Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 79



"Wah! Kamu benar benar paket lengkap, San. Udah cocok buat dijadiin istri seseorang tuh" puji Ibu hingga membuat Sania salah tingkah. Sedangkan Raja yang berada disana langsung tertegun mendengar ucapan ibunya.


Dengan dahi berkerut, Raja menatap perempuan yang sudah melahirkannya dengan hati bertanya tanya. Apa maksud ucapan ibu? Apa Ibu berharap Sania menikah dengan orang lain? Harusnya ibu mendukungku?


"Enggak lah tante, orang masih belajar. Masakanku nggak seenak masakan tante loh," ucap Sania membalas pujian Lastri.


"Ah kamu bisa aja, Nak. Tapi ngomong ngomong, kamu sudah punya calon belum, San?" tanya Ibu lagi sambil mengangkat mendoan yang sudah matang dari dalam minyak goreng.


"Untuk saat ini sih belum, tante," balas Sania malu malu.


Lastri menoleh sejenak memandang gadis yang berdiri tak jauh darinya. "Masa belum? Bukankah kemarin kemarin tante denger, Kyai Bahar datang ke rumah kamu, Yah?"


"Iya tante. Tapi Sania tolak," jawaban Sania sontak membuat Lastri terkejut. Namun Raja yang masih menguping di meja makan terlihat biasa saja sambil mengunyah rempeyek kacang yang ada di depannya.


"Kenapa di tolak? Bukankah anak Kyai Bahar anak yang baik?" tanya Lastri penasaran.


"Ya mungkin karena nggak jodoh, Tan. Bukankah kalau nggak jodoh pasti ada aja halangannya?" jawaban bijak Sania membuat Lastri mengerti. Raja pun secara tak sadar malah tersenyum.


"Menurut kamu, laki laki yang pas dengan kamu yang seperti apa, Nak? Apakah yang alim atau.." tanya Lastri lagi.


Sania menoleh. Sejenak dia menatap tante Lastri sembari tersenyum kemudian matanya mengarah ke tangan Lastri yang sedang memasukan tempe satu persatu yang sudah dibaluri tepung ke dalam minyak panas. Sementara di meja makan, hati Raja tiba tiba merasa berdebar. Dengan was was dia menunggu jawaban dari Sania.


"Laki laki yang pas denganku?" ucap Sania terjeda, membuat pria yang duduk di sana makin penasaran. "Aku sendiri kurang tahu, Tante. Aku nggak pernah pacaran."


Jawaban Sania membuat ibu dan anak itu tercengang namun hampir bersamaan keduanya tersenyum.


Di saat itu pula, Rumi terlihat keluar kamar sembari memegang ponsel. "Mbak Sania, ponselnya dari tadi bunyi terus nih. Kayaknya penting deh."


Sania pun menoleh dan menerima ponsel miliknya. "Oh. Makasih ya, Rum."


Sania langsung mengecek ponselnnya. Dahinya berkerut dan matanya sedikit membelalak saat membaca pesan chat. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un."


"Ada apa, San? Apa ada kabar buruk?" tanya Lastri.


"Ini tante, kata Abah, pakde aku meninggal dunia tadi pagi." Semua yang ada disana pun nampak kaget dan langsung mengucap kata yang sama yang tadi Sania ucapkan.


Begitu telfon terhubung, Sania langsung melempar pertanyaan kepada suara dari seberang sana. Dari nada bicaranya, kemungkinan itu Abah Mudin yang menerima telfon. Raja dan yang lain pun ikut mendengar apa yang Sania bicarakan hingga panggilan berakhir.


"Sepertinya aku mending pulang dulu tante. Aku harus bersiap siap buat pergi ke kebumen." ucap Sania dengan rasa khawatir dan sedih.


"Kamu kesana sama siapa? Trus naik apa?" tanya Lastri ikutan panik juga. Begitu juga Raja dan Rumi.


"Kalau ada ya kemungkinan naik travel Tante. Tapi aku akan ke rumah Mas Amar dan Mbak Airin dulu buat ngebicarain ini," balas Sania.


"Mending kamu sarapan dulu, baru pulang. Jangan pergi dengan perut kosong. Nggak baik," ucap Lastri memberi saran.


"Benar, Mbak. Nanti malah Mbak Sania sakit lagi karena terlalu khawatir," ujar Rumi ikut menimpali.


Sania pun tak sanggup menolak. Akhirnya dia memilih duduk dengan yang lain dan menyantap sarapan bersama keluarga Raja.


Raja terus memandangi wajah Sania yang nampak sedih. Sungguh Raja tak tega melihat kesedihan dimata gadis itu. Acara sarapan pun mereka lewati dengan suasana hening.


Tak butuh waktu lama, sarapan bersama pun selesai. Raja yang terus memperhatikan Sania, mendadak menemukan sebuah ide.


"Mending aku yang antar kamu ke kebumen, Dek. Biar cepet sampai sana, nggak perlu nunggu travel."


Sontak ketiga perempuan yang ada di meja makan tercengang mendengar usulan Raja.


...@@@@@...