
Setelah urusan tolong menolong dengan Kyai Bahar selesai, Raja bergegas melajukan motornya menuju arah pulang. Ada perasaan lega dalam hatinya setelah dia meluapkan emosi pada Kyai Bahar. Entah kedepannya akan ada gosip seperti apa lagi, Raja tidak peduli.
Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga hari pernikahan Raja dan Sania sudah semakin dekat. Terlihat kesibukan sudah terasa di masing masing rumah yang akan segera melaksanakan momen sakral yang mereka harapkan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup pada salah satu anggota keluarga mereka yang akan menikah.
Berita tentang pernikahan Raja dan Sania tentu saja membuat satu kampung gempar. Kegemparan itu terjadi lantaran mereka tahu siapa Abah Mudin dan Pak Abdul. Sama sama keluarga terpandang di kampung karena sifat baiknya yang mereka miliki.
Mereka juga tidak pernah menyangka, Raja yang pemabuk berat bisa menikah dengan putri ustazd ternama di kampungnya. Banyak yang ikut mendoakan untuk kebaikan sang calon pengantin. Namun tak sedikit pula yang berpikiran buruk tentang keduanya.
Apa lagi desas desus yang mereka dengar kalau Raja sudah menyiapkan lima petak empang buat mas kawin serta satu ruko, cukup membuat heboh warga yang mendengarnya. Banyak para orangtua dan anak gadis yang iri dengan apa yang mereka dengar.
Belum lagi acara yang akan digelar, juga menjadi pembicaraan hangat para warga di berbagai tempat. Konon katanya, Raja pribadi menyebar undangan lebih dari tiga ribu lembar. Undangan yang sangat banyak untuk seukuran hajatan di kampung.
Wajar jika Raja menyebar undangan begitu banyak. Mengingat nama Raja cukup terkenal di kampung tersebut dan kampung sekitar. Selain sebagai juragan empang, Raja yang loyal dan selalu menraktir miras saat sedang mabuk bersama membuat siapa pun merasa senang bergaul dengannya.
Tapi dibalik kehebohan acara tersebut, banyak yang menyayangkan, terutama para pasukan mabuk dan joget. Mereka yang kebanyakan para laki laki itu kecewa karena dalam acara besar yang Raja gelar, Dia tidak mengundang grup musik dangdut sama sekali. Sungguh mereka sangat kecewa dan merasa kehilangan sosok yang selama ini memberi mereka minuman memabukkan secara gratis.
Di saat para laki laki kecewa karena tidak ada dangdutan, tapi bagi para wanita itu adalah hal yang membahagiakan. Karena dari yang mereka dengar, keluarga Raja mengundang grup hadroh yang isinya pemuda tampan nan sholeh. Bukan hanya wanita muda, emak emak juga turut heboh. Mereka bahkan sudah menyiapkan rencana khusus demi bisa menyaksikan grup hadroh dari jawa timur tersebut.
Di kediaman Raja sudah jelas sekali kesibukannya. Di dapur dan halaman belakang sudah terlihat beberapa ibu ibu tetangga turut membantu guna menyiapkan keperluan jamuan. Di depan rumah juga tukang tenda sedang sibuk memasang tenda hajatan.
Raja nampak duduk santai diruang tamu yang kursinya sudah di pindah ke ruang belakang rumah yang kosong. Dia nampak sedang ngobrol dengan dua anak buah sekaligus sahabatnya tersebut.
"Undangan sudah kesebar semua kan, To?" tanya Raja setelah menyeruput kopinya.
"Loh? kok bisa?"
"Ya kan mereka ada yang merantau, Gan. Ada juga yang sudah menikah dan pindah tempat tinggal." terang Anto.
"Oh, iya yah. Ya udah nggak apa apa yang penting undangan tetap dikasih, kan?"
"Tentu dong, Gan."
"Terus kamu sendiri gimana, Kir? Tuntas semua?" tanya Raja pada anak buahnya yang sedang sibuk main ponsel.
"Sudah, Gan. Sama kayak Anto. Beberapa orang nggak ada di rumahnya," balas Kirno tanpa menoleh sedikitpun.
"Baiklah. Yang penting semuanya beres. Biar besok udah fokus sama acara saja." balas Raja dan kedua sahabatnya pun menangguk.
Di rumah Sania, kesibukan juga sudah mulai terasa. Beberapa ibu ibu tetangga turut membantu di dapur.
Acara pernikahan Sania dan Raja digadang gadang sebagai acara paling mewah dan besar di kampung mereka.
...@@@@...