ayo lah, Gan! Nggak seru kalau nggak ada juragan!"


"Iya, Gan. Ayolah ikut! Aku yakin badan juragan bakalan sembuh kalau kita berpesta."


Mereka saling sahut memaksa sang juragan untuk tetap ikut. Raja memutar otak. Kali ini dia benar benar tidak ingin bergabung dengan mereka. Semangatnya yang biasa bergelora tiap ada dangdutan, saat ini benar benar tidak berselera. Pikirannya terus tertuju pada sikap dan ucapan Sania pada keluarga Danu.


"Beneran, malam ini aku tidak bisa ikut kalian. Badanku benar benar tidak enak badan. Maaf ya? Ya udah, aku pulang dulu. Aku ingin cepet cepat sampai kamar. Udah nggak karuan." Ucap Raja dan kali ini dia benar benar tidak goyah pendiriannya seperti biasanya.


"Yah! Nggak asyik ah! Biasanya juga ikut." Keluh seseorang dan di sahut oleh yang lain.


"Beneran, nggak bisa ikut. Ya udah, aku pulang dulu." Pamit Raja. Dia segera menyalakan motornya dan meninggalkan orang orang itu yang masih mencoba menahannya.


Raja merasa lega meski dirinya merasa aneh dengan sikapnya. Karena tidak biasanya dia menolak pesta mabuk. Kali ini benar benar beda. Hatinya begitu tenang berhasil menolak ajakan barusan. Bibirnya kembali menyunggingkan senyumnya.


Tak lama kemudian motor yang dia kemudikan telah sampai di halaman rumahnya. Matanya tertegun saat matanya melihat di teras rumahnya kedua orangtuanya nampak sedang berbincang dengan perempuan berjilbab. Dengan dahi berkerut Raja turun dari motornya kemudian beranjak menuju teras.


"Tuh, Raja." Tunjuk Ibu dan perempuan itu menoleh dengan tersenyum riang. Raja sedikit tercengang saat dia tahu siapa wanita berjilbab itu.


"Pipit?"


...@@@@@...


Hai hai hai, juragan empang menyapa nih? gimana puasanya? lancarkan? semoga semua tetap dalam keadaan sehat dan baik baik saja. terimakasih yang sudah setia mendukung kisah bang Raja. Tanpa kalian, apalah arti tulisanku ini. dan semoga kalian juga tidak bosan untuk memberi dukungan berupa vote, like, gift dan komentar. maaf othornya lagi jarang berinteraksi, ada kesibukan lain yang memecah kefokusan. Makasih.