Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 12



Ustad Mudin tertegun. Di tatapnya Pria muda di hadapannya dengan tatapan tajam dan menyelidik. Dahinya berkerut menandakan banyak pertanyaan yang tumbuh dalam pikirannya.


Wajar jika Ustad Mudin mencurigai sesuatu. Bagi dia, permintaan Raja di bilang sangat aneh. Dan juga mengingat kelakuan Raja tempo dulu hingga membuat Sania tertekan dan memilih pergi ke pondok.Maka itu, Ustad Mudin menggunakan peristiwa itu menjadi sebuah pertimbangan. Di tambah lagi, Raja terkenal suka pesta miras dan hura hura. Hal itu menjadi nilai minus bagi Raja.


"Kenapa meminta anak saya yang ngajarin kamu? Kan masih banyak guru ngaji lain yang lebih baik dan juga guru ngaji yang laki laki banyak." Tanya Abah mencoba menyelidiki.


"Karena aku lihat cara ngajar Sania tuh nyaman dan mudah di mengerti, Bah." Jawab Raja yakin.


"Cara ngajar? Darimana kamu tahu?" Tanya Abah semakin penasaran.


"Kan dia tadi sore ngajar ngaji keponakanku Bah, di TPQ Al Istiqomah. Dan kebetulan aku tadi lihat dia ngajar. Terus dia juga tadi mengoreksi cara baca Al Qur'an pada adikku dan dia bersedia ngajar adikku, maka itu aku mau ikut sekalian." Terang Raja panjang lebar dan Ustad Mudin hanya manggut manggut tanpa bersuara.


"Apa kamu yakin? Kamu ingin belajar? Bukan ada tujuan lain?" Terka Abah dan tentu saja sebenarnya terkaan itu benar adanya. Raja sengaja ingin belajar mengaji biar bisa dekat dengan Sania. Dari dulu dia tidak pernah mempunyai alasan agar bisa dekat dengan anak ustad Mudin dan sekarang dia gunakan kesempatan yang ada agar bisa dekat dengan Sania.


"Ya saat ini memang niatku ingin belajar, Bah. Tapi hari esok kan kita nggak tahu. Bukankan takdir itu misteri, Bah?" ujar Raja dengan penuh percaya diri. Ucapannya memang benar. Apa yang terjadi setelah ini memang tidak ada yang tahu.


Dan seorang Ustad Mudin tidak ingin berburuk sangka terlalu jauh dengan pria di hadapannya meski pria itu selalu menghadirkan tingkah buruk tapi Ustad Mudin tahu, ada sisi baik dari seorang Raja. Hal itu di buktikan dengan usaha orang tua Raja yang makin berkembang pesat setelah anaknya turun tangan. Dulu Pak Abdul hanya memiliki lima empang tambak bandeng. Namun begitu Raja turun tangan, sekarang ada puluhan empang tambak bandeng dan udang.


"Baiklah, Abah setuju kalau Sania ngajari kamu ngaji. Tapi ingat, Abah tidak mau ada hal buruk lagi yang menimpa anak saya gara gara ulah kamu." Ucap Abah akhirnya membuat Raja girang.


"Siap, Bah. Lagian kan ngajarnya bukan aku saja, Bah. Ada adikku juga." Balas Raja yakin.


Disaat Raja dan Abah masih melakukan obrolan tiba tiba dari arah gerbang ada dua motor masuk. Motor satu dikendarai laki laki dan seorang perempuan duduk di jok belakangnya. Sedangkan motor kedua dikendarai satu pria seumuran Raja. Abah dan Raja sama sama mengerutkan dahinya memandang kedatangan tiga orang tersebut.


"Assalamu'alakum, Bah." Sapa seorang pria yang terlihat seumuran dengan Ustad Mudin begitu dia turun dari motornya di susul yang lain bersamaan memberi salam.


"Ada angin apa nih, Pak Danu? Tumben tumbenan berkunjung kesini malam malam." Tanya Abah setelah menjawab salam.


"Iya nih, Bah. Aku sengaja ngajak istri dan anak saya buat silaturahmi kesini, Bah." Jawab Pak Danu.


Mata Raja memandang tajam ke arah tiga orang tersebut dan matanya terpaku pada pria yang usianya sama dengan dirinya. Pria itu terlihat sangat berwibawa. Tiba tiba firasat Raja menjadi tidak enak dengan kehadiran ketiga tamu tersebut terutama sang pria muda.


"Eh ada juragan empang, Lagi ngapain di sini, Gan?" Tanya Pak Danu.


"Lagi silaturahmi juga ni, Pak." Jawab Raja asal.


Pak Danu dan keluarga duduk di kursi yang juga tersedia di teras. Raja bergeser duduk di dekat Ustad Mudin.


"Ini tumben bener kalian pada kesini malam malam? Sekedar silaturahmi? Apa ada tujuan lain?" Tanya Abah langsung tanpa bada basi seperti biasanya.


"Iya, Bah. Kita sengaja kesini dengan niat baik kok, Bah." Jawab Danu dengan senyum ceria.


"Niat baik? Niat baik apa?" Tanya Abah penasaran.


"Ini, Bah. Saya kesini hendak meminta pada Abah mengijinkan putra saya untuk ta'arufan dengan putri abah."


"Apa!"


...@@@@@...