
"Bah, kok mobil Raja tidak ada? Apa dia pulang duluan?" tanya Amar yang baru pulang dari jalan jalan bersama istri dan anaknya.
"Nggak, lagi ke pantai dengan Sania," balas Abah yang saat itu sedang membalas pesan chat grup pengajiannya.
"Maksud Abah? Sania pergi berdua dengan Raja?" tanya Amar memastikan.
"Iya, emang kenapa?" tanya Abah sedikit mendongak dan menatap anaknya.
Amar pun seketika terbahak. "Kok Sania berani, Bah? Biasanya juga sebel jika deket deket Raja?"
"Ya mana Abah tahu, orang nyatanya mereka pergi berdua. Itu aja Sania yang ngajak," jawab Abah. Matanya kembali fokus menatap ponsel.
"Apa?" pekik Amar syok dan lagi lagi dia terbahak. "Wah! Adikku sudah ada kemajuan. Baguslah."
"Bagus sih bagus, tapi kan mereka pergi hanya berdua, apa kalian nggak khawatir?" tanya tante hindun saat keluar dari ruang tengah.
"Kalau aku sih percaya sama Raja. Dia pasti bisa jaga diri dan jaga Sania." balas Amar dan jawaban itu mewakili isi hati Abah.
Abah Mudin juga percaya dengan Raja. Sebejat bejatnya Raja, dia masih tahu batasannya dengan wanita. Selama mengenal Raja, belum pernah sekalipun Abah mendengar cerita tentang Raja yang suka main perempuan. Hal itu yang membuat Abah percaya pada Raja.
Sementara rasa bahagia sedang dirasakan seorang pria dalam perjalanan menuju ke pantai. Pria bernama Raja itu sama sekali tidak menyangka, keikut sertaannya pergi ke Kebumen malah mendapat kesempatan bisa berduaan dengan Sania seperti saat ini.
Bagi Raja, mungkin ini adalah buah dari kesabarannya selama ini dalam mengejar dan meraih hati wanita yang duduk di sebelahnya. Dulu, jangankan duduk berdua, Sania melihat wajah Raja langsung lari dan bersembunyi. Belum lagi sifat galak dan dinginnya Sania, sering membuat Raja harus bisa menahan sabar lebih kuat lagi.
Tapi sekarang, sikap Sania sudah banyak berubah. Sudah mau menyapanya, mengajak ngobrol, berbalas pesan chat, bahkan dengan sadar Sania mengajak Raja pergi ke pantai hanya berdua. Meski menurut alasan Sania agar Raja tidak suntuk, namun hal itu cukup membuat Raja tersentuh.
"Besok Umi sama Abah ikut pulang, mobilnya kira kira muat nggak, Bang?" tanya Sania memecah keheningan selama dalam perjalanan.
"Ya muatlah, Dek. Untung aku kepikiran pake mobil ini. Coba kalau pake mobil yang satunya, lima orang pun nggak bakalan masuk." balas Raja. Sesekali dia menoleh ke arah Sania.
"Maaf ya, Bang. Ngrepotin mulu," ucap Sania merasa tak enak hati.
"Apaan sih dek. Biasa aja kali. Toh, Abang senang melakukannya," balas Raja.
"Kita duduk dimana nih, Dek? Rame gini?" tanya Raja begitu mereka keluar dari mobil setelah mobil terparkir sempurna.
Sania pun mengedarkan pandanganya dan memang benar hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. "Kita jalan jalan aja dulu, Bang, gimana?"
Tanpa perlu berpikir lagi, Raja pun langsung mangangguk. "Ayo, Dek!"
Dan langkah mereka pun akhirnya beranjak menuju bibir pantai. Mungki karena udara yang sangat cerah jadi sore ini banyak pengunjung di pantai tersebut.
Raja dan Sania berjalan beriringan. Mata mereka pun dimanjakan deburan ombak serta jerit para pengunjung anak kecil yang nampak bahagia bermain air dan pasir.
Menyusuri pantai dengan orang yang istimewa memang rasanya beda. Lebih membahagiakan. Padahal di deket kampung Raja dan Sania juga banyak pantai. Namun baru kali ini mereka pergi berdua.
"Dek. Rencana dedek untuk buka toko hijab masih apa nggak sih? Kok kayak nggak ada kabar kelanjutannya?" tanya Raja.
"Ya masih lah, Bang. Namun Abang kan tahu sendiri keadaanya?" balas Sania dengan tatapan lurus ke arah gelombang pantai.
"Kan Abang pernah nawarin, kenapa kamu tolak?"
Sania pun tersenyum lebar lebar. "Tahu ah, Bang. Akunya yang nggak enak."
"Loh? Nggak enak kenapa? Kan Abang udah bilang kita bagi hasil. Eh malah terakhir kali Dedek marah," cibir Raja.
Sania pun terkekeh dan dia merasa tak enak hati saat teringat kejadian malam itu. "Gampang lah, Bang. Nanti aku pikirin lagi."
"Baiklah, ditunggu kabar baiknya loh."
"Iya" Dan mereka pun saling melempar senyum dengan hati berdetak lebih cepat dari biasanya.
@@@@@