
Mata Umi dan Sania saling pandang sejenak kemudian kembali beralih memandang ke arah pria yang lagi tersenyum di hadapan mereka.
Dalam hati Sania, dia benar benar tak habis pikir dengan sikap Raja. Banyak sekali pertanyaan tumbuh dalam pikirannya tentang sikap dan kelakuan Raja terhadapnya. Dan pada akhirnya Sania berpikir mungkin Raja sudah terbiasa melakukan seperti itu pada setiap wanita. Entah kenapa terpintas pemikiran seperti itu dalam benak Sania.
Tidak dipungkiri, Raja punya pesona yang menawan. Selain karena dia pemuda kaya yang ada di kampung, wajah Raja juga setampan artis artis ibukota.
"Emang kamu jadi buka toko hijab, San?" tanya Umi menatap anaknya.
"Ya kan baru rencana, Umi. Orang lagi ngumpulin modal dulu," balas Sania sembari mengambil dua kaos pilihan Raja untuk di kemas dan di hitung harganya.
"Nah daripada modal yang nggak tahu kapan terkumpulnya, bukankah mending kerja sama ya, Mi? Aku ikut nanam modal gitu? Soal hasil, kan bisa kita rundingkan, benar kan, Umi?" sambung Raja. kedua tangannya bersila diatas etalase yang tingginya hampir sedada. Dengan segala upaya dia berusaha mencari dukungan Umi Sarah.
"Iya sih, kalau ada jalan seperti itu ya bagus, tapi ya tergantung Sanianya juga mau atau tidak," balas Umi Sarah.
Saat Sania hendak membalas ucapan Umi, tiba tiba suara Abah terdengar. Membuat Sania mengurung ucapannya.
"Loh ada Raja," ucap Abah, "Ada perlu apa ini? Tumben main ke toko?"
"Ini, Bah. Mampir pengin beli kaos sama mau menawarkan kerja sama," balas Raja. Abah Mudin langsung mengerutkan keningnya mendengar ucapan terakhir Raja.
"Kerja sama?"
"Iya, Bah. Sania kan katanya ingin berjualan hijab dan aksesoris. Daripada kelamaan ngumpulin modal, bukankah lebih baik kita kerja sama? Aku ikut nanam modal gitu?" terang Raja.
"Baru rencana kok, Bah. Jangan terlalu di anggap serius. Lagian aku juga belum mikir mateng mateng. Masih banyak yang harus dipikirkan," ucap Sania.
Seandainya pantas, Sania benar benar ingin meneriaki Raja dengan berbagai umpatan dan makian. Bisa bisanya pria itu selalu mengambil kesempatan.
"Tapi kalau memang niat baik, jangan di tunda tunda, Dek. Semakin kamu berpikir maka semakin banyak keraguan yang kamu dapatkan. Kamu sudah memutuskan ingin buka usaha itu pasti sudah ada perencanaan kan?" tanya Raja. Dia benar benar tidak ingin melepaskan setiap kesempatan agar bisa lebih dekat dengan Sania.
"Udah udah, mending hal ini dibicarakan nanti di rumah," potong Abah saat melihat Sania hendak membalas ucapan Raja, "Bukankah nanti malam Sania masih ngajar ngaji kan?"
"Iya, Bah,"
"Baik, Bah. Ya udah, berapa harga kaosnya?"
"Seratus sepuluh ribu," jawab Sania.
Raja pun mengambil dompetnya dan mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah dan satu lembar warna biru kemudian dia serahkan ke Sania. Setelah transaksi selesai, Raja pun pamit undur diri. Dia beranjak ke arah motor yang diparkir tak jauh dari toko Sania. Tak butuh waktu lama Raja sudah melajukan motornya meninggalkan komplek pertokoan di luar pasar dengan perasaan suka cita.
Sedangkan di dalam toko, Sania memilih beranjak dan duuduk di depan toko bersama satu satunya karyawan di tokonya. Sedangkan dua perempuan yang tadi berada disana juga sudah keluar dengan membeli tiga potong baju.
"Mba, tadi laki laki yang beli kaos, itu namanya Raja ya, Mba?" tanya Vita, nama karyawan tersebut.
"Iya, Vit, kenapa?" balas Sania.
"Ganteng ya, Mba. Manis banget senyumnya," jawab Vita sambil tertawa ringan.
"Cielah! Kamu suka? Deketin sana,"
"Suka ya wajar lah, Mba. Ganteng gitu. Tapi untuk ngedeketin nggak berani aku, Mba. Pasti saingannya banyak," Kelakar Vita.
"Yah, biarpun saingannya banyak, kalau emang jodoh, pasti dapat kok, Vit. Coba aja dulu?"
"Nggak lah, Mba. Nggak mau. Lagian udah jelas banget kok kalau Raja suka sama Mba Sania," Ujar Vita sambil sedikit mengeluarkan tawanya.
"Apa? Sok tahu kamu, Vit,"
"Bukannya sok tahu, Mba. Tapi emang kelihatan banget kok kalau Raja itu suka sama Mba San. Tatapan Raja ke Mba San, benar benar tatapan penuh cinta,"
Deg
...@@@@@...