
"Lagi lagi ada wanita tak tahu malu, huft," keluh Raja begitu dia turun dari motor. Dengan malas dia melangkah menuju teras. Di sana sudah ada Rumi dan Jani yang duduk menemani seorang gadis yang sangat tidak ingin Raja temui.
Sementara itu wanita yang menjadi tamu di rumah Raja, menatap pria itu dengan sumringah. Senyum termanis dia layangkan kepada pria itu. Namun sayang, wanita itu harus menelan kekecewaan. Jangankan menatapnya, Raja sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Wanita itu juga menatap tajam ke arah perempuan yang menggandeng anak kecil. Terlihat sekali kalau tatapan itu, tatapan tidak suka yang dia layangkan.
"Kok baru pulang? Fatar darimana saja?" tanya Jani setelah membalas salam yang Sania dan Fatar ucapkan.
"Abis jajan, Mah. Fatar kepengin jus," balas Fatar sambil meminta jus miliknya yang masih dipegang Raja.
"Tapi itu kok Mbak Sania megang permen kapas?" tanya Rumi.
"Iya, tadi pas Bang Raja nungguin jus, Fatar malah pengin beli ini, tadi aja udah habis satu permen," ucap Sania.
"Loh? Jangan makan permen banyak banyak dong nak. Entar giginya ompong loh," ucap Jani menasehati sang anak yang sedang bergelayut manja kepadanya.
"Itu kan yang satu buat ustadzah, Mah. Bukan buat Fatar," Mata Sania sedikit membulat mendengar jawaban Fatar.
"Loh, kok ustadzah? Kan Fatar tadi yang minta beli dua?" protes Sania.
"Ya kan buat Fatar satu, Ustadzah satu, gitu. Biar adil," Semuanya pun tergelak mendengar ucapan Fatar kecuali satu wanita yang memasang wajah cemberut karena merasa di cuekin.
"Astaga! Ni anak ada ada aja," balas Rumi gemas. Tangannya langsung mencubit pipi Fatar.
"Ehem ehem! Sepertinya seru banget nih ngobrolnya, sampai nggak nyadar ada orang lain di sini," ucap Wanita tiba tiba hingga yang lain terperangah menyadarinya.
"Eh sorry, Nik. Aku lupa kalau disini ada tamu," balas Rumi asal. Padahal dia sama sekali tidak lupa tapi Rumi memang tidak suka dengan wanita itu.
"Ya udah, Ayok Dek masuk, bentar lagi mau maghrib," ajak Raja pada Sania. Nunik semakin terperangah mendengar ucapan Raja barusan. Matanya menatap pria yang sama sekali tidak pernah menatapnya sedari tadi.
"Loh Bang Raja. Ada aku kok malah masuk?" protes Nunik merasa tak terima dengan sikap Raja.
"Yang menginginkan kamu datang ke sini siapa? Kalau tidak di inginkan kedatangannya harusnya tahu diri," ucap Raja. Ada rasa perih yang Nunik rasakan mendengar jawaban Raja. Meski dia tahu sikap Raja memang selalu dingin dengan ucapan yang pedas.
Nunik memang sudah lama menyukai juragan empang. Berawal dari kecelakaan motor beberapa tahun lalu, rasa itu tumbuh begitu saja saat Raja memperlakukan dia dengan baik.
Dulu Raja tidak sengaja menyerempet Nunik di tengah jalan hingga Nunik terluka lumayan parah. Kaki Nunik sampai sampai retak. Sabagai bentuk rasa tanggung jawab, Raja pun bersedia ikutan merawat Nunik. Tapi sayang, hal itu dijadikan kesempatan Nunik untuk dijadikan alasan agar Raja terikat dengannya. Nunik bahkan sampai berdusta berbulan bulan kalau kakinya belum sembuh juga. Padahal kaki Nunik sembuh hanya dalam waktu dua bulan, karena retaknya tidak terlalu parah.
Niat Nunik malah di dukung oleh orang tuanya dimana dulu ayah Nunik menjabat sebagai kepala desa di kampung tersebut. Jelas sekali mereka pasti ingin mendapatkan menantu orang paling kaya di kampungnya. Apalagi beberapa tahun menjabat sebagai kepala desa, ayah Nunik terjerat kasus korupsi dana desa dari pemerintah. Kejadian itu pasti saja membuat orang tua Nunik harus mengembalikan besar dana yang dia pakai. Karena itu lah mereka menyetujui sang anak untuk menjerat Raja.
Beruntung Raja akhirnya tahu kebusukan Nunik dan keluarganya beberapa bulan kemudian saat Raja tak sengaja melihat Nunik dengan mudahnya berjalan santai. Murka lah Raja pada saat itu.
Namun entah kenapa, Nunik seakan tidak punya malu. Masih saja mengejar Raja sampai sekarang. Dengan alasan ingin menebus kesalahannya, dia selalu berusaha mencari cara untuk mendekati Raja.
"Ya seenggaknya hargai aku dong, Bang? Aku kan tamu, dan tamu adalah Raja," ucap Nunik.
"Rugi menghargai perempuan kayak kamu, yang ada entar malah dimanfaatin. Mending masuk ke dalam nunggu maghrib. Lebih baik kamu pulang saja sana. merusak suasana tahu nggak?" ucap Raja sambil berlalu masuk ke dalam rumah menggandeng Fatar.
...@@@@@...