Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 61



Begitu keluar rumah, Raja dengan Kirno berjalan beriringan keluar Gang menuju motor mereka. Sedangkan Sania mengikutinya dari belakang. Melihat dua pria di hadapannya asyik mengobrol sendiri, Sania memilih memperlambat jalannya. Dia memijit lengannya yang lumayan pegal dan beberapa bagian tubuh lainnya. Meski tenaga Pipit tidak terlalu kuat, namun tetap saja menyisakan sedikit rasa nyeri.


Jarak langkah Raja dan Sania pun semakin jauh. Meski jarak dari rumah pak Rw hingga keluar gang tidak terlalu jauh, namun karena merasa di cueki, Sania memilih memelankan langkahnya.


Saat langkah kaki Sania tiba di luar gang, dia terkejut saat matanya menangkap sesosok laki laki yang duduk di jok motornya. Raja nampak sedang menunggunya. Bahkan tatapan Raja menukik tajam ke arah Sania hingga perempuan itu merasa grogi. Sania mengedarkan pandangannya untuk menetralkan suasana hati dan juga mencari laki laki yang tadi bersama Raja. Namun laki laki tidak terlihat disekitar sana.


"Kirno udah pergi," ucap Raja Sepertinya dia tahu apa yang Sania pikirkan. Dan perempuan itu hanya manggut manggut. "Sini kunci motornya?"


Sania mengerutkan dahinya, "Buat apa?"


"Biar aku antar kamu pulang, sekalian motor kamu nanti aku pinjam. Tadi aku kesini nggak bawa motor karena nebeng Kirno," Sania pun kembali manggut manggut kemudian dia menyerahkan kunci motor yang sedari tadi dia genggam.


Begitu menerima kunci, Raja langsung menghidupkan mesin motor dan memposisikan motor sesuai arah jalan yang akan dia tuju.


"Ayo, Naik!"


Sania pun menurutinya. Meski rasa heran masih bergelayut di hatinya, Sania sedikit merasa lega karena Raja sudah mau berbicara padanya. Tak butuh waktu lama motor pun melaju menembus jalan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Meksi diam, namun bibir Raja sesekali tersungging senyum. Seenggaknya dia punya alasan untuk mengeluarkan suara.


Sejak dia berpura pura marah ke Sania, Batin Raja jelas saja merasa tersiksa. Bahkan dia mati matian menjaga tingkahnya demi memberi hukuman kepada perempuan yang duduk di belakangnya saat ini. Raja juga merasa sedih dan tak enak hati. Gara gara dia, Sania malah kena imbas dari penolakan yang dia lontarkan pada Pipit. Dengan sangat geram, Raja bertekad akan memberi Pipit pelajaran.


Laju motor pun akhirnya sampai di halaman rumah Sania. Diteras rumah ternyata terlihat Abah Mudin sedang ngobrol dengan Umi Sarah dan mata mereka seketika memandang ke arah kedatangan kami.


"Loh loh loh! Ini kamu kenapa, San? Kok kusut gitu baju dan kerudungnya?" Ucap Umi begitu melihat penampilan sang anak.


"Assalamu'alaikum Umi, Abah," sapa Raja.


"Wa'alaikum salam, Ini Sania kenapa, Ja?" Tanya Umi.


"Maaf Umi, Sania begini gara gara aku," balas Raja.


"Bukan kok Umi, aku aja yang lagi apes," sanggah Sania,


"Maaf umi, semua ini gara gara aku kok, gini Mi," Raja pun menceritakan kejadian yang menimpa Sania. Umi dan Abah kembali terkejut saat mendengarnya. Umi dan abah pun beberapa kali mengucapkan istighfar atas keterkejutannya.


"Kamu diam aja apa gimana ditindas kayak gitu?" Tanya Abah pada sang anak.


"Ya enggak dong, Bah. Enak aja. Lagian aku nggak salah juga," balas Sania.


"Coba dari awal aku yang nganter kamu, Dek. Pasti kan nggak bakal kejadian hal kayak gini," ucap Raja merasa menyesal.


"Orang nggak ditawarin, masa iya aku yang minta? Ya nggak enak lah. Apa lagi aku lagi didiemin," Mendengar ucapan Sania yang mengandung sindiran seketika senyum Raja tersungging.


"Di diemin? Di diemin bagaimana maksudnya?" tanya Umi.


"Nggak ada maksud apa apa, Mi," balas Sania cepat.


Umi pun menatap tajam ke arah keduanya. Firasat orang tua merasakan kalau diantara Sania dan Raja pasti terjadi sesuatu.


"Kenapa Umi mandanginnya begitu amat?" ucap Sania yang merasa risih di tatap tajam oleh perempuan yang melahirkannya.


"Pasti ada yang kalian sembunyikan dari Umi dan Abah, yah?" terka Umi.


Mendengar terkaan Umi, Raja seketika tergelak dan Sania malah mendengus.


"Apa yang disembunyiin, Umi? Ada ada aja, ya nggak ada lah," sanggah Sania dengan bibir mengerucut. Namun sepertinya Umi tak percaya begitu saja. Dia masih menyelidiki lewat tatapannya membuat sang anak semakin kesal.


"Ya ampun, Umi. Orang nggak ada apa apa," lagi lagi Sania bersuara.


"Jangan jangan, kalian pacaran? Hayo ngaku?"


...@@@@@...