
Danu sekeluarga terperangah dengan jawaban Abah Mudin. Tentu saja mereka terkejut dengan apa yang mereka dengar dan itu memang jauh dari ekspetasi mereka.
"Kenapa keputusan ada ditangan putri Abah? Bukankah lebih baik Abah yang memutuskan? Lihat! Di kampung saya tidak ada pria sebaik putra saya loh, Bah?" Tanya Danu bertubi tubi namun masih dengan nada sombongnya.
Raja tersenyum sinis mendengar kesombongan dan kepercayaan diri pria paruh baya itu. Sedangkan anak yang dibanggakan hanya terdiam sembari ikut menyunggingkan senyum jumawanya mendengar perkataan sang ayah.
"Kan yang menjalani perjalanan rumah tangga nanti putri saya, Pak. Saya tidak bisa menentukan masa depan putri saya. Sebaik apapun putra Pak Danu, kalau mereka tidak berjodoh, bagaimana?" Ucap Abah Mudin dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan orang.
"Maka itu, Bah. Bukankah tujuan ta'aruf itu memang untuk saling mengenal dan mencoba mendekatkan. Urusan jodoh atau tidak terserah nanti keduanya bagaimana. Namun saya yakin. Putri Abah pasti cocok dengan putra saya yang ilmu agama dan pendidikannya seimbang dengan putri Abah." Balas Danu dengan sangat yakinnya.
"Bah, kenapa Sania tidak dipanggil saja? Biar nanti dia yang memutuskan. Daripada berdebat seperti ini nggak akan ada ujungnya?" Usul Raja akhirnya bersuara. Sedari tadi dia diam karena dia mengangap percuma berbicara dengan orang yang sombong, pasti hanya ada hinaan yang keluar dari mulutnya yang membanding bandingkan kehebatan yang ada pada dirinya.
"Baiklah, sebentar, saya panggil Sania." Ucap Abah menyetujui usul Raja dan semuanya nampak lega dengan keputusan Abah barusan. Pria paruh baya itu bangkit dan beranjak masuk ke dalam rumah.
"Kamu masih berharap putri Abah Mudin memilihmu? Cih! Mana mau dia dengan pria sepertimu?" Ucap Danu begitu tubuh Abah Mudin tenggelam di dalam rumah.
Raja hanya menyunggingkan senyum sinisnya. Dirinya terlalu malas menghadapi orang orang seperti Danu. Makin diladeni pasti makin menjadi.
"Iya, Nak Raja. Mending kamu pulang. Nanti yang ada kamu kecewa dan sakit hati melihat kenyataan di depan kamu." Istri Danu ikut ikutan bersuara. Zikri juga sama sama menyunggingkan senyum jumawanya seperti yakin bakalan berhasil dengan misinya.
Raja tetap duduk tenang. Dia benar benar tidak memghiraukan ucapan suami istri di dekatnya.
Tak lama kemudian Abah pun terlihat keluar disusul Umi Sarah dan juga Sania. Abah duduk di tempat semula. Zikri mencoba mengambil simpatik dengan berdiri dan menyerahkan kursi yang dia duduki ke Umi sarah kemudian dia menatap Sania penuh arti.
Sania hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis. Sedangkan Raja hanya bisa mendengus melihat Sania tersenyum pada pria lain meski hanya sesaat. Cemburunya memenuhi relung jiwanya. Selama ini Sania tak pernah menampakkan senyum kepadanya sekalipun sejak kejadian Raja mencium bibir Sania secara paksa. Sejak saat itu sikap Sania terhadapnya begitu ketus dan galak. Namun sikap Sania semakin membuat Raja bersemangat mendekatinya hingga detik ini.
Melihat Sania menuruti ucapannya, Raja menyunggingkan senyum termanisnya sedangkan Danu menampakkan wajah tak sukanya.
"Bagaimana nak Sania, apa Abah sudah memberitahu tujuan kami kesini?" Tanya Danu merasa tak sabar.
"Iya, Abah sudah memberi tahu tujuan Pak Danu kesini tadi." Balas Sania dengan lembut dan terlihat ramah.
"Terus keputusan nak Sania bagaimana? Nak Sania pasti tahu kan kualitas putra saya?" Tanya Danu lagi hingga membuat kening Sania berkerut. Dia merasa heran dengan ucapan Danu barusan. Mata dan hatinya menangkap kesombongan dari sikap dan ucapan keluarga tersebut.
Sebelum menjawab, Sania melayangkan tatapannya kepada Umi dan Abah dan kedua orangtuanya hanya mengulas senyum lembutnya sebagai petunjuk kalau semua keputusan ada ditangan putrinya.
Sedangkan Raja yang berdiri di belakang Sania mendadak jadi gelisah. Dia juga tidak sabar menunggu jawaban dari perempuan yang selama ini dia harapkan.
"Bagaimana nak Sania? Apa keputusan, nak Sania tentang niat baik kami?" Desak Danu sekali lagi.
Sania menghela nafasnya menatap orang orang dia hadapannya kemudian dia mengulas senyum dan berkata.
"Putra Pak Danu memang putra terbaik di kampung ini." Ucap Sania membuat Danu sekeluarga merasa di atas awan.
"Namun maaf, saya belum bersedia menerima niat baik Pak Danu."
"Apa!"
...@@@@@...