
Setelah selesai sholat berjama'ah, Raja yang tadi pergi sejenak ke dalam kamar, kembali menuju tempat sholat dengan tangan kanan membawa Al Qur'an yang dia dekapkan di dadanya. Raja sengaja membeli Al Qur'an baru untuk memperlihatkan keseriusannya belajar mengaji kepada Sania.
Di tempat sholat tadi tinggal dua perempuan yang sudah berhadap hadapan dengan pembatas meja kecil dan Al Qur'an di atasnya. Rumi dan Sania sejenak mengernyitkan dahi saat Raja datang dan duduk di sebelah Rumi.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, biar aku lihat dulu," ucap Raja ketika dia membalas tatapan dua wanita tersebut.
Rumi dan Sania kembali fokus pada Al Qur'an yang sudah terbuka dihadapannya. Sania memilih surat surat dari juzz tiga puluh yang ayatnya tidak terlalu panjang dan mudah dipahami.
Sania memilih surat An naba sebagai sarana pembelajaran. Rumi pun dengan seksama membaca satu persatu ayat surat tersebut dengan pelan. Rumi sebenarnya sudah lancar dalam membaca Al Qur'an jadi Sania tidak kesulitan jika membenarkan apa yang masih salah. Seperti bacaan mana yang harus samar, yang harus jelas, yang harus mendengung ataupun tentang panjang pendeknya.
Sementara mata Raja terus menatap wajah ayu yang sedang fokus mengajari sang adik. Sesekali bibirnya tersenyum. Hatinya bersorak riang gembira. Raja tidak pernah menyangka mendapat kesempatan menatap wajah wanita idamannya sedekat ini. Saat mata Sania tiba tiba menatap ke arahnya, Raja langsung berpura pura memperhatikan Al Qur'an yang Rumi baca agar terlihat dia juga sedang fokus memperhatikan.
"Alhamdulillah, sebenernya kamu sudah lancar, Rum. Cuma kamu kurang fokus jadi kadang terlihat masih tergagap. Dipelajari ilmu tajwidnya ya?" ucap Sania begitu selesai membimbing Rumi.
"Wah! Makasih ya, Mba. aku pasti akan giat mempelajarinya," balas Rumi dengan riang.
"Sekarang giliranku?" tanya Raja.
"Iya lah," jawab Rumi. Sania hanya menggeser sedikit Al Qur'an hingga tepat berada di hadapan Raja.
"Pakai yang ini aja," usul Raja sambil menunjuk Al Qur'an yang tergeletak di hadapannya.
"Sama aja, yang itu taruh kamar, biar buat di baca sendiri dan belajar sendiri," tolak Sania dan Raja pun dengan senang hati menurutinya.
Seperti Rumi, Raja pun di suruh membaca surat An naba. Tidak seperti Rumi yang lantang dan lancar, Raja justru membaca ayat ayat tersebut dengan lirih dan ragu ragu sampai Rumi dan Sania tercengang melihatnya.
"Suaranya yang lantang dong!" protes Sania terdengar galak. Raja hanya nyengir kuda dan Rumi terkikik lirih.
"Grogi, Dek," ucap Raja.
"Teriak teriak saat mabuk aja nggak pernah grogi, masa baca Al Qur'an grogi," Raja hanya bisa nyengir kuda begitu di sindir sang guru cantik.
"Ih, menggemaskan banget sih," dumel Raja.
"Jangan galak galak dong, Dek," bukannya menuruti, Raja malah mengkritik sikap Sania. Namun sepertinya perempuan itu tidak peduli. Dia semakin mempertegas perintahnya dan mau tidak mau, Raja pun menurutinya.
Raja kembali membaca ayat ayat dan kali ini suaranya terdengar lebih keras. Sania menajamkan mata dan telinganya.
"Salah! Ini harusnya di idghom bighunah, kayak gini bacanya," Sania pun membaca ayat tersebut sesuai dengan apa yang di maksud idghom bighunah, dan Raja semakin terpana dengan apa yang dilihat dihadapannya. Sejenak senyum Raja tersungging. Namun saat mata Sania menatapnya tajam, Raja langung memindahkan pandangannya ke Al Qur'an kembali.
Sania pun menyuruh Raja mengulanginya. Dan dengan tuntunan Sania, ayat tersebut berhasil Raja lewati. Kini beralih ke ayat berikutnya.
Lagi lagi Raja melakukan kesalahan dan Sania juga tak putus asa memberi contoh membaca yang benar. Sedangkan Rumi sedikit sedikit terkikik melihat Raja yang berkali kali kena marah oleh Sania.
"Itu salah, ya ampun," tukas Sania mencoba menahan emosinya sedangkan pria di hadapannya berkali kali menyunggingkan senyumnya tanpa dosa.
"Masa kalah sama Fatar, Bang," ledek Rumi.
"Ya masih mending Abang lah, udah bisa baca huruf arab sambung." balas Raja sedikit sombong.
"Tapi masih banyak yang salah, ya sama aja bohong," tukas Sania ketus.
"Namanya juga belajar, ya wajar dong, Dek, banyak yang salah," ucap Raja membela diri.
"Aku kan sudah ngasih contoh, Abang Raja," ucap Sania gemas, "Ini tuh tanwin ketemu Syin harusnya bacanya Ikhfa, samar samar, Bukan di baca dengan jelas gitu,"
"Berarti kayak cintaku dong, Dek. Padahal sangat jelas ada dihatiku namun masih terlihat samar samar dimatamu,"
Sania terperangah mendengar ucapan Raja begitupun sang adik.
"Apa hubungannya?"
...@@@@@...