
Sepanjang perjalanan Raja terus mengulum senyum memperhatikan wanita yang sedang melajukan pelan motornya di hadapannya. Entah apa yang akan dia lakukan kali ini sehingga dia pemikiran pergi ke pasar mengikuti wanita pujaannya.
Sedangkan sang wanita yang merasa sedang diikuti, benar benar tidak bisa berbuat apa apa lagi. Jengah, sudah pasti. Namun untuk menolak pria berambut gondrong dibelakangnya, seakan Sania tudak punya daya untuk melakukannya. Bukan karena dia suka diperlakukan seperti itu, namun dia tahu pria yang dikenal dengan sebutan juragan empang itu pasti akan tetap teguh pada pendiriannya untuk mewujudkan kemauannya.
Lagi lagi Sania dibuat heran dengan tingkah Raja. Hingga sampai pasar pun, Raja masih mengikutinya. Bahkan sampai Sania tiba di depan toko, Raja ikut serta menghentikan motornya.
"Katanya kamu mau ke pasar?" tanya Sania begitu dia turun dari motornya.
"Lah iya, ini kan pasar," balas Raja dengan entengnya. Dia pun melakukan hal yang sama. Ikut turun dari motornya.
"Terus ngapain berhenti disini?"
"Ya ampun, Dedek! Ini kan sama aja tetap menuju pasar. Tuh, sebalah toko kamu juga jalan masuk ke pasar kan?" tunjuk Raja dengan memperlihatkan senyum jahilnya. Senyum menyebalkan dimata Sania.
"Ya udah sana masuk ke pasar! Ngapain masih disini," sungut Sania.
"Lah? Malah ngusir? Bukankah aku disini karena menjawab pertanyaanmu ya, Dek?" Sania terkesiap dan wajahnya semakin terlihat kesal begitu mendengar jawaban pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Tahu ah! Lama lama aku bisa darah tinggi ngadepin kamu," berang Sania lalu dia berbalik badan melangkah menuju ke dalam tokonya. Namun setelah beberapa langkah masuk ke dalam toko, wanita itu membalikan badanny lagi, "Kenapa malah ikutan masuk ke toko?"
"Astaga, Dedek! Orang aku mau lihat lihat baju di sini, kali aja ada yang cocok," jawab Raja dan dia langsung melenggang meninggalkan Sania yang menggeram menahan kesal. Dia pun segera melangkah menuju meja kasir dimana Umi sedang memperhatikan keduanya sejak tadi.
"Wajahnya kenapa masam gitu?" tanya Umi pura pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada putrinya.
"Tuh, anak tante Lastri, ngeselin banget," tutur Sania sembari meletakkan tas dan bekal dalam rak di bawah meja kasir. Di lihatnya, Raja sedang berdiri sambil melihat lihat koleksi kaos yang tergantung di hadapannya.
"Ya jangan kesel kesel gitu, kali aja Raja kesini membawa rejeki buat kita," ujar Umi sedikit menasehati.
"Tadi sih pamitnya ke masjid pasar, lagi ngobrol mungkin di sana, kayak nggak tahu Abahmu aja, San," Sania hanya tersenyum mendengar jawaban sang ibu yang sedikit pedes.
Sementara di sisi lain, Raja sebenarnya tidak sedang fokus memilih kaos. Tangan dan matanya memang sibuk memperhatikan satu persatu koleksi kaos yang ada, namun pikirannya justru mengarah pada bagaimana agar dia bisa lama di dalam toko Sania dan mengutarakan maksud tentang rencananya semalam. Raja benar benar sedang berpikir keras.
Di toko milik orang tua Sania, hanya mempekerjakan satu perempuan yang bertugas melayani dan membantu serta mengawasi pembeli. Meski di toko tersebut sudah terpasang cctv, namun mereka juga tetap butuh seseorang untuk ikut mengawasi. Terlihat di sisi yang lain, perempuan itu sedang menemani dua perempuan yang sedang berada di deretan koleksi pakaian khusus perempuan.
Sejak ada Sania di rumah, tugas Abah dan Umi menjadi lebih ringan karena baik di rumah maupun di toko, Sania bisa di andalkan. Namun mereka juga tidak akan mengekang keinginan Sania jika anaknya ingin punya usaha sendiri. Wajar, wanita seusia sania, pasti ingin berpenghasilan sendiri dan sudah malu selalu mendapat jatah dari orang tuanya.
Saat Sania dan Umi sedang asyik bercengkrama, tiba tiba obrolan mereka terhenti saat Raja menghampiri mereka dengan menenteng dua buah kaos.
"Aku ambil dua kaos ini, Mi," ucap Raja begitu sampai di depan meja dimana Umi dan Sania duduk di seberangnya. Seketika Sania berdiri dan mengambil alih kaos tersebut untuk di kemas.
"Cuma kaos doang? Nggak nambah lagi? Celana mungkin atau apa?" tawar Umi.
"Gampang, Mi, ntar kalau butuh juga kesini lagi, Ya Dek," Balas Raja. Sedangkan Sania hanya mencebikkan bibirnya.
"Oh iya, Umi, Sania sudah ngomong belum sama Umi tentang rencana aku sama dia semalam?" sambung Raja tiba tiba. Dan pertanyaan itu membuat Sania serta Umi melipatkan dahi mereka.
"Rencana? Rencana apa, Nak?"
"Aku dengan Sania mau kerja sama membuka toko hijab dan aksesoris, Mi. Kita sudah membicarakannya semalam, gimana menurut Umi?"
"Apa!"
...@@@@@...